Kamis, 31 Maret 2022

REFLEKSI PEMIKIRAN KHD DALAM RENCANA PEMBELAJARAN

 

REFLEKSI PEMIKIRAN KHD DALAM RENCANA PEMBELAJARAN

Ema Damayanti, M.Pd

(SMPN 2 Cililin)

Menelusuri filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara memang selalu menarik. Salah satu contoh konsep Ki Hajar tentang “menghamba kepada anak” tentunya juga menjadi sebuah perenungan yang tidak jarang mendapat penolakan dari orang yang baru mendengarkan tentang konsep tersebut.

Misalnya seperti pernyataan berikut, “Rasanya tidak masuk akal jika seorang guru harus menghamba pada seorang anak. Apakah guru akan memberikan kebebasan pada anak berbuat sekendaknya?, apakah ketika siswa berbuat keburukan, berprilaku tidak sopan kita biarkan saja?”

Menghamba pada anak dimaknai sebagai rasa penghargaan guru terhadap siswa sebagai manusia yang memiliki kodrat bawaan dari sang pencipta dan juga terlahir dari zaman yang dinamis. Siswa bisa merasa, berpikir, berkreasi sesuai dengan bakat dan minatnya. Tapi, juga berhak memiliki kebahagiaan dari proses belajarnya, bukan rasa terpenjara ketika mengikuti pembelajaran atau ketika mendapatkan didikan.

Memberi kebebasan, kemerdekaan pada anak dalam proses pendidikan bukan berarti bebas tanpa tuntunan. Akan tetapi, guru  memerdekakan anak dari segala pilihan hidupnya sesuai potensi yang dimilikinya bukan atas kehendak guru menjadi manusia seperti dalam gambaran ideal guru dan orangtua.

Dengan demikian, tugas guru bukan membentuk siswa tapi menuntun. Guru menjadi fasilitator untuk memunculkan dan mengembangkan segala potensi yang dimiliki siswa yang pastinya memiliki banyak perbedaan pada setiap siswa atau istilah Howard Garder memiliki perbedaan gaya belajar. Tugas guru hanya memberikan teladan (Ing ngarso song tulodo), memberikan semangat dalam proses siswa belajar (Ing madyo mangun karso) dan memberikan dorongan untuk siswa agar menemukan potensi dirinya ( Tut Wuri Handayani)

Akan tetapi, kenyataannya ketika guru berhadapan lansung dengan siswa, konsep pemikiran KHD pun sering mendapatkan beberapa tantangan. Contohnya dalam kurikulum pendidikan di Indonesia saat ini, ada 12 Mata Pelajaran yang haris dikuasai siswa. Secara logika, tidak mungkin bagi siswa akan menyukai semua mapel tersebut, apalagi dengan gaya mengajar guru yang statis. Timbul pertanyaan, “Bagaimana memberikan kemerdekaan belajar, sementara siswa harus mempelajari mapel yang tidak disukainya?”

Hal yang memungkinkan bisa dilakukan guru adalah merencanakan pembelajaran yang bisa menarik minat siswa. Siswa saat ini adalah siswa yang hidup dengan handphone, games, idola K-Pop, anime, tiktok dll. Guru tidak bisa “Menutup mata” dengan hal itu. Oleh karena itu, penulis mencoba melakukan perencanaan pembelajaran yang berupaya memunculkan potensi siswa tersebut.

Pada pembelajaran teks Eksposisi, guru mengawali pembelajaran daring dengan meminta siswa menuliskan konsep teks eksposisi dengan beragam cara yang bisa mereka pilih. Siswa boleh mengirimkan catatan manual berupa tulisan tangan yang menarik, bisa dalam bentuk infografis menggunakan aplikasi, atau berupa video yang diupload di youtube atau pun menggunakan media tiktok.

Hasilnya luar biasa, dalam waktu singkat siswa mampu membuat video  dan juga tiktok yang menarik terkait teks eksposisi tersebut. Guru hanya memberikan masukan agar tulisan yang dimunculkan diberi waktu lebih lama agar bisa dibaca dengan detil.

Hasil video yang dibuat siswa tersebut bisa dievaluasi oleh guru untuk mengukur pemahaman mereka terhadap konsep teks eksposisi dan guru dapat memberikan penguatan.

Penulis mendapatkan pengalaman bahwa hasil karya siswa tidak lepas dari Korean Wave atau Hallyu,  latar musik video dan foto-foto yang dipakai siswa dalam membuat video teks Eksposisi hampir semua menggunakan lagu BTS.

Oleh karena itu, di dalam merencanakan pembelajaran kedepan dalam teks Eksposisi, guru akan memberikan contoh esai (Tulisan teks eksposisi) terkait Hallyu tersebut yaitu tulisan Heri Nurdiansyah, guru SMP Al Irsyad Padalarang Bandung Barat yang dimuat di Surat Kabar Harian, Pikiran Rakyat 27 Oktober 2021 yang berjudul, “Gelombang Korea dan Sumpah Pemuda” Hal tersebut bertujuan agar teks yang dibicarakan lebih menarik perhatian siswa sehingga mereka tertarik membaca.

Teringat dengan pernyataan KHD bahwa anak didik harus diajarkan tentang wawasan kebangsaan sejak dini, agar mereka tetap “berpijak”  pada budaya bangsa. terkait hal itu, penulis tidak akan melakukan penolakan terhadap kesukaan anak didik terhadap BTS.

Akan tetapi, pendidik akan mencoba mengarahkan kesukaan mereka ke arah yang positif yaitu mengikuti semangat Korea dalam mempublikasikan budaya mereka supaya dikenal dunia. Harapannya, di akhir pembelajaran siswa dapat menuliskan atau memberikan ide mereka dalam bentuk teks eksposisi tentang tema membumikan budaya Indonesia ala BTS.

Profol Penulis:

Ema Damayanti, M. Pd.  Merupakan Guru SMP Negeri 2 Cililin. Saat ini tinggal di Warung awi Cililin. Pernah menulis beberapa buku antologi dan 2 buku tunggal yang berjudul, “Embun di Atas Daun Teh” dan “Jangan Lagi ditelan Paus” Penulis juga merupakan salah satu Koordinator TMBB (Tantangsn Membaca Bandung Barat) di SR4.


REFLEKSI KRITIS PEMIKIRAN KI HAJAR DEWANTARA

REFLEKSI KRITIS PEMIKIRAN KI HAJAR DEWANTARA  

Saya merasa bangga memiliki sosok Bapak Pendidikan seperti Ki Hajar Dewantara. Semua pemikiran beliau tentang pendidikan dan pengajaran sudah sesuai dengan karakteristik bangsa. Pendidikan menurut Ki Hajar adalah proses membantu anak berkembang maksimal sesuai kodrat dan potensi yang dimilikinya baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat agar mencapai kebahagiaan setinggi-tingginya.  Pendidikan yang memanusiakan manusia dan memerdekakan lahir dan batin. Ketika seorang Individu merasakan dirinya ditempatkan sebagai manusia. Bisa merdeka lahir dan batinnya tanpa tekanan, tentu individu tersebut akan berkembang lebih pesat. Pengajaran yang merupakan bagian dari pendidikan juga mengajarkan anak pengetahuan dan keterampilan agar bermanfaat bagi kehidupan lahir dan batin.

