3.1.a.10. Aksi Nyata Praktik Menjadi Pengambil Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran
Pengambilan Keputusan
Untuk Kasus Nadya, Murid yang Izin Tidak Masuk Sekolah Karena Mudik
Saat Ujian Sekolah (US) kelas 9 yang bertepatan dengan bulan
puasa, murid saya bernama Nadya kelas 8A, meminta izin tidak masuk sekolah
setelah liburan US karena akan segera mudik ke Jakarta sebelum liburan US.
Padahal setelah US, kelas 8 masuk sekolah lagi selama seminggu. Setelah itu
baru libur Idul Fitri. Tentu saja secara spontan saya tidak mengizinkan karena
berarti Nadya tidak sekolah selama seminggu. Tapi, Nadya mengatakan bahwa dia
dan keluarganya sudah memesan tiket untuk mudik ke Jakarta dan kalau misalnya Nadya
bolak balik akan menjadi beban biaya untuk keluarga dan secara waktu pun kurang
efektif, padahal situasi mudik sedang pada titik puncak kemacetan
Jakarta-Bandung.
Pada situasi itu, sejujurnya saya mengalami kebingungan di
dalam memberikan keputusan. Jika saya izinkan
tentu saya membiarkan Nadya tidak mengikuti pembelajaran selama seminggu dan
akan menimbulkan kecemburuan pada anak lainnya karena Nadya bisa izin sekolah
lebih lama dari yang lainnya. Akan tetapi, jika saya berada pada posisi Nadya
dan keluarganya ,saya juga akan keberatan harus pulang pergi Jakarta-Bandung dalam
waktu dua minggu dengan situasi kemacetan dimana-mana dan harus mengeluarkan
biaya double.
Gambar1: Nadya Izin
Mudik
Kebetulan, pada saat terjadi Kasus Nadya, saya sedang mempelajari tentang materi Pengambilan Keputusan Sebagai pemimpin Pembelajaran. Saya pikir, kasus Nadya ini bisa saya putuskan dengan mempraktikan materi yang sudah saya dapatkan, yaitu dengan Empat Paradigma Dilema Etika, Tiga Prinsip Pengambilan Keputusan dan Sembilan langkah pengambilan keputusan. Saya pun menuangkan rencana pengambilan keputusan tersebut dalam video yang diupload di Youtobe (Tugas Demontrasi Kontekstua
Gambar 2: Rencana Pengambilan Keputusan
Langkah
pengambilan keputusan bersadarkan Empat Paradigma Dilema Etika, Tiga Prinsip
Pengambilan Keputusan, dan 9 Langkah pengambilan Keputusan:
· Berdasarkan Empat paradigma dilema
etika yang saya hadapi adalah Keadilan lawan Rasa Kasihan Dalam paradigma ini, ada pilihan antara
mengikuti aturan tertulis atau tidak mengikuti aturan sepenuhnya. Pilihan yang
ada adalah memilih antara keadilan dan perlakuan yang sama bagi semua orang di
satu sisi, dan membuat pengecualian karena kemurahan hati dan kasih sayang, di
sisi lain. Di dalam kasus yang saya hadapi saya harus memilih antara pemberian
aturan yang sama untuk Nadya seperti pada anak lainnya lawan rasa empati dengan
kondisi yang dihadapi Nadya.
· Berdasarkan tiga prinsip pengambilan
keputusan, prinsip yang saya gunakan adalah Berpikir Berbasis Rasa Peduli.
· Sembilan Langkah pengambilan Keputusan
1.
Mengenali nilai-nilai yang saling
bertentangan
Kasus
Nadya ini menurut saya merupakan kasus yang menyangkut dilema etika karena
meskipun terkesan sepele hal ini berkaitan dengan sikap Nadya di masa yang akan
datang ketika berhadapan pada situasi seperti ini. Nadya harus memahmai
tanggung jawab dirinya sebagai bagian dari masyarakat yang memilki aturan tapi
juga kepentingan diri yang seringkali sulit dihindari. Begitu juga dengan
teman-temannya. Mereka tentu akan belajar bagaimana sebuah aturan ditegakan
dengan adil tanpa pandang bulu. Akan tetapi, ada satu situasi mereka harus
belajar berempati dengan situasi dan kondisi yang dihadapi orang lain. Jadi ada
dua nilai yang bertentangan dalam kasus ini yaitu nilai Keadilan lawan rasa Kasihan.
2.
Menentukan siapa yang terlibat dalam
situasi ini.
Permasalahan
ini merupakan dilema yang dihadapi saya sebagai guru untuk mengambil keputusan
apakah akan mengijinkan Nadya libur seminggu atau tidak. Juga menjadi dilema
Nadya apakah ketika dia mengambil libur di luar libur sekolah karena alasan
mudik dll merupakan putusan yang tepat bagi moral dirinya atau tidak.
3.
