Minggu, 28 November 2021

Jurnal Refleksi Ke-6

Minggu, 28 November 2021
    
Model 6: Model refleksi 5M (reportingresponding, relating, reasoning, reconstructing) 
 


Minggu ini pembelajaran Calon Guru Penggerak belajar tentang Visi Guru Penggerak. Seorang guru penggerak harus menciptakan budaya positif di lingkungan sekolahnya. Hal tersebut dimulai dengan merancang visi dan sudah dirumuskan dalam kegiatan Mulai dari Diri yang saya tulis di Klik di sini

Setelah itu, saya mulai membaca Eksplorasi Konsep tentang cara mengelola perubahan atau cara mewujudkan visi dengan sebuah alat atau sarana untuk mencapai visi yaitu berupa konsep paradigma berpikir Inkuiri Apresiatif (IA). IA dikenal sebagai pendekatan manajemen perubahan yang kolaboratif dan berbasis kekuatan. Konsep IA ini pertama kali dikembangkan oleh David Cooperrider (Noble & McGrath, 2016)

Konsep IA di dalam manajemen perubahan ini menitikberatkan pada hal positif yang dimiliki semua orang atau kekuatan dalam sebuah organisasi. Jadi, ketika kita ingin mewujudkan sebuah visi perubahan di sekolah, hal yang dilakukan adalah dengan mengidentifikasi kekuatan aset yang dimiliki sekolah. Konsep manajemen perubahan IA ini di dalam bahasa Indonesia disingkat BAGJA (Buat Pertanyaan utama, Ambil Pelajaran, Gali Mimpi, Jabarkan Rencana, Atur Ekseskusi)

Kegiatan selanjutnya adalah berbagi visi murid impian. Saya pun membagikan poster tentang murid impian seperti yang saya tulis pada kegiatan Mulai dari diri. Saat berbagi kesimpulan ada hal yang menarik karena kami diwajibkan mengomentari kesimpulan sesama CGP  secara langsung dan waktu yang singkat yang dipandu fasilitator di grup WA. Akan tetapi, kegiatan tersebut sangat menarik dan melecut semangat untuk mengikutinya. 

Hal yang paling menegangkan bagiku adalah ketika sesi ruang kolaborasi mendiskusikan pemetaan kekuatan. Waktu itu saya kira kelompok yang akan berdiskusi di ruang google meet adalah kelompok yang biasa. Ternyata, kelompok berubah. Saya tegang dan kaget karena saya sudah mendiskusikan di kelompok sebelaumnya dan teman saya yang sudah biasa menuliskan rangkuman hasil diskusi. Ternyata, kelompoknya berubah. Untuk pertama kali, saya membuat presentasi di Canva secara langsung dilihat fasilitator dan diberi waktu terbatas. Untungnya, teman dalam kelompok membantu memberikan masukan sehingga presentasi yang dibuat akhirnya selesai juga dan saya langsung presentasi tanpa persiapan sama sekali. Tapi akhirnya semua selesai tepat waktu dan berjalan lancar. 
Presentasi kelompok saya seperti ini.


Hasil presentasi yang dibuat pun diunggah di LMS dan di hari yang sama kami membuat peta kekuatan visi masing-masing yang diupload di LMS. Peta kekuatan visi yang saya buat seperti ini.

 
Peta kekuatan yang dibuat kemudian dikomentari secara lisan dalam Ruang Kolaborasi Presentasi dan Umpan Balik. Saat mengikuti kegiatan tersebut, banyak sekali inspirasi yang didapat dari CGP lain. Saya melihat beragam potensi kekuatan yang dimiliki setiap CGP seperti melihat kekayaan bangsa yang memunculkan sikap optimis bahwa perubahan pendidikan ke arah lebih baik akan terwujud. 

Setelah mengikuti pembelajaran Modul 1.3 tentang Visi Guru Penggerak, saya merasa sangat dibimbing dengan langkah-langkah pengerjaan modul untuk mewujudakna mimpi.  Pertama saya diajarkan membuat visi dengan panduan tugas yang sistematis dan runtun. Setelah mampu membuat sebuah visi, kami juga diajarkan cara mencapai visi dengan metode BAGJA atau IA. Penjelasan tentang BAGJA sebagai berikut.

Buat Pertanyaan Utama yaitu merumuskan pertanyaan sebagai penentu arah penelusuran terkait perubahan apa yang diinginkan atau diimpikan. 
Ambil Pelajaran yaitu mengumpulkan berbagai pengalaman positif yang telah dicapai di sekolah dan pelajaran apa yang dapat diambil dari hal-hal positif tersebut.  
Gali Mimpi yaitu menyusun narasi tentang kondisi ideal apa yang diimpikan dan diharapkan terjadi di sekolah. Disinilah visi benar-benar dirumuskan dengan jelas. 
Jabarkan Rencana. yaitu merumuskan rencana tindakan tentang hal-hal penting apa yang perlu dilakukan untuk mewujudkan visi. 
Atur Eksekusi. Di bagian ini, Anda memutuskan langkah-langkah yang akan diambil, siapa yang akan terlibat, bagaimana strateginya, dan aksi lainnya demi mewujudkan visi perlahan-lahan.
Metode BAGJA ini menurut saya sangat baik kaena kita diajarkan untuk mengidentifikasi kekuatan kita dan siswa sehingga kita dapat mengembangakannya. Pola pikir saya semakin dikuatkan dengan adanya konsep IA. Pada awalnya saya tidak pernah berpikir untuk menerapkan perubahan apa pun di sekolah secara kolaboratif karena bagi saya menjalin kerjasama dengan orang di luar diri bukan hal yang mudah bahkan bertemu orang dengan visi yang sama pun rasanya sulit. 