                Pemikiran Ki Hajar Dewantara sebenarnya sudah tercermin dalam tujuan pendidikan di Indonesia saat ini, apalagi dengan adanya konsep merdeka belajar, saya pikir pendidikan di Indonesia sudah sejalan dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara. Akan tetapi dalam pelaksanaannya, saya justru menemukan pendidikan di Indonesia masih mencari jati diri. Secara normatif, semua program yang dijalankan sudah sangat baik. Akan tetapi, dalam pelaksanaanya apalagi jika sudah menjadi kebijakan di tingkat “bawah”, terlihat masih kebingungan mengaplikasikan tujuan pendidikan yang dikehendaki.
                Sebagai guru, selama ini saya berupaya menyajikan pembelajaran yang bisa membuat siswa bahagia dan senang. Saya berupaya menumbuhkan potensi setiap anak yang berbeda-beda. Semua anak seperti apa pun mereka, harus diberi pendekatan yang berbeda. Saya berupaya untuk mendukung mereka, dan tidak sekali-kali mematahkan harapan mereka ketika sedang belajar. Istilahnya, saya berupaya menjadi pemandu sorak bagi siswa yang memang dasarnya sudah baik, berprestasi. Tapi  saya juga berupaya menjadi motivator bagi mereka yang merasa kurang percaya diri agar mereka bisa meyakini bahwa mereka memiliki kelebihan. Saya juga memahami konsep multiple intelegen yang dikemukakan Howard Gardner, bahawa semua anak cerdas, hanya berbeda pendekatan gaya belajar.
                 Akan tetapi, di dalam praktiknya saya juga sering dibuat bingung tentang cara “mendidik” dan “mengajar” anak didik saya. Contohnya, di masa pandemi, semua guru memberikan tugas dengan berbagai cara dan menggunakan beragam teknologi. Siswa dengan potensi diri sudah  bagus dan latar belakang keluarga yang perhatian, tentu tidak perlu mendapatkan bimbingan yang intensif. Motivasi belajar sudah tumbuh dalam diri mereka sendiri. Akan tetapi, bagi siswa lain yang tidak mendapatkan perhatian orang tua, tidak  memiliki fasilitas, akhirnya guru lebih sering seperti penagih utang, ketika meminta tugas. Saya mulai berpikir, “Apa ini yang diharapkan pendidikan?” Ketika saya mencoba Home Visit dengan menggunakan sistem belajar kelompok menurut wilayah terdekat siswa, saya baru merasakan posisi seperti siswa-siswa saya. Sepulang dari rumah mereka, saya  menitikkan air mata. Kesimpulan yang saya dapatkan, “Anak-anak itu hanya butuh bimbingan”
                   Saya berharap, setelah saya mengikuti program CGP dan belajar lebih intensif tentang pemikiran Ki Hajar Dewantara ini, saya mendapatkan pencerahan dan dapat memahami secara lebih holistic penerapan filosofi Ki Hajar Dewantara dalam pembelajaran. Saya jadi lebih bisa merancang pembelajaran yang berpihak pada siswa dan bisa bermanfaat bagi mereka kelak di masa yang akan datang dan tentu saja membuat mereka bahagia.


JURNAL REFLEKSI MINGGU KE-2

 Minggu, 31 Oktober 2021

                Minggu ini pembelajaran modul 1.1 dalam konsep MERDEKA sampai pada aktivitas DEKA (Demonstrasi Kontekstual, Elaborasi Pemahaman, Koneksi  Antarmateri, dan Aksi nyata di lapangan. Saat Demonstarsi Kontekstual saya sempat kebingungan menyampaikan  “cara” merefleksi pemahaman saya terhadap pemikiran KHD dalam sebuah karya. Saya akhirnya memutuskan untuk melakukannya dengan membuat sebuah puisi akrostik dari singkatan Ki Hajar Dewantara. Saya sebenarnya kurang puas dengan hasil karya yang saya buat, apalagi jika melihat karya teman lain yang memang sudah sangat bagus. Saya akan berusaha lebih baik lagi kedepannya dan lebih maskimal dalam menuangkannya.

Sebenarnya hal terpenting adalah saya mampu memahami pemikiran KHD tersebut dan mempraktikannya di depan kelas. Saya memiliki ide untuk mempraktikan hasil belajar saya memhamai KHD juga hasil diskusi kelompok dengan memberikan tugas kepada siswa kebetulan kelas 8 saat ini untuk mapel bahasa Indoensia masih daring dan baru tatap muka nanti pada Mingu ke-2 bulan November. Saya coba memberikan tugas yang berbeda sesuai dengan kodrat zaman siswa yaitu dengan memberikan kemerdekaan terhadap siswa untuk mengumpulkan tugas dalam bentuk apa pun yang mereka kuasai seperti video, tulisan tangan dengan hiasan, audio, tik tok, dll.

Setelah melontarkan tugas yang berbeda seperti itu, betapa bahagianya saat siswa mengumpulkan tugas, “Kok anak sekarang memang keren-keren” Mereka bisa membuat video dalam waktu singkat tanpa diajarkan seperti apa cara membuatnya. Karya tulisan tangan mereka juga ternyata bagus. Saya jadi lebih memahami “selera” siswa saya dan juga “Cara berpikir” mereka. Mereka juga ternyata memiliki kodrat atau landasan moral yang baik menurut versi mereka. Dulu, saya pikir kesukaan siswa terhadap BTS (KPOP), Games, sama sekali tidak ada manfaatnya. Tapi ternyata, landasan kesukaan mereka terhadap BTS salah satunya karena katanya BTS masih muda sudah menginspirasi dan bisa membanggakan orang tua. Ada juga yang mnegatakan  dari games saya belajar ketelitian, dari anime saya belajar menghargai orang lain dll. Ternyata guru hanya perlu memahami mereka dan mengarahkan ke hal yang lebih baik. Misalanya soal kesukaan pada budaya Korea, guru tinggal mengarahkan bagaimana agar mereka bisa meniru kesuksesan BTS dengan membumikan budaya Indonesia di kancah dunia.

Hal menarik lainnya, ternyata saya menemukan bahwa ada siswa saya yang suka menulis novel di Watpadd, tapi anak tersebut jarang mengerjakan tugas sekolah. Kemudia saya beri motivasi agar siswa tersebut menulis novel yang didalamnya terdapat muatan materi pelajaran. Hal tersebut membuat siswa merasa tertantang dan bahkan dia katakana mau membaca materi pelajran agar bisa buat novel yang berisi muatan matematika, IPA, IPS, dan pelajaran lainnya. Satu hal lagi momentum eureuka pada murid saya, ternyata siswa itu sangat suka diberi tantangan sesuai dengan bakat minat mereka.

Sebelumnya, saya biasanya memberikan tugas dengan menggunakan google classroom kemudian siswa mengisi tentang pertanyaan yang saya buat atau juga saya buat perintah tugas di canva, kemudian siswa menjawab secara manual dalam bentuk tulisan. Setelah saya evaluasi ternyata, siswa memang beragam. Ada yang merasakan bahwa tugas yang saya berikan itu seru dan menantang. Tapi ada juga siswa yang memang lebih mudah mengerjakan tugas dengan daring dengan menggunakan google classroom. Ada juga yang lebih suka mengerjakan dengan cara manual ditulis tangan lalu dikumpulkan ke sekolah. Hal tersebut tergantung dari fasilitas belajar yang mereka miliki. Sepertinya, guru harus memberikan motivasi dan penguatan bahwa semua tugas seperti apa pun caranya dan seperti apa pun teknik pengumpulannya semua bagus dan diperbolehkan. Setiap cara pasti memilki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

                Kedepannya sebelum pembelajaran dimulai, saya ingin melakukan survey kepada siswa terkait kemampuan dan potensi dasar yang mereka miliki. Misalnya ketika siswa suka sekali membuat novel di Watpad, saya akan coba meminta siswa tersebut menuliskan tugas-tugas konsep bahasa Indonesia dalam bentuk Novel saja. Ketika siswa hobi membuat video, games dll saya buatkan tugas khusus untuk anak tersebut mengumpulkan tugas dalam bentuk video dll. Saya pun akan coba mencari tahu profesi setiap orang tua siswa, seingga nanti saya bisa meminta orang tua menjelaskan satu materi yang memang cocok dengan materi ajar dan juga profesi orang tua tersebut.

Perubahan yang saya lakukan dalam penugasan pembelajaran bahasa Indonesia mendapat apresiasi dari rekan kerja dan juga siswa. Guru sesama Mapel Indonesia yang mengampu di kelas 8 sama dengan saya ikut merasa senang karena ternyata hasil anak begitu kreatif. Beberapa siswa pun merasa  senang karena ternyata tugas membuat video itu seru.

Rancangan pembelajaran yang akan saya lakukan untuk kedepannya adalah pembelajaran tatap muka masih dengan materi yang sama unsur teks eksposisi. Saya akan membuat aktivitas pembelajaran dengan metode games. Hal tersebut sesuai dengan pemikiran KHD bahwa Pembelajaran dengan games sesuai dengan kodrat zaman siswa yang memang menyukai tantangan. Pembelajaran tersebut sudah sesuia prinsip Ing Madyo Mangun Karso dan Tut wuri handayani, guru hanya sebagai fasililitator dan pemberi motivator, pembelajaran berpusat pada siswa. 

Setelah mempelajari pemikiran KHD ada beberapa hal yang berubah tentang cara pandang saya terhadap siswa. Saya lebih terbuka dengan hal-hal yang disukai siswa dan tidak lagsung melontarkan nasihat. Akan tetapi mencoba memunculkan terlebih dahulu potensi mereka. Jika sudah ditemukan baru memberikan masukan yang akan membuat mereka lebih tertantang dan lebih berprestasi. Hal lain yang berubah adalah saya merasa harus lebih memahami siswa seprti apa pun mereka baik dari sikap dan perilaku betul-betul menghamba kepada siswa dalam artian, saya ini pamong dan mereka adalah anak-anak yang membutuhkan bimbingan dan arahan. Jadi kalau aanak berbuat salah harus diluruskan bukan dimarahi karena boleh jadi mereka belum mengerti kesalahan yang dilakukan.

