Sabtu, 19 Februari 2022

JURNAL REFLEKSI KE-9

 JURNAL REFLEKSI KE-9 

(7 Februari s.d 19 Februari 2022)

Setelah menyelesaikan paket modul ke-1 tentang Paradigma dan Visi Guru Penggerak dan libur selama satu bulan, kegiatan CGP dimulai kembali dengan kegiatan Paket Modul Ke-2 tentang Praktek Pembelajaran yang Berpihak Kepada Murid. 

Kegiatan Modul ke-2 dimulai Pada hari Senin, 7 Februari 2022 dengan pretest. Ketika Pretest Alhamdulillah saya mendapatkan nilai cukup baik yaitu 73. Akan tetapi, sepertinya itu keberuntungan karena saya belum memahami isi materi yang akan disampaikan. Tapi ini juga sekaligus tantangan bagi saya agar saat postest, nilainya bisa lebih baik. Dengan demikian, saya betul-betul memahami materi modul ke-2 ini. 

Setelah mengikuti pretes, modul ke-2 pun terbuka di LMS dan saya memulai pembelajaran pada modul 2.1 tentang Memenuhi Pembelajaran Murid dengan Pembelajaran berdiferensiasi. Saya membuka pendahuluan dan menonton video yang bertajuk Surat dari Instruktur. Instruktur menyampaikan  pengantar tentang pentingnnya pembelajaran yang didasarkan pada kebutuhan siswa. Instruktur juga menjelaskan alur modul 2.1. Seperti biasanya, alur pembelajaran MERDEKA diawali dengan kegiatan  Mulai dari diri Sendiri. Tujuan pembelajaran agar CGP dapat mengidentifikasi tenang pembelajaran berdiferensiasi. Kegiatan pembelajaran yang dilakukan CGP mengeluarkan pengetahuan awal tentang Pembelajaran Berdiferensiasi. Saya belum pernah membaca tentang materi ini, saya mencoba memahaminya dari beberapa pertanyaan pada pretest dan pengantar dari Instruktur. Pertanyaan di dalam pretest banyak yang berkaitan tentang cara melakukan pengajaran kepada siswa yang memiliki keragaman dalam banyak hal. 

Saya menyimpulkan bahwa pembelajaran berdiferensiasi yaitu pembelajaran yang menghargai keragaman siswa. Saya jadi teringat materi Multiple Intelegent (MI) dari Howard Garder. Saya sangat menyukai konsep MI. Jadi ketika saya mengerjakan Pretest, saya sudah memiliki ekspetasi bahwa modul ini akan sangat menarik dan saya ingin lebih tahu lebih lanjut tentang penerapan pembelajaran berdifrensiasi. Saya membayangkan bahwa pembelajaran berdiferensisi itu adalah pembelajaran yang memerhatikan gaya belajar siswa. jadi ketika siswa belajar Sruktur teks contohnya, guru akan merencanakan pembelajaran sesuai dengan tipe kecerdasan dominan yang ada di kelas. Jika siswa dominan musikal, guru akan mengajarkan materi tersebut dengan memasukan struktur ke dalam sebuah lagu. Jika dominan kecerdasan kinestetik, guru akan mengajarkan strktur dengan games menjodohkan. Siswa bergerak mencocokan potongan teks dengan struktur yang tertera di papan tulis. 

Games Menjodohkan Struktur Teks

Saya pun membuka alur Eksplorasi Konsep dan ternyata apa yang saya pikirkan hampir sama dengan materi yang diajarkan dalam modul 2.1. Akan tetapi, saya memeroleh banyak pengetahuan baru. Pembelajaran berdiferensiasi adalah pembelajaran yang didasarkan pada kebutuhan siswa. Kebutuhan siswa itu dapat dikategorikan dalam tuga aspek yaitu: Kesiapan, Minat, dan Profil siswa.  Konsep MI itu menjadi bagian dari pembelajan berdiferensiasi pada aspek profil dan minat siswa. Jika dilihat dalam strategi Pembelajaran Berdiferensiasi, pembelajaran MI yang saya terapkan termasuk ke dalam strategi proses. Ternyata, di samping menyiasati proses, bisa juga dari segi Konten, dan Produk yang dihasilkan di dalam pembelajaran. Inti dari pembelajaan berdiferensiasi adalah upaya melakukan kegiatan pembelajaran sesuai dengan kebutuhan siswa baik dari segi kesiapan belajar, minat dan profil gaya belajar siswa. Siswa diharapkan lebih semangat belajar dan mereka memperoleh hal yang bermanfaat sesuai kebutuhan belajar mereka. 