Akan tetapi, dengan prinsip IA saya mulai mengerti bahwa kita harus berpikir bahwa semua orang itu memiliki kekuatan yang akan dapat berkonstribusi dalam perubahan. Saya mulai menyimpulkan bahwa yang harus saya lakukan bukan tentang bagaimana saya terus belajar secara mandiri  untuk perubahan. Tidak berhenti disitu, tapi saya mulai berpikir bahwa yang harus saya lakukan adalah menemukan sebanyak mungkin kekuatan dari masing-masing aset yang ada di sekolah dan memikirkan lebih lanjut bagaimana setiap aset tersebut dapat digerakan untuk sebuah perubahan. 

Pertanyaan di bawah ini menjadi pemandu untuk saya melakukan perubahan budaya positif di sekolah dan perwujudan mencapai visi.

  • Hal-hal baik apa yang pernah dicapai murid di kelas?
  • Apa hal menarik yang dapat dipetik pelajarannya dari setiap guru di kelas?
  • Bagaimana mengembangkan praktik baik setiap guru untuk dipertahankan sebagai budaya sekolah?
Simpulan saya selama belajar modul 1.3 adalah bahwa program CGP benar-benar mengajarkan kita untuk jadi guru yang memiliki tujuan, cita-cita dan mewujudkannya agar dapat menjalankan peran terbaiknya sebagai khalifah di muka bumi sesuai profesinya. Betul-betul program yang membawa spiritual kita meninggi tapi tindakan kita dilakukan bertahap dan mulai dari hal yang bisa dilakukan. Semoga saya bisa mewujudkan visi dan berkontribusi bagi perbaikan pendidikan dan bisa menepis segala keraguan dan perasaan negatif lainnya dalam diri. Amiin Ya Rabbal alamin



 

 

 

Jumat, 19 November 2021

Mulai dari Diri Sendiri:  Visi Guru Penggerak

“Mari nyatakan visi kita lewat karya!”
Karya 1. Imajiku tentang Muridku di Masa Depan


Karya 2. Merangkai mimpi lewat kata-kata

  • Saya memimpikan murid-murid yang berkarakter profil pelajar pancasila, bahagia, belajar merdeka sesuai potensi diri mereka
  • Sekolah saya percaya bahwa murid adalah aset  masa depan bangsa 
  • Sekolah saya mengutamakan murid sebagai pusat dan tujuan pembelajaran
  • Murid di sekolah saya sadar betul bahwa mereka adalah generasi masa depan yang akan membangun bangsa
  • Guru di sekolah saya yakin untuk selalu belajar dan bergerak untuk kemajuan murid
  • Guru di sekolah saya paham bahwa murid adalah tujuan utama pendidikan

Karya 3. Mengartikulasikan visi kita tentang murid dan sekolah yang kita impikan dalam satu kalimat

Membentuk sekolah yang literat dan profil pelajar pancasila dengan pembelajaran yang bepusat pada pengembangan potensi siswa 


Rabu, 17 November 2021

 

Jurnal Refleksi Model 5 : Connection, Challenge, Concept, Change (4C)

Rabu, 17 November 2021

Connection

Perasaan Selama Melakukan Aksi Untuk Menguatkan Nilai dan Peran Guru Penggerak

Minggu ini yang saya mendapatkan materi Calon Guru Penggerak (CGP) dari Instruktur tentang Nilai dan peran guru penggerak dalam Kegiatan Elaborasi. Dari elaborasi ini, saya mendapatkan pelajaran tentang pengelolaan emosi ketika menerima reaksi negatif dalam menerapkan nilai dan peran guru penggerak. Pengalaman yang dialami beberapa peserta ternyata hampir sama dengan yang saya rasakan bahwa kadang kita merasa moody, kadang pula merasa bingung ketika berada di kelas untuk pertama kali melaksanakan Pembelajaran Tatap Muka setelah anak-anak terbiasa diam di rumah. 