JURNAL REFLEKSI KE-1

 JURNAL REFLEKSI MODEL 1🤩

Ema Damayanti_SMP Negeri 2 Cililin

Sabtu, 23 Oktober 2021

Minggu ini, di dalam LMS CGP masih mempelajari Modul 1.1. Refleksi Filosofis Ki Hajar Dewantara. Dalam alur MERDEKA, baru melewati tahap MER ( Mulai dari Diri Sendiri, Eksplorasi Konsep, dan Ruang Kolaborasi). Pada pembelajaran Refleksi Filosofis Ki Hajar Dewantara ini saya banyak menyelami pemikiran-pemikiran Ki hajar Dewantara dari membaca materi-materi dan Video yang disajikan juga penjelasan dari instruktur saat pertemuan google meet. Saya juga sudah menghasilkan satu video refleksi yang saya buat sendiri, satu buah tulisan tentang refleksi pemikiran KHD yang rencana akan saya kirim di media online dan juga 1 buah tulisan lagi hasil dari refleksi diskusi kelompok tentang pemikiran KHD yang dikaitkan dengan kondisi sosial budaya. Saya mengalami beberapa kendala seperti kurang rasa percaya diri saat menyimpulkan pemikiran KHD, akhirnya saya baca berulang-ulang materinya bahkan saya cari jurnal tentang pemikiran KHD juga saya tonton video refleksi dari pak Dirjen berulang-ulang. Setelah itu, barulah saya merasa sudah punya gambaran lebih utuh tentang pemikiran KHD. Minggu ini di sekolah saya pun masih PTS, jadi saya belum bisa menerapkan hasil pembelajaran di LMS dalam praktik di sekolah karena PTS dilakukan serentak sesuai jadwal yang ditentukan.

Setelah saya mempelajari pemikiran KHD, saya merasakan bahwa pemikiran KHD tentang pendidikan  ini sudah sangat ideal jika mampu diterapkan di negeri kita. Ya, bagaimana pun pendidikan itu seharusnya membuat siswa dapat mencapai kebahagiaan setinggi-tingginya. Siswa bebas mengeksplorasi dirinya dan menemukan potensi yang ada di dalam dirinya. Akan tetapi, dalam pelaksanaan yang sudah saya lakukan selama ini, saya merasa belum mampu secara maksimal menerapkan pemikiran KHD. Sejauh ini saya memang sudah berusaha membuat pembelajaran menyenangkan, membuat siswa termotivasi, saya pun sebagai guru tidak berhenti belajar agar dapat menyajikan pembelajaran yang terbaik untuk siswa. Saya juga membaca buku-buku pendidikan. Bahkan konsep multiple intelegen yang saya rasakan sesuai dengan pemikiran KHD Sudah saya coba terapkan semampu saya.

Akan tetapi, setelah saya mendengar refleksi pemikiran KHD dari Instruktur, saya merasa bahwa saya memang belum mampu menyajikan konsep merdeka belajar di kelas saya. Saya dibuat sadar dan menangis ketika Instruktur mencontohkan beberapa kasus dialog antara guru dan siswa. Contohnya, saya masih sering menyalahkan siswa saya ketika mereka tidak mau belajar, tidak mengerjakan tugas, bahkan saya menyesalkan pihak orang tua dalam mendampingi anaknya belajar. Setelah mendapat penjelasan dari instruktur, saya kembali merasa ke titik nol, saya belum paham seperti apa cara mendidik dan mengajar anak-anak didik saya bahkan anak saya sendiri. Saya sering “memaksa”mereka untuk melakukan yang saya mau. Akan tetapi, saya sejujurnya masih merasakan kebingungan bagaimana menerapkannya. Berada di dalam kelas saja, ketika tumpukan buku pelajaran bahasa Indonesia yang semua isinya adalah bacaan saya merasa bingung, bagaimana membuat anak-anak saya tertarik dengan membaca?

Ketika saya berkolaborasi bersama teman sesama CGP tentang pemikiran KHD yang dikaitkan dengan kondisi sosial budaya. Hasil dari diskusi membuat saya sendiri kaget, ternyata kami menemukan sebuah kesimpulan bahkan boleh dikatakan sebuah teori  sederhana bahwa siswa di daerah kami adalah daerah transisi bukan desa dan kota maka pembelajaran pun harus disesuaikan dengan kondisi mereka. Siswa sudah paham dengan beragam perangkat digital, bahkan mereka ahli anime, gamers, tiktokers, dll. Sepertinya saya harus mulai terbuka “mendekati” hal-hal tersebut dan mulai merancang pembelaaran yang bisa mengeskplorasi kesenangan mereka dengan hal-hal tersebut, semacam pengalihan dari hal negatif kepada hal positif. Bukankah KHD Mengatakan bahwa pendidikan harus memperhatikan kodrat alam dan kodrat zaman. Mengawali pemahaman saya tentang ini, sepertinya saya harus mulai terbuka dengan hal yang mereka senangi. Memunculkan sisi positif mereka, dan menyuramkan sisi negatif yang ada pada siswa.

Kedepannya, saya berharap saya merasa terbimbing dalam menyajikan pembelajaran di kelas dan dalam melakukan perubahan-perubahan untuk kebaikan siswa-siswa saya. Saya juga berharap dengan mempelajari modul-modul selanjutnya, saya lebih percaya diri dalam membagikan ilmu dan pengalaman  yang saya peroleh selama mengikuti CGP.


Details: (622 words) Created 159 days and 2 hours ago.

Jurnal Refleksi Minggu Ke-11

Jurnal Refleksi Minggu Ke-11

(28 Februari s. d 5 Maret 2022) 

Minggu ini CGP memasuki modul 2.2 Pembelajaran Sosial Emosional. Pada hari Senin, 28 Februari, pembelajaran dimulai dengan membaca Surat dari instruktur. Surat tersebut berisi pernyataan dari instruktur tentang pentingnya Pembelajaran Sosial Emosional bagi guru secara pribadi, guru yang berdampak pada siswa, dan bagi sekolah. Pada kegiatan ini juga disampaikan tentang Tujuan pembelajaran Modul 2.2 yaitu untuk mengelola aspek sosial emosional dan menerapkan pembelajaran sosial emosional dalam lingkup kelas, sekolah, dan komunitas. 

Selanjutnya, saya mulai menelusuri Modul dengan alur MERDEKA yang diawali dengan  M, Mulai dari diri sendiri. Di dalam kegiatan ini, CGP diminta merefleksikan tentang pengalaman yang dialami yang berkaitan dengan masalah sosial emosional. Hal yang membuat guru merasakan emosi positif dan negatif. Secara lengkapnya kegiatan tersebut dapat dilihat didalam blog saya. 

https://emadamayanti29.blogspot.com/2022/02/jurnal-refleksi-ke-9.html?m=1

Setelah mengenali emosi positif dan negatif, saya mulai mengeksplorasi pengetahuan dan wawasan tentang pembelajaran sosial emosional dngan membuka Modul bagian Eksplorasi Konsep. Di dalam modul ini ada 15 slide yang saya baca dan pelajarari. Hasil dari membaca modul saya menemukan hal yang baru yaitu tentang 5 Kompetensi Sosial Emosional yang harus dikuasi yaitu:  

  1. memberikan pemahaman, penghayatan dan kemampuan untuk mengelola emosi (kesadaran diri)
  2. menetapkan dan mencapai tujuan positif (pengelolaan diri)
  3. merasakan dan menunjukkan empati kepada orang lain (kesadaran sosial)
  4. membangun dan mempertahankan hubungan yang positif (keterampilan membangun relasi)
  5. membuat keputusan yang bertanggung jawab.  (pengambilan keputusan yang bertanggung jawab)

Di samping kelima Kompetensi tersebut, saya juga belajar tentang Mindfullness, teknik untuk memberikan kesadaran penuh pada diri dan mempraktikkan teknik STOP untuk mengatasi berbagai situasi sosial emosional yang dialami. 

Pemahaman saya tentang penerapan kompetensi sosial emosional diruncingkan dengan adanya bedah kasus. Analisis terhadap kasus berdasarkan kompetensi Sosial Emosional dapat di lihat dalam blog saya berikut ini. 

https://emadamayanti29.blogspot.com/?m=

Itulah kegiatan yang dilakukan pada Minggu Ke-11. Saya merasakan bahwa pembelajaran sosial emosional sangat dibutuhkan oleh saya secara pribadi untuk mengelola diri dan juga saya sebagai guru agar saya dapat berinteraksi dengan murid, rekan kerja, dan lingkungan sekolah bisa lebih stabil dan terkendali. Saya juga bisa mengambil keputusan yang tepat dalam menjalankan peran sebagai pemimpin pembelajaran. 