Oh, ya di hari yang sama, 7 Februari 2021, saya kedatangan Pengajar Parktik ke sekolah saya. Bu Dini Siti Anggraini melakukan wawancara kepada kepala sekolah, Siswa, dan rekan guru. Bu Dini ingin mengetahui sejauh mana aksi nyata yang saya lakukan setelah memahami modul 1. Saya tidak begitu tau detil wawancara. Akan tetapi, sepertinya pendampingan hari itu ingin mengevaluasi hal yang sudah saya lakukan. Setelah Bu Dini mewawancarai saya, ada dua hal yang saya simpulkan. Pertama, saya belum melakukan kegiatan refleksi secara tertulis dalam kegiatan pembelajaran. Refleksi secara tertulis sangat penting dilakukan agar guru mendapatkan umpan balik tentang hal yang perlu dipertahankan dan hal yang perlu diperbaiki di dalam pembelajaran. Saya selama ini lebih sering melakukan refleksi secara lisan saja. Akan tetapi, refleksi secara tertulis itu akan lebih baik karena dapat kita baca lagi pada waktu berikutnya. Refleksi ini jika dilaksanakan akan sangat berpengaruh terhadap perbaikan pembelajaran. Kedua, persiapan mengajar itu tidak hanya secara konten, strategi, dan metode mengajar tapi juga harus mempersiapkan diri secara emosional. Salah satu hal yang bisa membuat emosi kita satabil dan sangat siap menghadapi siswa dengan beragam perilaku adalah dengan rutin berolahraga. Tubuh yang bugar akan  berpengaruh signifikan terhadap perasaan kita saat mengajar.

   Pendampingan oleh Pengajar Praktik

Tanggal 12 Februari, saya mengikuti Lokakarya Ke-2. Kegiatan yang dilakukan pada Lokakarya dua adalah berdiskusi tentang Komunitas Praktisi. Guru penggerak diajarkan untuk terus bergerak dan memiliki dampak bagi lingkungan sekolahnya. Salah satunya dengan membentuk komunias Praktisi. Sejujurnya materi ini sedikit membuat saya terbebani. Membentuk Komunitas Praktisi bukanlah hal yang mudah karena CGP harus dapat mengumpulkan teman sejawat masuk dalam sebuah komunitas. Saya merasakan bahwa mengajak orang lain untuk ikut dalam sebuah kegiatan itu sulit. Akan tetapi, ternyata dari hasil diskusi diperoleh bahwa memang rata-rata CGP kurang mendapat respon dan tanggapan positf dari rekan sejawat. Akan tetapi, justru di dalam pelatihan CGP ini, semua hal itu dibimbing dengan berbagai proses belajar yang disajikan. Pada Lokakarya tersebut, kami diminta mengisi beberapa tugas yang arahnya menuju komunitas praktisi. langkah menuju Komunitas praktisi sebagai berikut:

1) Mengenal Komunitas Praktisi, kita diminta mengeksplorasi wawasan kita tentang Komunitas praktisi, manfaat peluang, dan hambatan. 

https://docs.google.com/document/d/1APum3Otgtw0zBgf87yrJB19hZakqoGc4/edit?usp=sharing&ouid=100846919162647832873&rtpof=true&sd=true

2) Analisis diri. Kita akan diminta mengisi form yang berkaitan dengan pengenalan diri dalam membentuk komunitas praktisi

https://docs.google.com/document/d/1DtyOwx-5ce-Y1kRVGA3rj1DH1FiaW1aE/edit?usp=sharing&ouid=100846919162647832873&rtpof=true&sd=true

3) Rumuskan Langkah Membuat komunitas Praktisi. Kita menuliskan hal-hal apa saja yang dilakukan dalam membuat komunitas praktisi. langkah ke-3 ini "memaksa" saya untuk memikirkan solusi agar Komunitas Praktisi terbentuk Saya jadi belajar bahwa hal yang kita anggap tidak bisa sebenarnya tantangan yang justru hasrus kita taklukan.