Setelah saya mendapatkan materi dari instruktur saya merasa lebih bisa memahami nilai-nilai dan peran guru penggerak dalam kegiatan Koneksi Antar Materi. Saya membuat dua tulisan. Satu tulisan di upload di Website Disdik Bandung Barat, ini linknya http://disdikkbb.org/news/mengapa-harus-menjadi-guru-penggerak/ Tulisan tersebut merupakan refleksi pemahaman saya tentang nilia-nilai dan peran guru penggerak dikaitakan dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara. Tulisan kedua di blog ini dengan judul Menjadi Guru Penggerak Literasi, tulisan tersebut berisi pengenalan saya tentang potensi diri saya sebagai Guru Penggerak dan langkah selanjutnya yang akan saya lakukan dalam berproses menjadi seorang guru penggerak yang sesuai dengan nilai dan peran guru penggerak.

Perasaan saya sebenarnya campur aduk, ada semangat, ada bahagia, dan masih terselip sedikit kekhawatiran. Saya semangat karena di CGP ini betul-betul membuat saya jadi pembelajar sejati, meski tugas menulis tiap hari tapi saya merasakan bahwa ada hal yang terisi dalam pikiran dan hati saya. Saya juga bahagia, saya bisa bertemu sahabat baru yang inspiratif, mengajarkan saya banyak hal, bisa berkarya dan mengembangkan diri terus menerus. Tapi saya masih khawatir saya belum bisa menjadi guru penggerak yang berdampak dan bermanfaat bagi lingkungan sekitar saya. Karena ternyata, berbuat hal di lingkungan sendiri itu lebih kompleks situasi yang dihadapinya. Tapi saya punya harapan program CGP akan terus menuntun saya menjadi seorang guru yang reflektif, mandiri, kolaboratif, kreatif, inovatif, dan memihak kepada murid. Saya juga bisa menerapkan peran guru penggerak menjadi pemimpin pembelajaran, bisa membantu guru lain, bisa berkolaborasi di komunitas, dan bisa mewujudkan kepemimpinan murid. 

Saya mencoba menerapkan nilai-nilai guru penggerak dan peran seorang guru penggerak di lingkungan sekolah saya meskipun secara perlahan dan lingkup kecil. Saya merasa sudah bisa menjadi guru penggerak yang mandiri karena saya sudah terbiasa mencari dan mengikuti sendiri pelatihan, Saya mencoba hal baru juga dalam setiap mendapatkan sesuatu dan saya coba terapkan dalam pembelajaran (Inovatif). Saya mencoba membuat pembelajaran dengan metode games (Nilai Kreatif) Saya memahami harus lebih banyak melakukan kolaborasi dengan guru lain yang selama ini jarang saya lakukan, saya bersama dua guru yang mengajar Mata Pelajaran yang sama mencoba membangun kolaborasi agar bisa menyajikan kegiatan pembelajaran yang maksimal. Kami mendiskusikan perencanaan, persiapannya, saat aksi ke kelas. Bahkan sebelum masuk ke kelas, kami breafing tentang hal yang bisa dilakukan (Sayang, saya lupa difoto karena fokus persiapan pembelajaran ingin sukses, ingin membuat anak senang, kan berpihak kepada murid hehe). Setelah keluar kelas kami langsung mengevaluasi hasil kegiatan tadi di kelas (Reflektif). kemudian merancang ulang dan memperbaiki segala kekurangan untuk pelaksanaan mengajar pada pertemuan berikutnya.

Saya merasakan kebahagiaan saat berada dalam TIM GURU INDO 8 (Begitu kami menamai grup WA kami). Bersama Bu Sinta Nurdiana dan Bu Nita Nuraeni saya merasakan nuansa akademik sekaligus kekeluargaan. oh ya saya mau cerita dulu, dua teman saya itu sedang mengikuti seleksi P3K, mohon doa dari semua agar mereka bisa lolos. Saya bersaksi mereka berdua adalah guru hebat dan penuh dedikasi. Bayangkan saja meski masih GTT, mereka harus  menempuh perjalanan mengajar sekitar 20 Km setiap harinya (Batujajar-Rancapnggung) bahkan yang satu dalam kondisi hamil muda. Tapi mereka tidak pernah merasa keberatan ketika berbagi tugas, berdiskusi tetap semangat. Saya rasanya ingin bercerita tentang mereka lebih banyak nanti. 

Kembali Ke cerita saya setelah selesai mengikuti modul 1.2 tentang Nilai dan Peran Guru Penggerak

Challenge, Concept, 

Ide atau gagasan yang timbul sepanjang proses

Setelah mengikuti materi CGP pada modul 1.2 tentang Nilai dan Peran Guru Penggerak, saya sejak awal mulai dibawa pada kenangan baik dan buruk masa dulu dan juga makna bergerak itu sendiri bagi seorang guru. Selanjutnya dalam pengelolaan emosi yang disampaikan oleh Instruktur, juga dari hasil diskusi kelompok dalam penerapan Nilai dan peran guru pengerak dan juga ketika saya membentuk konsep diri saya sebagai guru penggerak dalam demontrasi kontekstual dan koneksi antarmateri.Ditambah hasil diskusi saat pendampingan. Dari pelajaran-pelajaran itu saya membuat beberapa catatan yang harus saya terus terapkan, yaitu:

1. Seorang guru itu memiliki dampak yang besar di masyarakat dalam menerapkan nilai-nilai kehidupan melalui murid-muridnya. 