Kumpulkan
fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini.
· Sekolah sedang melaksanaka Ujian Sekolah kelas 9, Nadya siswa kelas 8 otomatis libur selama US dan pemeriksaan.
· Setelah libur US, Nadya Seharusnya sekolah selama seminggu sebelum libur Idul Fitri
· Orang tua Nadya memutuskan mudik ke Jakarta ketika nadya mulai libur US, karena tanggung sekalian mudik, Nadya pun meminta izin ke sekolah selama seminggu
· Sekolah memilki aturan jika izin lebih dari 2 hari, hari ke-3 alpa (bolos)
· Nadya
beralasan bahwa dalam situasi mudik tidak memungkinkan untuk bolak balik anatar Jakarta- Bandung dan
tiket sudah dibeli dan harganya tidak
murah
· Nadya
salaam ini anak yang rajin dan paling aktif di kelasnya, tidak pernah bolos
tanpa alasan
· Nadya
bisa saja tidak sekolah tanpa izin pada wali kelas, tapi dia meminta izin
· Guru
mapel lain belum tentu mengizinkan
4.
Pengujian
benar atau salah
·
Uji legal
Tidak ditemukan aspek pelanggaran hokum dalam kasus ini
·
Uji regulasi
Tidak ada aspek pelanggaran kode etik di sekolah dlam kasus ini
·
Uji
Intuisi
Ada hal yang memang salah karena seharusnya skolah tapi ambil libur lebih lama
·
Uji
Publikasi
Jika dipublikasikan kasus ini tidak mengandung unsure memalukan biasa saja
· Uji panutan/idola
Jika guru saya (idola) dihadapkan pada situasi ini,
speertinya beliau akan mengizinkan dengan sebuah konsekuensi
5.
Pengujian
Paradigma Benar lawan Benar.
Berdasarkan dilema etika yang terjadi adalah kebenaran
tentang oenegakan keadilan lawan rasa kasihan
6.
Melakukan
Prinsip Resolusi
Prinsip Resolusi yang dipakai adalah prinsip berbasis
rasa peduli karena situasi mudik dan tiket yang dibeli mahal
7.
Investigasi
Opsi Trilema
Setelah melihat 6 uji langkah di atas, saya pikir Nadya bisa saja diberi izin untuk tidak
sekolah dengan konsekuensi nadya melakukan tugas secara daring. Selama
pembelajaran daring di masa pandemic pun Nadya aktif mengerjakan pelajaran
semua mapel.
8.
Buat
Keputusan
Akhirnya keputusan yang diambil adalah memebrikan
Nadya izin untuk tiak sekolah setelah US, tapi Nadya harus mengerjakan tugas
secara daring dan meminta tugas kepada masing-maisng guru
9.
Lihat
lagi Keputusan dan Refleksikan
Saya kira keputusan yang saya ambil
sudah tepat karena Nadya tetap bertanggung jawab dengan mengerjakan tugas
secara daring dan Nadya pada dasarnya anak yang rajin dan bertanggung jawab. Selain itu, dilihat dari beberapa
langkah terutama langjah uji benar dan salah. Tindakan Nadya ini bukan sebuah
kesalahan tetapi merupakan situasi dilema etika
Gambar 3: Penyampaian Hasil Keputusan Pada Nadya
Setelah melakukan pengambilan langkah untuk membuat sebuah
keputusan, saya merasa lega dan lebih percaya diri bahwa keputusan yang
saya ambil sudah merupakan keputusan yang terbaik meskipun tetap setiap
keputusan seallau ada konsekuensinya. Akan tetapi, saya jadi tidak berkutat
pada kebingungan dalam mengambil keputusan dan tidak juga merasa bersalah
setelah mengambil keputusan.
Pembelajaran yang saya
dapatkan setelah
menghadapi kasus pengambilan keputusan, saya pikir penegakan aturan harus
dilakukan tanpa toleransi. Akan tetapi, ternyata toleransi itu harus ada pada
situasi tertentu. Seorang pemimpin pembelajaran di dalam melakukan proses
pengambilan keputusan dilema etika akan lebih bijaksana seiring dengan waktu dan
terus berlatih dihadapkan pada banyak kasus yang dihadapi. Ketika sudah memutuskan
berdasarkan teori pengambilan keputusan tentu bukanlah langusng menjadi
kebenaran mjtlak dan menjadi keputusan yang tepat. Seorang pemimpin
pembelajaran tetap harus memilki sikap sabar dan kekuatan mental dalam
menghadapi beragam reaksi setelah putusan digulirkan.
Penerapan Ke Depannya saya akan terus memakai
langkah-langkah pengambilan keputusan baik di dalam lingkup pekerjaan atau pun
di dalam kehidupan di keluarga terkecil saya. Seiring dengan waktu, saya yakin saya
akan semakin mahir, yakin dan bijak di dalam mengambil keputusan.