https://docs.google.com/document/d/1fskcx_QNEbN6h9HSs9r88anZompVfjx8/edit?usp=sharing&ouid=100846919162647832873&rtpof=true&sd=true

4) Formulir yang ke-4 mengajarkan tentang cara CGP meminta dukungan dari pihak sekolah, orang tuas, juga sesama guru. Pada tahap ini saya baru wawancara dengan perwakilan  orang tua, dan juga siswa. Hasil wawancara dengan orang tua siswa dapat disimpulkan bahwa orang tua menghendaki sekola terus menginformasikan kegiatan kepada orang tua sehingga dapat memantau kegiatan anaknya. Dua orang siswa yang saya wawancara mengatakan bahwa mereka ingin di kelas ada aktivitas pembelajaran yang bervariasi tidak hanya diminta merangkum dan mencatat dari buku paket, dan mendengarkan penjelasan sepanjang jam pembelajaran. Di samping itu, siswa juga menghendaki guru dalam menjelaskan materi jelas, menarik, dan tidak kaku, perlakukan siswa seperti teman (ramah). Saat menulis jurnal ini, saya belum sempat mewawancarai rekan guru dan kepala sekolah.

Wawancara dengan orang tua Fikri Abdillah Setiawan Kelas 7A



Wawancara Siswa Nadia dan Asti Raya (8a)

   Hasil dari wawancara tersebut kedepannya akan saya tindak lanjuti dengan membuat komunitas praktisi. Komunitas ini dibentuk bukan berarti menajdikan saya sebagai center perubahan di sekolah. Saya akan berperan sebagai fasilitator terciptanya komunitas yang akan terus bergerak untuk kemajuan sekolah. harapan idealnya begitu. Justru saya sangat ingin memfasilitasi semua potensi rekan guru. Saya yakin banyak sekali potensi guru yang tersimpan dan belum tereksplorasi untuk kemajuan sekolah. Jadi komunitas tersebut justru harapannya dapat membuat semua guru bergerak sesuai potensi yang dimiliki, jangan hanya orang itu itu lagi yang terlihat aktif.

Senin, 14 Februari 2022 saya melanjutkan kegiatan pemeblajaran Modul 2, dengan alur MERDEKA bagian Eksplorasi Konsep dengan membuat diagram Frayer yang bertujuan untuk menyimpulkan pemahaman saya terhadap konsep pembelajaran berdiferensiasi.


Kegiatan selanjutnya 
Ruang Kolaborasi dan Refleksi Mandiri. Di ruang kolaborasi seperti biasa kami melakukan diskusi kelompok secara daring yang dipandu fasilitator. kami mendiskusikan pembatan RPP berdiferensiasi. Kelompok kami yang terdiri dari saya, Pak Adhiyatnika Geusan Ulun (Guru SMP), Bu Wetty Dwi Yunengsih dan Bu Siksa Amelia (Guru SMA) merencanakan RPP materi Kerajaan Mataram Kuno (Mapel Sejarah Kelas X SMA) Kami mencoba melakukan pemetaan siswa berdasarkan minat, kesiapan, dan profil belajar Siswa didasarkan pada tipe kecerdasan Multiple Intelegent. Kemudian merancang pembelajaran berdiferensiasi dengan menggunakan strategi diferensiasi proses dan produk. Berikut disajikan secara lengkapnya RPP yang dibuat kelompok kami.

Pemetaan Kebutuhan Siswa

RPP Berdiferensiasi

RPP yang sudah dibuat secara kelompok kemudian dipresentasikan dalam ruang gmeet oleh rekan kami Ibu Siska Amelia dan dikomentari oleh kelompok lain dan difasilitasi oleh fasilitator.
Kami pun membuat RPP berdiferensiasi sesaui dengan kasus yang dialami oleh setiap guru di sekolah masing-masing. hasil dari RPP tersebut kami upload pada bagian Demonstrasi Kontekstual dan RPP yang sudah dibuat diberi umpan balik oleh rekan CGP lainnya. Ini adalah RPP Diferensiasi yang saya buat untuk siswa yang belajar secara jarak jauh.