2. Sikap seorang guru bisa sangat berpengaruh pada masa depan muridnya. Oleh karena itu, seorang guru harus bisa menjadi Ing ngarso sung tulodo, Ing madyo mangun karso, tut wuri Handayani. Perkataan seorang guru bisa menjadikan seorang murid sukses, bisa juga bisa mematahkan semangat murid. oleh karena itu, penting sekali bagi seorang guru mempeerhatikan apa yang dia sampaikan kepada murid.

3. Seorang guru sejatinya harus bergerak, jika tidak bergerak maka dia akan tergilas oleh perubahan dan tidak dapat membawa pada perubahan yang lebih baik. Oleh karena itu seorang guru penggerak harus terus melatih dirinya menjadi pemimpin pembelajaran, meenggerakan komunitas praktisi, mendorong kolaborasi antar guru, menjadi coach bagi guru lain, dan mewujudkan kepemimpinan murid.  

4. Seorang guru sebagai pribadi harus terus belajar mengendalikan emosi seperti apa pun reaksi lingkungan sekitarnya, negatif, positif dia harus dapat menyikapinya dengan positif jangan sampai nilai diri kita itu dipengaruhi orang lain. Seorang guru harus punya nilai yang dipegang teguh dan tidak terpengaruh oleh reaksi negatif. Nilai-nilai yang harus dipegang itu yaitu, Mandiri, Reflektif, Kreatif, Inovatif, berpihak 

5.Seorang guru penggerak harus dapat mengenali dirinya, nilai kelebihan dan kekurangan dirinya, kemudian memaksimalkan kelebihan dirinya agar dapat bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya dan bisa menggerakan orang lain.

6. Seorang guru penggerak tujuan utamanya adalah mewujudkan profil pelajar pancasila. Dengan nilai dan perannya, guru penggerak dapat melakukan beberapa program. Akan tetapi tidak harus segalanya dilakukan,tapi bisa dimulai dari hal yang sederhana tapi berpihak kepada murid. 

7. Seorang guru penggerak bukanlah bergerak sendiri, tapi harus dapat berkolaborasi dengan pihak lain dan pemangku kebijakan agar program yang dilakukannya bisa berjalan sesuai tujuan.

Change

Pembelajaran dan pengalaman dalam bentuk catatan praktik baik 

Kembali ke dalam aktivitas penerapan nilai dan peran guru penggerak, saya mencoba menerapkannya dalam kegiatan pembelajaran dan juga berdikusi dengan kepala sekolah dan rekan sesama guru tentang hal apa yang bisa saya lakukan untuk mewujudkan profil pelajar pancasila.

Di dalam pembelajaran, saya mencoba melaksanakan rencana pengajaran yang sudah dilakukan oada moudl 1.1, penerapan Ki Hajar Dewantara dalam pembelajaran. Saya bagikan di pada komunitas guru bahasa Indonesia kelas 8. Kami pun berdiskusi di WA tentang kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan dengan metode games. 

Saat pelaksaan, kami awalnya merasa sedih karena kurang berhasil. Hal yang kami rencanakan, di luar ekspetasi. Kelas pasif, krik..krik..sunyi sepi, padahal kami membayangkannya seru. Ternyata siswa masih merasa ragu dan malu berekspresi setelah sekian lama berada di rumah, tanpa teman sekelas. Dalam situasi seperti itu seharusnya saya ice breaking dulu atau kegiatan yang memotivasi siswa karena itu yang mereka butuhkan. Tapi waktu hanya 40 menit untuk 1 pertemuan setiap kelas, membuat kami "mati gaya" Karena mengejar, waktu akhirnya permainan dipaksakan dan kami merasa gagal.

Setelah dievaluasi bersama, kami pun melakukan beberapa perbaikan karena jam mengajarnya lebih dulu. Saya yang pertama kali melakukan perbaikan. Di kelas pertemuan pertama (8e) saya terapkan perubahan itu, lumayan ada perubahan, kelas kondusif, siswa aktif, tapi tetap mereka masih malu-malu dan kesan kelas pasif masih terasa. Di kelas kedua (8B), saya ubah sedikit pada bagian akhir, lumayan membuat siswa lebih berwarna dan terasa ada semangat belajar. Nah di kelas ketiga saya beri perlakuan baru, tidak lagi tertulis tapi jawaban siswa secara lisan dan memakai papan skor di papan tulis. Awalnya masih kaku dan malu-malu. Tapi akhirnya rame juga dan seru. Bahkan ketika siswa yang mendapatkan hukuman berupa membuat karya, siswa tersebut bersemangat. Saya tersenyum, baru kali ini ada yang dihukum merasa senang membuat karya hukuman. 