Selama saya mengajar banyak sekali situasi yang membuat saya merasa kelelahan, kewalahan, atau hal-hal yang kadang berbeda dengan idealisme saya. 


Minggu, 27 Maret 2022

Jurnal Refleksi Minggu Ke-13

 JURNAL REFLEKSI MINGGU KE-13

(Senin, 21 Maret 2022- Jumat, 25 Maret 2022)

Pada Minggu ke-13 ini, kegiatan saya yaitu mengerjakan alur merdeka Eksplorasi Konsep tentang Coaching. Kegiatan ini bertujuan agar CGP Memahami Coaching dalam konteks Pendidikan, Memahami perbedaan antara konseling, Monitoring, dan Coaching dengan menjawab 12 pertanyaan yang diajukan berdasarkan beberapa kasus video. Selanjutnya, CGP juga dikenalkna dengan beragam jenis komunikasi yang memberdayakan. CGP menjawab 15 pertanyaan dari kasus video dan juga dari materi tentang komunikasi asertif, cara bertanya yang efektif. Eksplorasi konsep yang terakhir yaitu membahas model coaching dengan metode TIRTA (Tujuan, Identifikasi, Rencana Aksi, Tanggung Jawab).

Pemahaman CGP tentang Coaching model TIRTA ini diberikan contoh praktik di dalam LMS, CGP dapat melihat hal-hal apa saja yang ditanyakan dalam setiap tahapan TIRTA dan menjawab pertanyaan terkait tahapan TIRTA yang kemudian diupload untuk didiskusikan bersama CGP lainnya dalam ruang diskusi.

Kegiatan selanjutnya, CGP berlatih praktik Coaching di dalam kelompok dan mendiskusikan di dalam kelompok kecil tersebut tiga kasus yang harus dipraktikan dengan Model TIRTA. Kegiatan tersebut kemudian dipraktikan dan direkam esok harinya dalam kegiatan Ruang Kolaborasi. Berikut ini, saya sertakan link rekaman hasil video kelompok saya yan terdiri dari Bu Nining Sariningsih dari SD Negeri Cipongkor 1, Pak Aip Sopian dari SD Negeri Cijambu, dan Saya Sendiri.

https://youtu.be/FHsyvrRk80o

Perasaan saya sangat  bahagia ketika mendapatkan materi Coaching ini. Semua alur kegiatan pembelajaran membuat saya memahami materi ditambah praktik coaching membuat saya semakin memahaminya. Saya rasa coaching ini sangat bagus dilakukan karena tujuan dari coaching adalah membantu sesama untuk dapat keluar dari permasalahan dengan proses inkuiri, atau soluisi datang dari Coachee sendiri bukan diarahkan oleh Coach. posisi antar coach dan coachee sebagai mitra atau rekan yang saling membantu.

Saat saya melakukan simulasi praktik Coaching saya juga senang bisa beracting, hehe dan berperan sebagai guru yang sedang melakukan coaching teradap siswa yang mengalami kesulitan. Parktik ini membuat saya lebih memahami lagi cara memberikan pertanyaan terbuka dan cara melakukan coaching. 

Kedepannya, saya akan berupaya mempraktikan Coaching dalam komunitas praktisi dan juga terhadap siswa. 





Minggu, 20 Maret 2022

JURNAL REFLEKSI MINGGU KE-12

Senin, 7 Maret 2022- 12 Maret 2022

Kegiatan pada dua minggu di bulan maret ini diawali dengan Kegiatan Ruang Kolaborasi. CGP bersama Fasilitator mengadakan vicon untuk berdiskusi tentang Penerapan pembelajaran sosial dan emosional. Pada kesempatan kali ini CGP dibagi menjadi 4 kelompok, kelompok SD,SMP dan SMA. Esok harinya kembali melakukan Ruang Kolaborasi untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompok. Kemudian, pada hari Rabu (8/3) CGP melakukan Refleksi terbimbing denan menjawab beberapa hal yang sudah dipelajari oleh CGP. Hari kamis (10/3) CGP mengupload tugas Individu yaitu Demonstarsi Kontekstual dengan mengupload RPP yang berbasis Kompetensi Sosial Emosional (KSE). 

Saya sebenarnya sudah pernah melakukan kegiatan yang berbasis KSE meskipun tidak diberi nama RPP KSE. Misalnya, saya melakukan diagnosis Non-ademik, yaitu bertanya tentang perasaan yang mereka rasakan sebelum pembelajaran. Saya juga sering mengajak siswa untuk memahami kesadaran sosial khususnya di dalam kelompok bahwa kita pasti tidak bisa memilih dengan siapa tetangga kita, siapa kelompok kita yang harus dilakukan adalah menyesuaikan diri dan berupaya saling mengisi. 

Pada hari Jumat (11/3) merupakan kegiatan pendampingan Individu dengan Ibu Dini Siti Anggraeni di SMP Negeri 2 Cililin. Pada pendampingan ini, kami mendiskusikan tentang komunitas praktisi  dan apa yang sudah dan akan saya lakukan berkaitan dengan komunitas praktisi. Berikut suasana pendampingan, saat guru dan siswa mengisi kuesioner tentang aksi yang dilakukan CGP

Hari Sabtu (12/3) saya mengikuti Lokakarya 3. Pada hari ini semua CGP bertemu dengan Pengajar Paktik. Juga dihadiri kepala sekolah dan pengawas. Kebetulan saya ditemani oleh rekan guru karena bapak kepala sekolah tidak bisa menghadiri acara lokakarya. Inilah dokumentasi lokakarya 3. 


Pada kegiatan lokakarya, kami membahasa tentang hal yang sudah dilakukan, tantangan, dan harapan terkait dengan Visi Misi Sekolah. Sebelum lokakarya, saya melakukan wawancara kepada siswa dan orang tua siswa dan memberikan angket di Google Form kepada guru tentang kegiatan pembelajaran yang berpihak pada murid. Hasil dari wawancara dan survey tersebut, diperoleh hasil sebagai berikut.



Selama seminggu melakukan kegiatan dan tugas CGP, perasaan saya campur aduk. Saya sangat bersemangat dan merasa bahagia ketika mencari data, wawancara, dan memberikan survey kepada guru, siswa, dan orang tua siswa. Saya merasa bahwa menjaring pendapat dari mereka terkait pembelajaran yang dibutuhkan itu sanngat baik dilakukan guru secara kontinyu karena dengan itu, guru dapat mendapatkan info akurat terkait hal yang akan dilakukan selanjutnya.
Setelah saya mendata pendapat tersebut saya mendapatkan kesimpulan sebagai berikut:
1. Guru setiap mapel membutuhkan sarana prasarana yang membantu proses KBM
2. Guru kesulitan mengaktifkan siswa di dalam kelompok dan membutuhkan pelatihan yang dapat mengatasi hal itu
3. Siswa sanngat suka jika guru melakukan aktivitas pembelajaran yang beragam dan melibatkan teknologi dan internet sekali-kali.
4. Kebanyakan siswa senang dengan kegiatan kelompok, presentasi karena saat itu bisa lebih memahami pembelajaran, tapi ada juga sebagian siswa paling tidak suka belajar kelompok karena merasa dirugikan
5. Siswa juga menyukai sapaan dan perhatian dari guru sekecil apa pun
6. Khusus dengan pembelajaran yang sudah saya lakukan, siswa senang dnegan kegiatan kelompok dan cara saya melayani setiap pertanyaan. Meskipun, sudah dijelaskan berulang kali, tapi ketika ada yang bertanya lagi katanya saya tetap mau menjawab agar siswa paham. Saya juga sudah melibatkan teknologi dan internet hal itu lebih menarik bagi siswa. Hanya saja hampir smeua siswa merasa tidak paham dengan materi kebahasaan. Nah, ini menjadi tantangan saya untuk kedapannya
7. Ssiwa juga sangat menyukai kegiatan ekstarakurikuler yang bisa mengakomodasi bakat dan minat mereka
8. Orang tua jga berharap guru banyak memperhatikan siswa walau dnegan sedikit sapaan karena dampaknya besar bagi siswa. guru juga katanya harus lebih egas menindak siswa yang bersalah jangan melakukan pembiaran terhadap perilaku murid yang kurang sopan.
Berdasarkan kesimpulan tersebut, saya merencanakan akan menrapakan pembelajaran KSE di kelas dan saya juga kana merencanakan kegiatan IHT bagi guru yag berdampak pada murid. Kemudian, ingin juga membuat sekolah saya lebih maju terutama lebih hijau dan rindang dengan program sasisapon (Satu siswa satu pohon) 
 
Senin, 14 Maret 2022- 20 September 2022

Minggu ini Kegiatan diawali dengan Kegiatan Web Meeting dengan Instruktur Sigit Kurniawan pada hari Senin (14/3) Saya lebih memahami tentang pembelajaran KSE dan cara menerapkan KSE di dalam kelas. Ternyata hal yangsaya dapatkan tidak ada dualisme emosi dalam diri seseorang kalau marah itu ya marah tidak ada marah karena sayang. Penting bagi guru dan siswa mengenali perasaan sendiri dan dapat melakukan teknik STOP agar dapat mengelola emosi.
Selanjutnya pada hari Rabu (16/3) merupakan kegiatan Koneksi Antarmateri. Pada kegiatan ini, saya menuliskan hasil kesimpulan materi di Kompasiana. Linkna sebagai berikut.