Berdasarkan pembelajaran modul 2.1 yang sudah dilakukan, saya menyimpukan bahwa siswa adalah kumpulan manusia unik yang memilki keragaman dari berbagai aspek. Kebutuhan mereka terhadap pembelajaran tentu berbeda-beda baik dari segi kesiapan, minat, dan profil gaya belajar mereka. Tugas guru memang memberikan pelayanan pembelajaran yang berpihak kepada murid yaitu salah satunya dengan menerapkan pembelajaran diferesniasi. Diferensiasi bukan berarti guru harus membuat RPP yang berebda untuk setiap murid. Guru melakukan kegiatan pembelajaran yang di dalamnya merangkul banyak perbedaan siswa baik secara kesiapan, minat, dan prodil belajar mereka. Guru dapat melakukan strategi agar pembelajran bisa berpihak pada murid baik dari segi konten, proses, dan produk.
 
Demikianlah kegiatan CGP selama 2 Pekan pada modul 2.1 dan pada alur kegiatan belajar MERDEKA .Masih menyisakan kegiatan Elaborasi Pemahaman, Koneksi Antar-Materi dan Aksi Nyata. Yang akan dimulai pada hari Senin 21 Februari 2022. Rencana saya setelah menyelesaikan rangkaian kegiatan selama dua minggu adalah menerapkan Rencana Pembelajaran yang telah saya buat dan saya ingin melihat sejauh mana ketercapaian rencana saya di dalam praktik pembelajaran. 


Kamis, 10 Februari 2022

2.1.a.4.1. Forum Diskusi - Eksplorasi Konsep Modul 2.1

  

2.1.a.4.1. Forum Diskusi - Eksplorasi Konsep Modul 2.1



 

Pertanyaan :

  1. Informasi atau fakta apa yang disampaikan dalam video dan artikel tersebut?
  2. Gagasan baru apa yang Anda dapatkan dari video dan artikel yang Anda lihat?
  3. Apakah yang menurut Anda akan sulit diimplementasikan? Mengapa?
  4. Pertanyaan apakah yang masih Anda miliki atau klarifikasi apakah yang masih Anda perlukan terkait dengan isi video dan artikel tersebut?

Jawaban:

1.   Informasi atau fakta yang disampaikan dalam video dan artikel adalah sebagai berikut:

a.   Video 1

Tiga Strategi Diferensiasi:

1)     Diferensiasi Konten

Diferensiasi konten artinya apa yang kita ajarkan kepada siswa harus memerhatikan tiga aspek yaitu kesiapan, minat, dan profil yang beragam untuk setiap murid. Hal tersebut diumpamakan seperti penggunaan tombol equalizer . Guru memerhatikan kesiapan, minat, dan profil siswa yang berbeda dalam menyusun konten pembelajaran. Ada murid yang dibeikan bahan pembelajaran bersifat mendasar, ada yang transformatif. Bahan ajar juga disesuaikan dengan minat setiap murid dan juga memerhatikan gaya belajar murid yang berbeda.

2)     Diferensiasi Proses

Diferensiasi proses adalah tentang bagaimana murid akan memahami informasi yang dipelajari? Proses seperti apa yang bisa guru persiapkan dalam pembelajaran agar dapat mengaokomodasi kebutuhan setiap murid?

Skenario Pembelajaran yang dirancang bisa dengan cara:

a)     Kegiatan Berjenjang: melakukan hal yang sama tapi dengan cara yang berbeda

b)     Pertanyaan pemandu di sudut-sudut minat

c)     Agenda Individual. Siswa memilki daftar tugas kelompok dan individu

d)     Variasi lama waktu pengerjaan sesuai dengan kebututuhan masing-masing murid

e)     Kegiatan bervariasi yang mengakomodasi semua gaya belajar

3)     Diferensiasi Produk

       Diferensiasi produk adalah tagihan apa yang diharapkan dari murid. Produk tersebut harus mencerminkan pemahaman siswa dan sesuai tujuan pembelajaran yang diharapkan.