Foto bercerita’ dari seluruh rangkaian pelaksanaan (perencanaan, penerapan dan refleksi) aksi Anda

Foto peranngkat yang digunakan menjelang pembelajaran.


berikut ini beberapa foto saat pembelajaran di kelas. (Penerapan)

Refleksi dalam bentuk Chat WA di Grup Indo 8

‘Testimoni’ dari rekan guru dan murid yang terlibat dalam aksi yang Anda lakukan. 

testimoni siswa




Testimoni guru






Selasa, 16 November 2021

Menjadi Guru Penggerak Literasi

Seorang guru penggerak memiliki peran dan nilai yang harus diaplikasikan dalam kegiatannya menjadi seorang pendidik yang bisa berdampak pada lingkungan tempatnya mengajar. Saya sendiri merasakan bahwa nilai dan peran guru penggerak tersebut masih terus saya upayakan agar dapat terinternalisasi pada diri. Saya merasa sudah memiliki nilai-nilai guru penggerak meskipun belum maksimal. Nilai guru penggerak yang saya miliki diantaranya: mandiri, refleksi, inovatif, kreatif, berpihak kepada murid dan kolaboratif. Hal tersebut tergambar dalam cerita yang saya sajikan berikut. 

Sejak saya sekolah hingga menjadi guru, hal yang selalu konsisten saya lakukan adalah berkaitan dengan kegiatan membaca dan menulis, meskipun, ketika saya sekolah baru terbatas kegemaran pribadi, pergi ke perpustakaan lalu pinjam buku dan menulis di buku harian dan berkhayal membuat sebuah buku. Ketika saya pertama kali mengajar tahun 2005 di SMP Negeri 2 Rancabali Kab. Bandung saya pun kembali berkegiatan di bidang literasi membaca dan menulis. Saya mencoba menghidupkan perpustakaan sekolah yang "mati suri", ruang perpustakaan ada, koleksi buku ada, tapi ruang perpus terkunci karena tidak ada petugas perpustakaan. 

Saya berinisiatif meminta menjadi sukarelawan petugas perpustakaan. Dengan bantuan siswa, saya bersihkan ruangan, membereskan buku sesuai kategori. Kemudian saya mengajak siswa menjadi petugas perpustakaan. Saya membuat pengumuman pembukaan perpustakaan kepada siswa secara door to door. Pada jam istirahat saya membuka perpustakaan dan menerima peminjaman buku. Saya buat catatan peminjaman dan pengembalian buku. Saya minta bantuan siswa menjadi petugas perpustakaan secara bergantian. Saat ini, mungkin karena saya masih "sendiri", saya betul-betul bahagia mencurahkan waktu berlama-lama di perpustakaan, saya baca buku-buku fiksi agar saya bisa memberikan rekomendasi buku yang bisa mereka baca. Saya juga mendirikan Baca Tulis Club (BTC), anak-anak yang belum suka membaca menyebutnya klub kutu buku. Tapi, Alhamdulillah, siswa yang mendaftar waktu itu ada sekitar 70 siswa sampai ruang kelas sesak. Tapi seiring berjalan waktu memang berguguran. Kegiatan yang dilakukan pertemuan seminggu sekali seperti membedah sebuah buku, belajar menulis berita, menulis puisi, cerpen, dan membuat mading sekolah. Setiap minggu pula kami membuat mading sekolah. Waktu itu mading sekolah menjadi hal yang ditunggu. Ya, karena sekolah kami termasuk pelosok, jumlah siswa sedikit jadinya segala hal kecil yang dilakukan pun terasa menjadi terlihat. Cerita tentang kegitan literasi saya saat itu, ada bagian ceritanya dituis di buku ini.
Setelah saya pindah mengajar karena diangkat CPNS di SMP Negeri 2 Cililin di Bandung Barat, saya kembali mencoba menerapkan pembuatan Mading Sekolah, waktu itu bahkan sempat mengikuti lomba Mading dan menjadi juara 1, meskipun peserta hanya 2,hehe (Sepertinya lomba Mading sepi peminat) Akhirnya seiring perubahan serba digital mading pun semakin ditinggalkan dan gerak saya dalam literasi pun mengikuti pola yang sudah dilakukan oleh sekolah lain. Saya mencoba menggerakan beberapa siswa untuk menggerakan kegiatan membaca 15 menit sebelum pembelajaran dimulai. Saya waktu itu hanya mampu merekrut 10 siswa dan yang aktif hanya 5 siswa. Bersama mereka saya membuat perpus kardus, karena sekolah kami belum ada gerbang dan bentengnya, kami tidak bisa membuat pojok baca kelas. Bahkan buat pohon literasi pun ada yang membakar entah oleh siapa. Akhirnya buatlah perpus kardus. Saya bersama 5 siswa menyediakan kardus sejumlah kelas. Lalu ambil buku perpusatakaan disampul plasitik dan diberi label nama setiap siswa sesuai absen. Setiap kelas mendapatkan buku sejumlah siswa. Setiap pagi duta literasi di setiap kelas mengambil perpus kardus dan mengemablikan kardus ke perpustakaan saat pulang sekolah. Ini foto kegiatannya.
Setelah sekolah kami dibenteng dan pintu gerbang dikunci, program perpus kardus selesai dilanjutkan program TMBB (Tantangan Membaca Bandung Barat). Saat saya masih bergerak sendiri saya hanya mampu meloloskan 25 siswa dari 40 siswa yang ikut tantangan. Tapi setelah saya berkolaborasi dengan sembilan orang guru lain, Alhamdulillah dua kali sekola kami mapu membawa semua siswa lolos tanangan dna dua kali kami mendapat perdikat sekolah inspiratif dengan menghasilkan buku karya antologi hasil siswa dan guru. Berikiut ini adalah buku yang kami tulis.
Nah, setelah saya melihat perjalanan kegiatan saya dalam bidang literasi, saya berpikir hal yang bisa terus saya lakukan adalah menjadi Guru Penggerak Literasi. Kedepannya saya harus melakukan inovasi dan berkreasi untuk lebih membudayakan kegiatan Literasi membaca dan menulis. Hal yang akan saya lakukan adalah:

1. Membuat program kegiatan literasi sekolah yang memuat inovasi baru 

Terkait kegiatan tersebut, masih saya pikirkan detil kegiatannya yang pasti ingin membumikan jargon GLS SMP Negeri 2 Cililin "Gemar Sasalaman" (Gerakan mari membaca satu hari satu halaman), kemudian mengaktifkan gerakan tersebut di media sosial, dan mengajak kerjasama dengan pihak lain seperti komite atau membuat proposal pengadaan buku, 

2.Menawarkan program kepada kepala sekolah

Dukungan kepala sekolah sangat penting untuk legalitas kegiatan dan rasa kepemilkan warga sekolah lain terhadap program tersebut.

3.Meluncurkan program dan berkolabrasi dengan guru dan wali kelas

4.Melibatkan siswa-siswa lulusan TMBB untuk menebarkan program di Medos. 
     
    Kegiatan yang ingin saya lakukan itu tentu harus didukung oleh banyak pihak, karena yang saya rasakan ketika saya bergerak sendiri hasil tidak maksimal, saya pun kesulitan istiqomah karena kelelahan sendiri kalau harus mengurus banyak siswa, ibarat bertarung saya seperti seorang diri melawan ratusan orang. Bukannya tercipta perubahan, tapi program berakhir "Mati". Oleh karena itu, saya membutuhkan dukungan dari beberapa pihak seperti:
1. Kepala sekolah yang melegalisasi kegiatan dan menggerakn guru lain. 
2. Guru/ Wali Kelas yang bisa menggerakan siswa di kelas
3 Siswa-siswa yang aktif dalam kegiatan literasi pengalaman saya, tanpa dibantu siswa-siswa aktif aya kesulitan bergerak.
4. Komite
    Dukungan orang tua sangat berarti karena biasanya orang tua yang memberikan dorongan kepada siswa secara lebih personal. Program yang akan saya luncurkan tersebut tentu saja akan menghadapi banyak tantanga. Saya berdoa semoga saya diberikan kekuatan dan kesehatan untuk melaksanakannya. Semoga dengan adanya program CGP lebih membantu saya MENJADI GURU PENGGERAK LITERASI.

Rabu, 10 November 2021

 

1.2.a.6 Refleksi Terbimbing Nilai dan Peran Guru Penggerak

·  Apa saja nilai diri saya? (yang terdapat pada bagian mulai dari diri)

            Saya adalah guru yang reflektif. Hampir semua kejadian yang saya alami selalu menjadi refleksi diri dan pembelajaran diri. Hal tersebut membuat saya selalu berupaya memperbaiki diri dari waktu ke waktu khususnya dalam pembelajaran di kelas. Hal itu pula yang mendorong saya menjadi mandiri dalam mencari ilmu untuk menambah wawasan saya terkait profesi saya. Saya tentu selalu berupaya untuk berpihak pada murid, apa yang saya lakukan ya tujuan utamanya agar saya dapat menyajikan pembelajaran yang terbaik untuk murid saya. Karena secara mandiri saya sering mengikuti pelatihan, tentu beberapa hal yang inovatif pernah saya lakukan dan bahkan saya merasa sering dapat memberikan ide yang kreatif di lingkungan sekolah atau teman-teman.

Akan tetapi, sejujurnya pula saya kurang bisa kolaboratif dan kurang luwes dalam berinteraksi dengan teman-teman di lingkungan sekolah dan komunitas lainnya juga dengan siswa. Sikap kurang percaya diri dan tidak suka menjadi pusat perhatian begitu sulit dihilangkan sejak saya mengalami hal buruk saat masa-masa SMA. Saya seperti kehilangan jati diri saya ketika seorang guru “membuka” semua hal buruk tentang saya. Tapi satu sisi pula dia yang memberi saya motivasi untuk maju dan bergerak dan memberi perubahan yang banyak terhadap saya di masa depan. Menjadi guru mengubah banyak hal dari saya, bahkan guru SMA tersebut mengatakan, “Ibu bangga kamu betul-betul telah berubah 360 derajat dari awalnya siswa yang dingin, kaku, pemurung, penyendiri, dan tidak percaya diri menjadi guru yang lebih percaya diri, banyak berkegiatan dan mampu melakukan hal-hal yang dulu saat sekolah tidak bisa dibayangkan kamu bisa melakukannya.”