Seharusnya, pada hari Kamis (15/3) saya sudah mengupload tugas Aksi nyata. Akan tetapi karena di sekolah saya minggu sebelumnya PTS, saya belum smepat mendokumentasikan aksi nyata pembelajaran KSE yang terintegrasi di dalam pembelajaran. 

Hari jumat (18/3) saya pun muali merambah modul baru yaitu modul 2.2. dengan mulai membuka pendahuluan berupa surat dari instruktur tentang materi baru yaitu Coaching. Saya pun menjawab beberapa pertanyaan tentang penerapan KSE di dalam pembelajaran.

Minggu ini saya merasa keteteran karena di samping mngeerjakan tugas CGP, Ibu saya sakit dirwat di RS dan kemudian suami saya menyusul sakit. Saya merasa lalai pada minggu ini terkait tugas yang belum saya kerjakan. Akan tetapi, saya mencoba teknik stop dan memahami situasi yang terjadi. Kedepannya, saya bertekad untuk tetap semangat, lebih disiplin lagi dalam mengerjakn tugas CGP dan menjalankan hal yang sudah menjadi target setiap hari. Saya juga akan terus melatih KSE dalam kehidupan agar berdampak bagi anak saya dan anak didik saya.


Selasa, 15 Maret 2022

KONEKSI ANTARMATERI - PEMBELAJARAN SOSIAL EMOSIONAL IMPLEMENTASI KOMPETENSI SOSIAL EMOSIONAL DALAM PEMBELAJARAN

KONEKSI ANTARMATERI - PEMBELAJARAN SOSIAL EMOSIONAL

IMPLEMENTASI KOMPETENSI SOSIAL EMOSIONAL DALAM PEMBELAJARAN

Pentingnya Kompetensi Sosial Emosional

Setiap manusia pasti memiliki beban pikiran. Entah itu karena masalah yang dihadapi atau beban kerja yang menumpuk dalam satu waktu. Ketika hal itu terjadi pada kita, biasanya yang muncul adalah emosi negatif. Mungkin pernah kita mengalami, saat kita banyak tugas dan harus segera diselesaikan, anak rewel jadi pelampiasan marah pada anak, lalu menyesal dan menyalahkan diri. 

Sebenarnya, bagi seorang guru yang pekerjaannya adalah berinteraksi dengan anak didik, kondisi seperti ini tentu akan sangat rentan. Sebab, tingkah siswa di kelas tentu akan sangat beragam. Kadang ada yang sering berceloteh tidak jelas, ada juga yang belum mengerjakan tugas, tidak disiplin dll. Hal tersebut akan sangat memicu emosi apalagi jika kita sedang dalam kondisi banyak tumpukan pekerjaan yang belum terselesaikan atau permasalahan di rumah. 

Ketika guru mengeluarkan emosi secara spontan dengan marah-marah atau mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan, hal tersebut berbahaya. Banyak kasus terjadi, perkataan buruk seorang guru yang melemahkan anak bisa berpengaruh pada siswa tersebut di masa depan. Begitu sebaliknya, jika perkataan baik seorang guru, bisa diingat lama oleh seorang siswa sampai dewasa.

Oleh karena itu, penting bagi guru untuk menguasai Kompetensi Sosial Emosional agar lebih memahami cara mengelola emosi didalam menjalankan perannya dan juga dapat mendidik murid menjadi manusia yang memiliki kompetensi sosial-emosional. Pembelajaran sosial -emosional ini juga diharapkan dapat menjadikan murid sebagai orang yang memiliki keterampilan untuk mengenali masalahnya dan memecahkannya sendiri. Lima kompetensi sosial-emosional tersebut adalah: Kesadaran Diri, Pengelolaan diri, Kesadaran Sosial-Empati, Keterampilan membangun Relasi, dan Pengambilan Keputusan yang bertanggung Jawab. Secara ringkas, kelima kompetensi tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut.

Lima Kompetensi Sosial Emosional

Kesadaran diri. Kompetensi ini mengajarkan kepada kita untuk dapat mengenali emosi sendiri atau memberi nama emosi yang sedang dirasakan seperti sedih, bahagia, marah, takut, jijik dll. Tujuannya, agar guru dan siswa dapat memberi respon yang tepat terhadap emosi yang dirasakan. Salah satu cara untuk meningkatkan kesadaran diri yaitu dengan melakukan teknik STOP.  STOP merupakan akronim dari: 

Stop/ Berhenti. Hentikan apapun yang sedang Anda lakukan.

Take a deep Breath/ Tarik napas dalam. Sadari napas masuk, sadari napas keluar. Rasakan udara segar yang masuk melalui hidung. Rasakan udara hangat yang keluar dari lubang hidung. Lakukan 2-3 kali. Napas masuk, napas keluar. 

Observe/ Amati. Amati apa yang Anda rasakan pada tubuh Anda? Amati perut yang mengembang sebelum membuang napas. Amati perut yang mengempes saat Anda membuang napas. Amati pilihan-pilihan yang dapat Anda lakukan. 

Proceed/ Lanjutkan. Latihan selesai. Silahkan lanjutkan kembali aktivitas Anda dengan perasaan yang lebih tenang, pikiran yang lebih jernih, dan sikap yang lebih positif.

Pengelolaan Diri dan Fokus Pada Tujuan. Pengelolaan diri merupakan pengendalian diri terhadap emosi negatif yang kita rasakan agar tetap fokus terhadap tujuan yang hendak dicapai. Saat kita stress karena banyaknya tekanan atau tumpukan pekerjaan, emosi negatif secara spontan mungkin saja keluar. Jika tidak dikelola akan menjadikan bumerang bahkan untuk diri sendiri. Oleh karena itu, setelah kita menyadari dan merasakan emosi yang kita rasakan, kita bisa mengelolanya salah satunya dengan teknik STOP yang sudah dijelaskan. Praktik STOP, akan membuat diri kita terasa lebih ringan karena semua beban sudah kita lepaskan dari pikiran sehingga kita akan lebih fokus mengerjakan hal lain sesuai target dan tujaun kita.

Kesadaran Sosial-Empati. Kesadaran sosial merupakan kompetensi yang mengajarkan kepada kita untuk ikut merasakan hal yang dirasakan dan dialami orang lain dari sudut pandang orang lain atau kita sebut dengan istilah Empati. Empati sangat penting dimiliki agar kita dapat bertindak dengan bijak dan tidak cepat bereaksi mengeluarkan emosi negatif ketika dihadapkan pada permasalahan yang berkaitan dengan interaksi dengan orang lain. Langkah-langkah yang bisa dilakukan untuk melatih empati dalam diri kita: • Menaruh perhatian pada perasaan orang lain • Berpikir sebelum berbicara atau bertindak • Meyakini bahwa tidak ada satupun orang di dunia ini yang sama • Menghargai orang lain meskipun berbeda pandangan.

Keterampilan membangun Relasi. Di dalam interaksi sosial, kita tentu tidak akan terlepas dengan konflik, perbedaan pandangan, dll. Jika dihadapkan pada situasi tersebut, kadang banyak diantara kita memilih untuk menghindar atau mungkin menuruti emosi dan menjadi konflik berkepanjangan. Dalam situasi tersebut, tentu memilki keterampilan membangun relasi menjadi hal yang penting. Keterampilan ini berkaitan dengan kemampuan kita dalam menyampaikan maksid dan kehendak kita dengan cara yang baik dan positif tanpa arogansi. Hal tersebut tentu dapat dilatih dengan menggunakan kalimat yang menyatakan keinginan kita, tapi masih memposisikan orang lain sebagai orang yang kita hargai.

Berikut adalah beberapa keterampilan yang perlu dikembangkan untuk dapat membangun kerja sama: (https://casel.org/sel-framework/): 1. Keterampilan menyampaikan pesan dengan jelas dan mendengarkan secara aktif 2. Keterampilan menyatakan sikap setuju dan tidak setuju dengan sikap saling menghargai 3. Keterampilan mengelola tugas dan peran dalam kelompok.