       Diferensiasi produk meliputi 2 hal:

a)     Memberikan tantangan yang bervariasi

b)     Memberikan murid pilihan dalam mengekspresikan hasil pembelajaran baik dari segi kualitas, sifat, dan lain-lain. (indikator keberhasilan tetap disampaiakan guru)

 

b.     Video 2

Lingkunagn Belajar

Learning Community adalah Komunitas yang semua anggotanya pembelajar. Karaketrisktiknya:

1)   Setiap orang di dalam kelas menyambut dan disambut. Ruang kelas dipenuhi pekerjaan murid

2)   Setiap orang di dalam kelas saling mengahrgai

3)   Murid akan merasa aman fisik dan psikis di dalam pembelajaran

4)   Ada harapan bagi pertumbuhan sesuai kemampuan

5)   Guru Mengajar untuk kesuksesan

6)   Ada bentuk keadilan di kelas

7)   Berkolaborasi untuk kesuksesan bersama

c.      Artikel

Peran Penilaian dalam Pembelajaran Berdiferensiasi

Penilaian, berfungsi seperti sebuah kompas yang mengarahkan dalam praktik pembelajaran berdiferensiasi. Tomlinson & Moon (2013) mengatakan bahwa penilaian adalah proses mengumpulkan, mensintesis, dan menafsirkan informasi di kelas untuk tujuan membantu pengambilan keputusan guru. Ini mencakup berbagai informasi yang membantu guru untuk memahami murid mereka, memantau proses belajar mengajar, dan membangun komunitas kelas yang efektif.

Di dalam kelas, kita dapat memandang penilaian dalam 3 perspektif:

1. Assessment for learning - Penilaian yang dilakukan selama berlangsungnya proses pembelajaran dan biasanya digunakan sebagai dasar untuk melakukan perbaikan proses belajar mengajar. Berfungsi sebagai penilaian formatif. Sering disebut sebagai penilaian yang berkelanjutan (on-going assessment)

2. Assessment of learning - Penilaian yang dilaksanakan setelah proses pembelajaran selesai. Berfungsi sebagai penilaian sumatif

3. Assessment as learning - Penilaian sebagai proses belajar dan melibatkan muridmurid secara aktif dalam kegiatan penilaian tersebut. Penilaian ini juga dapat berfungsi sebagai penilaian formatif.

Hasil dari penilaian formatif akan menjadi sumber yang sangat berharga untuk mengidentifikasi atau memetakan kebutuhan belajar murid, sehingga lewat proses ini, guru akan dapat mengetahui bagaimana ia dapat melanjutkan proses pengajaran yang ia lakukan dan memaksimalkan peluang bagi tercapainya pertumbuhan dan kesuksesan murid dalam materi atau topik tersebut.

strategi penilaian formatif:

1)Tiket Keluar. Guru memberikan pertanyaan yang diajukan kepada semua murid sebelum kelas berakhir. Murid menulis jawaban mereka pada kartu atau selembar kertas dan menyerahkannya saat mereka keluar kelas.

2. Tiket Masuk. Guru juga bisa memberikan sebuah pertanyaan kepada semua murid sebelum pelajaran dimulai..

3. Berbagi 30 Detik. Dengan strategi ini, murid secara bergiliran melaporkan sesuatu yang telah ia pelajari dalam pelajaran selama 30 detik.

4. Nama dalam toples. Guru bisa meminta murid menulis nama mereka di selembar potongan kertas & kemudian memasukkannya dalam toples. Guru kemudian bisa mengajukan sebuah pertanyaan tentang konsep kunci yang sedang dipelajari, kemudian secara random mengambil sebuah potongan kertas di toples, dan meminta beberapa anak yang namanya tertulis di potongan kertas tersebut menjawab pertanyaan secara bergantian.

5. 3-2-1. Di akhir pembelajaran, strategi ini memberikan murid cara untuk merangkum atau bahkan mempertanyakan apa yang baru saja mereka pelajari. Tiga petunjuk dapat disediakan bagi murid untuk menanggapi yaitu: 3 hal yang tidak murid ketahui sebelumnya, 2 hal yang mengejutkan murid tentang topik tersebut, 1 hal yang ingin murid mulai lakukan dengan apa yang telah dipelajari. 6. Refleksi.

7. Pojok pemahaman. Minta murid pergi ke pojok-pojok kelas sesuai dengan pemahaman mereka. Jika mereka tidak memahami topik yang sedang dibahas, mereka dapat pergi ke salah satu sudut dengan murid yang memiliki tingkat pemahaman yang sama. Sementara jika sudah memahami, mereka dapat pergi ke sudut yang lain..