 

·  Apa yang saya rasakan setelah mengetahui nilai dari Guru Penggerak? Jelaskan!

            Saya merasa mendapatkan panduan bagaimana seharusnya saya menjadi guru penggerak dan nilai-nilai apa saja yang bisa saya terapkan ketika menjadi seorang guru penggerak. Saya menjadi memahami betul makna Guru Penggerak. Guru penggerak adalah guru yang bergerak dan menggerakan. Seperti seorang nabi memiliki misi berdakwah atau menyampaikan kebenaran, seorang guru penggerak membawa misi perubahan menuju siswa berkarakter dan terwujudnya profil pelajar pancasila dan hal itu dimulai dari diri sendiri hingga harapannya, setelah mulai dari diri sendiri lingkaran pergerakan akan semakin meluas. Harapannya, semua guru memiliki nilai dan tujuan yang sama dalam mendidik. Hal yang sama adalah terkait tujuan. Hal lainnya cara dan proses setiap guru memilki kreativitas masing-masing.

 

·  Apa saja nilai diri Guru Penggerak yang sudah saya miliki sekarang? 

Nilai yang sudah ada dalam diri saya adalah:

1.        Reflektif

Setiap selesai mengajar saya selalu berpikir tentang hal yang sudah saya lakukan dan kesulitan apa yang dilalui juga kendalanya dan kedepannya saya mencoba memperbaiki hal yang sudah saya lakukan dengan melakukan hal baru atau berinovasi. Kadang pula saya menuliskan hasil refleksi saya di medsos atau media online seperti website Disdik KBB dan Kompasiana.

Salah satu conto misalnya saya merefleksi ketika di awla pembelajaran saya bingung kenapa siswa sulit sekali konsentrasi dan memusatkan perhatian kepada saya. Oleh karena itu saya mencoba mengawali pembelajaran dengan mendongeng terlebih dahulu. Di masa pandemic saya merasakan banyak sekali kendala dalam menghadapi PJJ. Oleh karena itu saya melakukan beberapa perlakuan seperti menggunakan teknologi baru, melakukan pendekatan ke rumah-rumah dll. Hal yang saya rasakan ketika saya menghadapi PJJ teryata siswa itu tidak begitu tertarik dengan hal baru (Perangkat teknologi ) yang saya gunakan karena mereka sebenarnya sudah sering mencoba hal baru dalam hal teknologi. Tapi, yang mereka butuhkan saat pandemic adalah perhatian saya secara individu kepada mereka.

Setelah mengikuti CPG, saya pun merefleksi bahwa perangkat teknologi yang terbaik bagi siswa itu bukan kecanggihan gurunya, tetapi bagaimana “Kecangihan” mereka ditantang dan dieksplorasi.

 

2.         Mandiri

Saya selalu merasakan bahwa apa yang saya lakukan belum maksimal oleh karena itu saya butuh masukan ilmu baru, atau hal baru dalam pembelajaran. Saya pun biasanya mengikuti beragam pelatihan secara mandiri tanpa diminta oleh sekolah seperti pelatihan Pembatik atau rangkaian pelatihan yang terdapat di dalm SIMPKB, Ruangguru dll

 

mandiri.jpgmandiri 2.jpgMandiri 3.png

 

3.         Inovatif dan  Kreatif

Saya juga sering melakukan hal-hal baru di sekolah baik di dalam kelas atau pun di luar kelas (Membimbing Literasi). Saya biasanya mencoba mempraktekan apa pun yang sudah saya dapatkan dari beberapa pelatihan. Kadang pula saya berinovasi bukan tentang teknologi. Tapi misalnya ketika dihadapkan pada situasi yang sulit, seperti saat melakukan gerakan membaca, saya sulit menggiring siswa ke perpustakaan. Kemudian kalau menyimpan buku di kelas, waktu itu sekolah belum digerbang jadi banyak orang yang merusak buku di keas. Saya pun berinovasi emmbuat perpus kardus. Buku-buku dimauskan ke kardus, lalu TIM Literasi kelas membawa kardus itu setiap pagi dan mengembalikannya saat kelas bubar. Saya juga mengadakan berbagai lomba secara mandiri untuk meningkatkan  minat baca siswa.

Inovasi 2.jpginovatif 3.pngInovasi.jpgKreatif 2.jpginovatif2.jpgPerpus Kardus.jpgPojok Literasi.jpgkreatif 3.jpgkreatif 1.jpg

 

 

4.        Kolabroratif

Saya berkolaborasi dengan guru lain biasanya di dalam MGMP dan progam lainya. Atau jika di sekolah saya berkolaborasi dengan beberapa guru dalam mengikuti program Tantangan Membaca Bandung Barat. Saya juga kadang melibatkan guru lain dalam kegiatan yang saya lakukan, misalnya meminta mereka membimbin atau menjadi juri lomba. Saya juga aktif dalam kegiatan Newsroom, website KBB menjadi bagian dari guru penulis dan beberapakali mengadakan kegiatan pelatihan kepenuilisan untuk guru. Saya juga menjadi pengurus PGRI Ranting dan sering berkolaborasi dengan guru lainnya mengadakan kegiatan.