Pengambilan Keputusan yang bertanggung Jawab. Setiap diri kita pasti pernah dihadapkan pada situasi dilematis, entah itu terkait persoalan pribadi atau pun di lingkungan kerja dan masyarakat. Di saat seperti itu, kita membutuhkan keterampilan untuk mengambil keputusan secara bertanggung jawab sehingga. Keputusan yang kita ambil tentu saja dapat selaras dengan norma dan juga mengandung kebaikan dan keselamatan bagi banyak orang. Tapi sudah bisa dipastikan juga setiap keputusan yang kita ambil. terkadang harus mengandung resiko. Nah, keterampilan mengambil keputusan yang bertanggung jawab ini tentu bukan hal sepele dan mudah. Perlu terus dilatih dan dicoba agar tumbuh sikap resilience.

Salah satu strategi sederhana yang dapat digunakan untuk menumbuhkan kemampuan mengambil keputusan yang bertanggung jawab adalah dengan menggunakan kerangka yang disebut POOCH - Problem (Masalah), Options (Alternatif pilihan), Outcomes (Hasil atau konsekuensi), Choices (Keputusan yang diambil). Kerangka sederhana ini akan membantu seseorang memikirkan dengan baik berbagai aspek sebelum memutuskan sesuatu.

Kelima keterampilan Sosial Emosional (KSE) yang sudah dijelaskan di atas tentu penting dimiliki guru dan terus diajarkan kepada siswa. Sebab, KSE dapat menjadi bekal dalam kehidupan murid di masa yang akan datang. Oleh karena itu, penting juga mengintegrasikan KSE ini didalam praktik pembelajaran ataupun di dalam interaksi guru dan siswa sehari-hari, atau juga dibuat sebuah kebijakan sekolah yang akan berdampak kepada murid terkait KSE.

Kompetensi Sosial Emosional dan Pembelajaran Berdiferensiasi

Murid sebagai manusia tentu memiliki kehidupan yang kompleks dengan beragam karakter, minat, bakat, gaya belajar, dan juga kecerdasan. Keragaman tersebut sangat memungkinkan menimbulkan beragam konflik dan permasalahan yang tentu saja menguras emosi. Setiap hari interaksi yang terjadi di sekolah selalu dihadapkan pada beragam masalah. Pada titik inilah, KSE sangat penting diajarkan dan menjadi bekal bagi murid kita dalam menghadapi kehidupan sosial kelak.

Seperti yang sudah diketahui, pembelajaran berdiferensiasi merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang didasarkan pada kebutuhan siswa secara individu yang beragam. Saat siswa mengetahui bahwa mereka berbeda satu sama lain baik dari segi pemahaman, jenis kecerdasan, gaya belajar, minat, dll. Saat itulah guru dapat memberikan masukan tentang KSE, Perbedaan yang mereka miliki, kebutuhan yang berbeda pada setiap orang membuat kita bisa lebih memiliki kesadaran sosial atau mengedapankan sikap empati, bukan sikap merasa diri lebih baik atau lebih benar dari orang lain. Perbedaan juga dapat menimbulkan ledakan emosi jika kondisi perasaan kita sedang "bermasalah". Oleh karena itu, penting bagi guru mengajarkan kesadaraan diri dan pengelolaan diri kepada siswa. Bagaimana mengelola rasa marah, jengkel, menerima diri, dan perasaan lainnnya atau dengan kata lain menciptakan kondisi Psychological Well-Being

Guru dapat mengawali pembelajaran dengan menampilkan papan emosi dan meminta murid memilih icon emosi yang menggambarkan perasaan yang mereka alami. Kemudian guru dapat melakukan pembelajaran pendahuluan bisa saja dengan bercerita tentang hal terkait dengan banyaknya icon emosi yang dipilih murid. Atau juga mengajak siswa berolahraga atau permainan yang dapat membuat suasana hati siswa lebih positif dan terasa hangat. Di dalam proses pembelajaran, guru juga dapat menyelipkan kemampuan membangun relasi dalam aturan berkelompok atau juga menyelipkan ice breaking atau teknik STOP ketika situasi di kelas tampak mulai tidak kondusif. Pada saat kegiatan refleksi, guru bisa meminta siswa untuk kembali memilih papan emosi. Jika masih ada siswa yang menunjukkan emosi negatif, guru dapat menindaklanjuti diluar jam pelajaran sebagai tindakan restitusi. Atau bisa juga guru mengakhiri dengan sebuah kuis yang menantang mereka untuk berani berekspresi bukan sekedar menguji kemampuan negatif .

Sebenarnya, hal-hal yang dicontohkan di atas, mungkin sering juga dilakukan guru tanpa memberikan nama pada kegiatannya. Ya, pada dasarnya, segala hal yang diajarkan itu sudah tersimpan di dalam brangkas memori dan keterampilan guru yang sudah dibangun beberapa tahun dari pengalaman. Tulisan ini sekedar ingin membangkitkan hal yang mungkin tidak sadar kita miliki tapi kita lupakan karena hal lainnya. Seepertinya, kalau kita menelaah segala hal yang sudah kita pelajari secara parsial, hal yang harus kita tempelkan pada RPP demikian padat dan banyak. Akan tetapi, jika semua itu sudah menjadi pembiasaan dalam diri kita sebagai guru, sepertinya mengajar dan RPP pun tetap saja bisa dilakukan dengan sesimple mungkin karena apa yang dilakukan tentu jauh lebih banyak dari hal yang kita tuliskan.  Semoga tulisan ini, pertama kali dapat menginspirasi diri sendiri agar dapat mengimplementsikannya di dalam pembelajaran di kelas dan dampaknya dapat dirasakan murid-murid saya. Amiin.


Minggu, 06 Maret 2022

BEDAH KASUS 5 Kompetensi Sosial Emosional

 BEDAH KASUS 5 Kompetensi Sosial 

Pengantar:

Bapak Eling telah menjadi guru selama lebih dari 5 tahun. Suatu pagi, Bapak Eling merasakan tubuhnya seakan berat untuk bangun dari tidurnya. Dia juga merasa berat untuk berdiri dan bergerak berangkat menuju sekolah. Akhir–akhir ini pun selama berada di dalam kelas, Bapak Eling sering tiba-tiba merasakan jantungnya berdetak cepat. Pikirannya bercabang-cabang, dan ia sering merasakan dirinya mengalami kecemasan. Saat ini memang selain sibuk mengajar, Bapak Eling juga harus menjadi ketua panitia perayaan 17 Agustus yang akan dilaksanakan di sekolahnya 1 bulan lagi.  Berikut 5 kasus yang terjadi pada Bapak Eling yang pada akhir-akhir ini. Bacalah secara berurutan dan lakukan refleksi setelah membaca. 

Berikut kasus yang terjadi pada Bapak Eling yang pada akhir-akhir ini. Bacalah dan lakukan refleksi setelah membaca.

Setelah bekerja selama 5 tahun di sekolah yang sama, Bapak Eling merasa mulai kewalahan dengan berbagai tanggung jawab tambahan yang harus dijalankan. Bapak Eling mendapatkan tanggung jawab ekstra karena dipercaya oleh kepala sekolah. Kepala sekolah melihat pengalaman Bapak Eling sudah jauh lebih banyak dibandingkan guru-guru yang lain. Itu sebabnya, Bapak Eling diminta untuk menjadi penanggung jawab beberapa  acara penting di sekolah, menjadi wakil sekolah di forum Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP). Awalnya Bapak Eling merasa tugas tambahan tersebut sangat menantang. Namun saat ini, dia tidak merasa tertantang lagi. Ditambah dirinya merasa bahwa akhir-akhir ini, kinerjanya sebagai guru juga semakin menurun. Karena itu, Bapak Eling terpikir untuk menulis surat pengunduran diri. 

Jawablah pertanyaan berikut.

  1. Apakah situasi yang dihadapi  Bapak Eling? Mohon uraikan dengan singkat, padat, dan jelas.
  2. Apa kompetensi sosial dan emosional yang diperlukan  Bapak Eling dalam menghadapi masalah tersebut? Jelaskan jawaban Anda. (Hubungkan dengan kerangka atau panduan yang ada di artikel-artikel yang telah dibaca sebelumnya)
  3. Seandainya Anda adalah Bapak Eling, apa yang akan Anda lakukan?
Jawab:

1. Bapak Eling mulai merasa kewalahan dengan banyak tanggung jawab yang harus dia kerjakan akhirnya kinerja sebagai guru menurun sehingga memutuskan untuk berhenti dari kegiatan lain selain mengajar.