8. Strategi 5 jari. Minta murid mendeskripsikan pemahaman mereka terkait topik yang diajarkan dengan menggunakan 5 jari. 5 jika mereka sudah paham sekali, 1 jika merektidak paham sama sekali. Cara ini cukup cepat dan mudah untuk

2. Gagasan baru yang saya dapatkan dari video dan artikel yang saya lihat:

a)    3 strategi diferensiasi

b)    Skenario pembelajaran dalam diferensiasi proses

c)    Peran guru sangat penting dalam membentuk atmosfir lingkunagn kelas yang positif

d)    Strategi penilaian formatif

3. Hal yang menurut saya akan sulit diimplementasikan adalah waktu untuk merencanakan semua strategi tersebut dan pelaksanaannya di kelas karena waktu pembelajaran terbatas dan sepertinya kita tidak memilki cukup waktu untuk memperhatikan semua kebutuhan setiap murid. Ini tentu sanat membingungkan bagi saya bagaimana cara mengaturnya.

4.   Pertanyaan

1)  Saya merasa ada hal yang kontradiktif. Di awal disampaikan bahwa pembelajaran berdiferensiasi tidak berari guru harus merencanakan scenario pembelajaran yang berbeda bagi setiap murid karena guru bukan manusia super. Akan tetapi, setelah saya membaca semua strategi yang saya rasakan atmosfirnya adalah kerumitan guru dalam merencanakan semuanya dan juga di dalam pelaksanaannya guru harus ekstra perhatian kepada setiap murid sementara jumlah murid dalam satu kelas kadang melebihi 30 murid. Jadi, saya ingin penjelasan lebih lanjut tentang hal ini.

2)  Pembagian kelompok dikatakan fleksibel sesuai kebutuhan siswa. Apakah jika siswa memilih berkelompok sendiri sementara yang terbentuk jadinya siswa yang sudah transformative dengan sesamanya. Siswa yang mendasar dengan sesamanya. Apakah ini diperbolehkan?atau misalnya siswa berkelompok sesuai kepemilikan HP dan kuota. Jadi siswa yang memilki Hp dan kuota disebar yang lainnya mengikuti. Apakah seeperti ini termasuk ke dalam ranah fleksibel?

 

Rabu, 09 Februari 2022

2.1.a.4. Eksplorasi Konsep - Modul 2.1 Refleksi Pembelajaran Berdiferensiasi

 2.1.a.4. Eksplorasi Konsep - Modul 2.1

Refleksi Pembelajaran Berdiferensiasi



1. Jelaskanlah apa yang dimaksud dengan pembelajaran berdiferensiasi!

Pembelajaran berdiferensiasi adalah pembelajaran yang memerhatikan kebutuhan murid secara individu. Akan tetapi bukan berarti guru harus merencanakan kegiatan belajar yang berbeda untuk setiap murid, lebih kepada guru memahami segala keragaman siswa baik dari aspek kesiapan belajar, minat, dan profil setiap indovidu. Kemudian guru melakukan respon yang tepat untuk setiap perbedaan tersebut dengan cara mengidentifikasi, membuat pemetaan, kemudian melakukan cara perlakuan yang berbeda sesuai kebutuhan murid tersebut.

2. Mengapa kita perlu mengidentifikasi kebutuhan belajar murid?

Mengdentifikasi kebutuhan murid dilakukan agar kita dapat memetakan kebutuhan murid baik dari segi kesiapan, minat, dan profil. Setelah itu, guru pun akan lebih mudah membuat perencanaan pembelajaran yang dapat mengakomodasi keragaman siswa sesuai kebutuhannya. Diharapkan siswa pun akan lebih semngat, tertantang, terlibat, di dalam pemebelajaran.

3. Sebagai guru, apa yang dapat kita lakukan untuk mengidentifikasi kebutuhan belajar murid-murid kita? Apa saja yang perlu dipertimbangkan?

Guru dapat mengamati perilaku siswa, cara siswa belajar, dan hasil belajar siswa, bertanya kepada orang tua dan guru lainnya. Melakukan tes diagnostic agar diperoleh informasi yang komprehensif tentang berabagai hal yang siswa butuhkan di dalam pembelajaran.  Hal yang perlu dipertimbangkan adalah kesiapan belajar, minat, dan profil siswa.

Jurnal Refleksi Ke-24

Jurnal Refleksi Ke-24 (13 Juni s.d 18 Juni 2022) Model 5: Connection, challenge, concept, change (4C) Pada Minggu ini saya melakukan Pendapi...