Kolaborasi.jpgkolaborasi 2.jpgkolaborasi 3.jpg

kolaborasi 4.jpgkolaborasi 5.jpg

 

5.         Berpihak pada murid

Saya suka membimbing siswa terutama secara individu. Saya suka jika dapat menemukan keunikan dan potensi setiap siswa. Di dalam pembelajaran saya merasa, siswa sealalu memberikan saya PR, bagaiana caranya aar mereka tertarik belajar dalam mata pelajaran saya atau tidka bosan. Saya juga berusaha menghargai mereka sebagai manusia, mencoba memahami perbedaan sifat, karakter mereka, memahami latar belakang kenakalan mereka, mempelajari pa yang mereka pikirkan dan rasakan. 

Selain didalam kelas, saya paling suka memmbimbing iswa dalam kegiatan membaca . Melihat siswa semangat membaca buku menjadi sesuatu yang mengharukan bagi saya. Oleh karena itu, saya memang dikenal sealalu berkaitan dengan literasi.

 

berpihak pada murid 2.jpgberpihak pada murid 3.jpgberpihak pada murid 5.pngberpihak pada murid.jpgberpihak pada murid3.jpgMelatih siswa.jpg

 

·  Diantara nilai-nilai yang sudah saya pelajari, nilai apa yang saya rasa perlu saya kuatkan? jelaskan!

Saya perlu  membiasakan diri lagi dalam nilai kolaboratif dan juga berpihak pada murid. Saya memahami secara prinsip keberpihakan kepada murid dan juga kolaboratif. Akan tetapi dalam pelaksanaanya saya merasa belum bisa maksimal terutama dalam pembelajaran di kelas antara harapan ideal saya dengan praktiknya masih belum sejalan.

Sudah hampr 15 tahun saya mengajar, kesulitan mengajar di kelas selalu saya temui meskipun sudah beragam cara saya lakukan. Sepertinya memang hal ini akan terjadi selama saya menagajar karena setiap ana terlahir dari aman yang berbeda. Oleh karena itu, saya merasa selalu kembali ke titik nol

Hal paling sulit bagi saya adalah “mengajak” orang lain untuk mengikuti kegiatan yang saya lakukan.  Oleh karean itu berkolaborasi merupakan hal yang perlu saya kuatkan. Hal ini seperrtinya karean saya kurang luwes dalam pergaulan dan mungkin mudah menyerah terhadap orang kain. Seharusnya saya lebih sabar dan melakukan berbagai upaya menuju perbaikan dan perubahan.Ketika mendapat penolakan kadang saya berhenti. Padalah sharusnya melakukan dengan berbagai cara agar bisa berdampakmbagi banyak orang.

 

·  Apa yang saya rasakan setelah mengetahui peran dari seorang Guru Penggerak?

            Hal yang saya rasakan ketika mengetahui peran Guru Penggerak adalah tanangan. Saya merasa peran menjadi guru penggerak itu adalah tantangan yang cukup besar. Barangkali sejaih ini saya seudah melakukan peran tersebut sejauh yang saya bisa, tapi masih di lingkungan sekitar dan terbatas pada diri sendiri. Dengan adanya peran guru penggerak tersebut aya merasa bahwa seorang guru pengerak harusmulai bergerak dan mencari strategi agar segala tujauan dari pendiikan ini bisa meluas kepada pihak lain atau teman-teman sesama guru.

             

·  Apa yang bisa saya lakukan (khusus untuk diri saya) untuk menguatkan peran dan nilai Guru Penggerak?

            Hal yang perlu saya lakukan adalah banyak mencoba mempraktikan apa yang sudah dipelajari dalaam pelatihan CGP ini. Banyak berdiskusi dan saling berbagi pengalaman dengan CGP lain dalam mengatasi kesulitan. Hal pertama yang dilakukan tentu memulai dari diri sendiri berupaya menerapkan nilai-nilai dan peran guru penggerak secara bertahap dan konsisten. Setelah itu semua barangkali kedepannya bisa berdampak bagi rekan lainnya.

 

·  Apa yang akan menghambat saya dalam memperkuat peran dan nilai Guru Penggerak dalam diri saya?

Faktor penghambat saya adalah sikap kurang percaya diri saya dan juga mental saya dalam menghadapi tantangan. Meskipun, teman-teman saya tidak melihat kalau saya mengalami kridid percaya diri. Akan tetapi yang saya rasakan saya masih saja merasa tidak percaya diri ketika harus berinteraksi dengan banyak orang.

 

Jurnal Refleksi Ke-24

Jurnal Refleksi Ke-24 (13 Juni s.d 18 Juni 2022) Model 5: Connection, challenge, concept, change (4C) Pada Minggu ini saya melakukan Pendapi...