2. Kompetensi Sosial emosional yang dibutuhkan Pak eling adalah kompetensi pengambilan keputusan yang bertanggung jawab. Salah satu strategi sederhana yang dapat digunakan untuk menumbuhkan kemampuan mengambil keputusan yang bertanggung jawab adalah dengan menggunakan kerangka yang disebut POOCH - Problem (Masalah), Options (Alternatif pilihan), Outcomes (Hasil atau konsekuensi), Choices (Keputusan yang diambil). 

3. Jika saya menjadi Pak Eling, sejujurnya saya belum dapat menerapkan tenik POOCH sebelum mengambil keputusan dan melakukan STOP.   

BEDAH KASUS 4: Kompetensi Sosial Emosional

BEDAH KASUS 4: Kompetensi Sosial Emosional

Pengantar:

Bapak Eling telah menjadi guru selama lebih dari 5 tahun. Suatu pagi, Bapak Eling merasakan tubuhnya seakan berat untuk bangun dari tidurnya. Dia juga merasa berat untuk berdiri dan bergerak berangkat menuju sekolah. Akhir–akhir ini pun selama berada di dalam kelas, Bapak Eling sering tiba-tiba merasakan jantungnya berdetak cepat. Pikirannya bercabang-cabang, dan ia sering merasakan dirinya mengalami kecemasan. Saat ini memang selain sibuk mengajar, Bapak Eling juga harus menjadi ketua panitia perayaan 17 Agustus yang akan dilaksanakan di sekolahnya 1 bulan lagi.  Berikut 5 kasus yang terjadi pada Bapak Eling yang pada akhir-akhir ini. Bacalah secara berurutan dan lakukan refleksi setelah membaca. 

Berikut kasus yang terjadi pada Bapak Eling yang pada akhir-akhir ini. Bacalah dan lakukan refleksi setelah membaca.

Setelah selesai memeriksa proposal acara 17 Agustus, Bapak Eling mengirimkan proposal tersebut kepada kepala sekolah. Ternyata proposal yang dikirimkan oleh Bapak Eling dinilai tidak sesuai oleh kepala sekolah. Kepala Sekolah meminta agar isinya sesuai dengan pengarahan awal yaitu agar acara lebih banyak melibatkan orang tua murid. Bapak Eling tidak menyangka jika dia harus melakukan koreksi dan koordinasi ulang dengan tim acara. Revisi proposal tentu akan memakan waktu lagi dan Bapak Eling sudah membayangkan ini akan menghambat tugas-tugasnya yang lain. Bapak Eling mengungkapkan hal ini kepada wakil ketua panitia. Bapak Eling mengungkapkan bahwa dia tidak mau mengubah proposal dan meminta Wakil  Ketua Panitia tersebut yang merevisi proposal.


Jawablah pertanyaan berikut.

  1. Apakah situasi yang dihadapi Bapak Eling? Mohon uraikan dengan singkat, padat,  dan jelas.
  2. Apa kompetensi sosial dan emosional yang diperlukan  Bapak Eling dalam menghadapi masalah tersebut? Jelaskan jawaban Anda. (Hubungkan dengan kerangka atau panduan yang ada di artikel-artikel yang telah dibaca sebelumnya)
  3. Seandainya Anda adalah Bapak Eling, apa yang akan Anda lakukan?
Jawaban Saya:

1. Situasi yang dihadapi Bapak Eling adalah kecewa karena proposal yang diajukan harus direvisi lagi, padahal hal itu akan banyak menghambat pekerjaan lainnya. Bapak Eling tidak mau merevisi dan meminta wakil panitia merevisinya.

2. Kompetensi Sosial Emosional yang diperlukan Bapak Eling adalah Keterampilan Berelasi – Kerja Sama dan Resolusi Konflik. Bapak Elling harus dapat menyampaikan keberatan atau ketidaksetujuannya kepada kepala sekolah dengan cara yang baik dan tidak menyinggung. Bapak eling bisa menyampaikan kelebihan dan kekurangan jika proposal direvisi kembali. 

3. Jika saya dihadapkan pada situasi pak Eling, sejujurnya saya pun akan merasa kesal. Sesaat saya akan tarik nafas dan melakukan STOP terlebih dahulu. Kemudian saya akan berbicara lagu dengan bapak kepala sekolah sambil menyiapkan diri tentang hal yang akan saya bicarakan. Saya akan berupaya mengomunikasikannya dengan cara yang bisa dipahami dn tidak menyinggung beliau.

BEDAH KASUS 3 Kompetensi Sosial Emosional

BEDAH KASUS 3 Kompetensi Sosial Emosional

2.2.a.4.1.c. Eksplorasi Konsep - Kasus 3

Pengantar:
Bapak Eling telah menjadi guru selama lebih dari 5 tahun. Suatu pagi, Bapak Eling merasakan tubuhnya seakan berat untuk bangun dari tidurnya. Dia juga merasa berat untuk berdiri dan bergerak berangkat menuju sekolah. Akhir–akhir ini pun selama berada di dalam kelas, Bapak Eling sering tiba-tiba merasakan jantungnya berdetak cepat. Pikirannya bercabang-cabang, dan ia sering merasakan dirinya mengalami kecemasan. Saat ini memang selain sibuk mengajar, Bapak Eling juga harus menjadi ketua panitia perayaan 17 Agustus yang akan dilaksanakan di sekolahnya 1 bulan lagi.  Berikut 5 kasus yang terjadi pada Bapak Eling yang pada akhir-akhir ini. Bacalah secara berurutan dan lakukan refleksi setelah membaca. 

Berikut kasus yang terjadi pada Bapak Eling yang pada akhir-akhir ini. Bacalah dan lakukan refleksi setelah membaca.

Saat mempelajari proposal acara 17 Agustus di antara jam mengajar dan mengoreksi pekerjaan murid-murid, Bapak Eling menyadari salah seorang murid kelas 10 yang berprestasi dalam kejuaraan renang tidak mengumpulkan tugasnya. Pak Eling memanggil murid tersebut. Murid tersebut mengungkapkan pada Bapak Eling bahwa dia sebenarnya merasakan lelah dan mengantuk saat berada di dalam kelas maupun di rumah karena latihan keras menjelang kejuaraan bulan depan. Bapak Eling menilai, seharusnya murid tersebut bekerja lebih keras sebagai konsekuensi dari pilihannya menjadi murid atlet.


Jawablah pertanyaan berikut.

  1. Apakah situasi  yang dihadapi Bapak Eling? Mohon uraikan dengan singkat,  padat, dan jelas.
  2. Apa kompetensi sosial dan emosional yang diperlukan  Bapak Eling dalam menghadapi masalah tersebut? Jelaskan jawaban Anda. (Hubungkan dengan kerangka atau panduan yang ada di artikel-artikel yang telah dibaca sebelumnya)
  3. Seandainya Anda adalah Bapak Eling, apa yang akan Anda lakukan?
Jawaban Saya:

1. Situasi yang dihadapi bapak Eling adalah beliau memiliki banyak tugas yaitu jadi panitia acara 17, tapi tetap memeriksa tugas siswa dengan baik. Akan tetapi, dia melihat siswa atlit tidak mengerjakan tugas karena alasan kelelahan. Pak Eling merasa bahwa siswa tersebut harusnya bertanggung jawab dengan tugas meski seorang atlit.

2. Kompetensi emosional dan sosial yang harus dimiliki Pak Eling adalah Kesadaran Sosial - Keterampilan Berempati. Pak Eling harus berpikir seandainya dia berada di posisi anak tersebut tentu akan sangat kewalahan. Pak Eling sendiri pernah berada di situasi seperti itu. Jadi yang harus dilakukan Pak Eling ya kembali lakukan STOP, pahami anak tersebut dan katakan, "Bapak mengerti situasi kamu, lalu apa yang akan kamu lakukan untuk menyelesaikan tugas tersebut?" Ketika siswa meminta perpanjangan waktu, berikan dia waktu.

3. Saya pernah megalami hal yang sama dengan Pak Eling, siswa saya atlit bulutangkis belum mnegerjakan tugas karena tournamen. Saya malah berpikir, tidak masalah asal dia fokus dengan yang dilkukannya. Saya malah memtovasinya untuk bersekolah di sekolah atlit. Saya berpikir jika anak sudah menemukan potensi dirinya kenapa harus dipaksa belajar bahasa Indonesia. Fokus saja dengan minat dan bakatnya. Tapi kemudian, saya sadar jika saya membiarkan ada kecemburuan dari siswa lainnya dan dia masih memilih berada di sekolah umum. Saya hanya mengatakan kerjakan saat sudah tidak lelah dan waktu luang.

BEDAH KASUS 2 : Kompetensi Sosial Emosional

 BEDAH KASUS 2 : Kompetensi Sosial Emosional

Pengantar:

Bapak Eling telah menjadi guru selama lebih dari 5 tahun. Suatu pagi, Bapak Eling merasakan tubuhnya seakan berat untuk bangun dari tidurnya. Dia juga merasa berat untuk berdiri dan bergerak berangkat menuju sekolah. Akhir–akhir ini pun selama berada di dalam kelas, Bapak Eling sering tiba-tiba merasakan jantungnya berdetak cepat. Pikirannya bercabang-cabang, dan ia sering merasakan dirinya mengalami kecemasan. Saat ini memang selain sibuk mengajar, Bapak Eling juga harus menjadi ketua panitia perayaan 17 Agustus yang akan dilaksanakan di sekolahnya 1 bulan lagi.  Berikut 5 kasus yang terjadi pada Bapak Eling yang pada akhir-akhir ini. Bacalah secara berurutan dan lakukan refleksi setelah membaca. 

Berikut kasus yang terjadi pada Bapak Eling yang pada akhir-akhir ini. Bacalah dan lakukan refleksi setelah membaca.

Selesai kegiatan belajar-mengajar berakhir, Bapak Eling memimpin rapat panitia besar yang akan memutuskan revisi akhir acara. Rapat yang berlangsung selama kurang lebih 1 jam menghasilkan tugas baru bagi Pak Eling untuk mempelajari perubahan proposal acara.  Pak Eling perlu memastikan semua perencanaan, pengaturan personil, dan pengaturan anggaran sudah tepat. Sesuai rencana, panitia acara sudah harus mulai bekerja setelah proposal disetujui oleh kepala sekolah.  Oleh karena itu, Bapak Eling diminta untuk mengirimkan proposal ini kepada kepala sekolah selambat-lambatnya lusa. Karena mendahulukan proposal ini, Bapak Eling pun lupa menyiapkan rubrik untuk pembelajaran geografi keesokan harinya. Keesokan paginya, Bapak Eling, masuk kelas dan lupa mengunduh rubrik proyek geografi sehingga proses pembelajaran sempat tersendat. 


Jawablah pertanyaan berikut.

  1. Apakah situasi yang dihadapi  Bapak Eling? Mohon uraikan dengan singkat, padat, dan jelas.
  2. Apa kompetensi sosial dan emosional yang diperlukan  Bapak Eling dalam menghadapi masalah tersebut? Jelaskan jawaban Anda. (Hubungkan dengan kerangka atau panduan yang ada di artikel-artikel yang telah dibaca sebelumnya)
  3. Seandainya Anda adalah Bapak Eling, apa yang akan Anda lakukan?

Jawaban Saya:

1. Situasi yang dihadapi Pak Eling adalah kewalahan dengan banyaknya tugas yang dia emban. Pak Eling harus menyelesaikan proposal dan mengirimkan proposal kepada kepala sekolah selama 2 hari. Akibatnya dia lupa membuat rubrik untuk pembelajaran geografi sehingga proses pembelajaran tersendat.

2. Kompetensi sosial emosional yang harus dimiliki Pak Eling adalah  Pengelolaan Diri – Mengelola Emosi dan Fokus untuk Mencapai Tujuan. Menurut www.psychologytoday.com, melakukan beberapa tugas bersamaan (multitasking) dapat meningkatkan stress dan mengurangi efisiensi serta produktivitas. Oleh karena itu, Pak Elling harus mempraktikkan latihan STOP untuk mengembalikan fokus pada suatu pekerjaan. Sebelum membuat proposal lakukan teknik STOP dulu. Setelah mengerjakan tugas proposal yang menguras banyak pikiran lakukan STOP lagi agar lebih fokus membuar rubrik pembelajaran

3. Seandainya saya Bapak Welling. Saya akan melakukan teknik STOP sebelum buat proposal dan mencatat beberapa tugas yang harus saya selesaikan. Setelah buat prorposal saya lakukan stop lagi. lalu buat rubrik pembelajaran.

Bedah Kasus Kompetensi Sodial Emosional Kasus 1

Bedah Kasus Kompetensi Sodial Emosional

KASUS 1

2.2.a.4.1.a. Eksplorasi Konsep - Kasus 1

Pengantar:
Bapak Eling telah menjadi guru selama lebih dari 5 tahun. Suatu pagi, Bapak Eling merasakan tubuhnya seakan berat untuk bangun dari tidurnya. Dia juga merasa berat untuk berdiri dan bergerak berangkat menuju sekolah. Akhir–akhir ini pun selama berada di dalam kelas, Bapak Eling sering tiba-tiba merasakan jantungnya berdetak cepat. Pikirannya bercabang-cabang, dan ia sering merasakan dirinya mengalami kecemasan. Saat ini memang selain sibuk mengajar, Bapak Eling juga harus menjadi ketua panitia perayaan 17 Agustus yang akan dilaksanakan di sekolahnya 1 bulan lagi.  Berikut 5 kasus yang terjadi pada Bapak Eling yang pada akhir-akhir ini. Bacalah secara berurutan dan lakukan refleksi setelah membaca. 

Berikut kasus yang terjadi pada Bapak Eling yang pada akhir-akhir ini. Bacalah dan lakukan refleksi setelah membaca.


Saat itu jam pelajaran terakhir. Sebelum rapat panitia besar 17 Agustus untuk memfinalisasi acara, Bapak Eling masuk ke kelas 9 untuk mengajar mata pelajaran geografi. Sejak pagi, Bapak Eling sudah mengajar 3 kelas yang berbeda secara berurutan. Pada pelajaran ini, anak-anak diizinkan menggunakan gawai mereka untuk mengerjakan proyek kelompok. Setelah beberapa saat Bapak Eling melakukan pengecekan apakah setiap murid bekerja sesuai tugas dan tanggung jawab mereka. Saat mendekati meja salah satu siswa, Diana, 
Pak Eling mendapati muridnya itu sedang menggunakan gawainya untuk mengerjakan tugas pelajaran lain. Bapak Eling spontan mengeluarkan kata-kata dengan nada tinggi. “Jadi ini yang dari tadi kamu lakukan?”  Seisi ruang kelas terkejut.  Wajah Diana memerah.  Ia tampak malu dan tidak menyangka Bapak Eling merespon sekeras itu.


Jawablah pertanyaan berikut.

  1. Apakah situasi yang dihadapi Bapak Eling? Mohon uraikan dengan singkat dan jelas.
  2. Apa kompetensi sosial dan emosional yang dibutuhkan  Bapak Eling dalam menghadapi masalah tersebut? Jelaskan jawaban Anda. (Hubungkan dengan artikel-artikel yang telah dibaca sebelumnya)
  3. Seandainya Anda adalah Bapak Eling, apa yang akan Anda lakukan?
Jawaban saya:

1. Situasi yang dihadapi Pak Eling adalah kelelahan dengan banyaknya tanggung jawab pekerjaan yang harus dilakukan. Sehingga ia tidak bisa menahan emosi ketika siswa melakukan kesalahan, akhirnya marah karena merasa tidak dihargai 

2.  Kompetensi sosial emosional  yang dibutuhkan adalah Kesadaran diri dan pengelolaan emosi. Pak Eling harus menyadari bahwa dirinya di titik lelah dan harus membutuhkan jeda untuk mengembalikan semangat dan energi kembali. Pak Eling juga harus menyadari bahwa dirinya memang marah karena tidak dihargai. Setelah menyadari emosinya sendiri, Pak Eling dapat melakukan pengelolaan emosi dengan teknik STOP atau mempraktikkan teknik mindfullness.

3. Kalau saya dihadapkan pada situasi seperti Pak Eling, bisa saja saya pun meluapkan emosi seperti Pak Eling karena memang terbayang situasi yang meberatkan dan pada akhirnya saya akan menyesali tindakan saya tersebut. Menurut saya, agar hal tersebut tidak terjadi. Sebelum masuk ke kelas saya harus menyadari diri kalau saya lelah, saya ambil teknik STOP dulu sebagai jeda dan saya mengatakan kepada diri sendiri, "Meski lelah, harus  tetap semangat. Semnagat Ema...semangat Ema" Biasanya kalau sudah begitu, situasi buruk yang terjadi di kelas pun menjadi tidak terasa. Seperti pernah ketika saya berkata, siswa berteriak, "Anjir geuleuh" Saya emosi dong itu menghina saya ya. Pikian saya sesaat begitu. Tapi karena saya sedang baik-baik saja, saya tdak marah.  Hanya minta penjelasan maksud perkataan anak. ternyata anak sedang ngobrol dengan temannya dan temannya memainkan ludah.

Jurnal Refleksi Ke-24

Jurnal Refleksi Ke-24 (13 Juni s.d 18 Juni 2022) Model 5: Connection, challenge, concept, change (4C) Pada Minggu ini saya melakukan Pendapi...