Senin, 20 Desember 2021

 





14.a.9 Koneksi Antar Materi-Budaya Positif

Kesimpulan dan Refleksi pemahaman saya terhadap materi Budaya positif dan dihubungkan dengan  materi modul 1.1 Filosofi Pendidikan Ki hajar Dewantara, Modul 1.2 Nilai dan Peran Guru Penggerak dan Modul 1.3 Visi Guru Penggerak, saya implementasikan dalam artikel berikut ini.

MENCIPTAKAN BUDAYA POSITIF DI SEKOLAH

Seorang guru memiliki peran untuk membangun atau mewujudkan budaya positif di sekolah. Budaya positif merupakan perwujudan dari nilai-nilai atau keyakinan universal yang diterapkan di sekolah. Budaya positif diawali dengan perubahan paradigma tentang teori kontrol. Selama ini barangkali kita sebagai guru merasa berkewajiban mengontrol perilaku siswa agar memiliki perilaku sesuai yang guru harapkan. Perwujudannya, guru sering memberikan hukuman kepada siswa yang melakukan kesalahan dan memberikan imbalan terhadap perbuatan baik yang dilakukan siswa. 

Berdasarkan beberapa penelitian, tentang teori kontrol, semua perilaku manusia pasti memiliki tujuan. Begitupula dengan perilaku siswa. Bahkan sebuah kesalahan yang dilakukan siswa pasti memiliki alasan. Alasan tersebut biasa disebut dengan pemenuhan kebutuhan dasar manusia. Ada lima kebutuhan dasar manusia yaitu: 1) Kebutuhan bertahan hidup (Survival) yaitu kebutuhan berkaitan dengan fisik seperti makan, tidur, tempat tinggal dll. 2) Kebutuhan Cinta dan kasih sayang (Penerimaan). 3) Kebutuhan Penguasaan (pengakuan akan kemampuan),4) Kebutuhan Kebebasan (Kebutuhan akan pilihan), dan 5) Kebutuhan akan Kesenangan. 

Ketika guru sudah mampu memahami kebutuhan dasar setiap siswa, langkah yang dilakukan adalah dengan menerapkan disiplin positif. Selama ini, disiplin dipahami sebagai tindakan untuk membuat siswa patuh pada aturan sekolah dan guru. Apakah seperti itu penerapan disiplin yang tepat? Menurut Diane Gossen dalam bukunya Restructuring School Discipline ada tiga alasan motivasi manusia dalam melakukan sesuatu, yaitu: 1)Untuk menghindari ketidaknyamanan atau hukuman,2) Untuk mendapatkan imbalan atau penghargaan dari orang lain, 3) Untuk menjadi orang yang mereka inginkan sesuai dengan nilai-nilai yang diyakini. Berdasarkan ketiga alasan tersebut, tindakan pendisiplinan dengan melakukan hukuman atau memberi imbalan bisa disebut motivasi eksternal dan hal tersebut tidak akan bertahan lama. Barangkali dengan hukuman dan imbalan siswa memang menjadi patuh, tapi kepatuhan itu hanya sementara dan kedisiplinan yang diterapkan tidak mengubah karakter siswa menjadi lebih kuat. Barangkali itu pula yang menyebabkan bangsa kita kesulitan dalam membentuk karakter masyarakatnya, contoh kecil seperti budaya antri, menaati aturan lalulintas, kebersihan (Contoh: buang sampah pada tempat tepat) yang belum bisa menjadi karakter.

Berdasarkan teori motivasi tadi, penerapan disiplin di sekolah harus dilakukan dengan alasan yang ke-3. Siswa melakukan kebaikan sesuai dengan keyakinan kelas atau nilai-nilai yang sudah tertanam dalam dirinya atau motivasi internal. Motivasi internal lebih berjangka lama dan membuat siswa makin kuat secara karakter. Hal tersebut sejalan dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara yang mengungkapkan bahwa disiplin kepada siswa adalah disiplin diri, sebab hanya diri sendiri yang mampu mengontrol diri kita bukan orang lain.Jika belum bisa mengontrol diri menurut Ki Hajar, penerapan dispilin dilakukan orang lain tapi dalam situasi merdeka bukan keterpaksaan. Artinya, siswa sendirilah yang menginginkan dirinya menaati peraturan sesuai dengan keyakinan universal atau keyakinan sekolah dan kelas.

Keinginan untuk melaksanakan keyakinan universal yang datang dari siswa atau kita sebut motivasi internal tersebut dapat diwujudkan dengan Restitusi. Restistusi adalah upaya mendisiplinkan siswa tapi dengan cara siswa sendiri yang menyelesaikan masalahnya dan membuat mereka bertindak sesuai dengan keinginan ideal yang didasarkan pada keyakinan kelas. Hal tersebut tentu akan berjalan dengan semestinya ketika guru menempatkan diri sesuai dengan posisi kontrol yang tepat. Posisi kontrol guru yang terbaik adalah posisi seorang manajer. Di dalam posisi ini, sikap guru ketika melihat siswa melakukan kesalahan tidak langsung menghukum atau menasehati, tapi  diawali dengan sikap memahami tindakan siswa bahwa ketika siswa bersalah itu biasa karena memang setiap manusia pasti pernah bersalah (Menstabilkan Identias). Selanjutnya guru juga mencoba memahami alasan atau kebutuhan dasar apa yang ingin dipenuhi siswa dengan perilakunya tersebut (Validasi Tindakan yang salah). Selanjutnya, siswa diingatkan tentang keyakinan kelas dan dipancing dengan pertanyaan tentang bagaimana seharusnya sikap mereka menurut keyakinan kelas dan jawabannya datang dari siswa sendiri. Kemudian baru ditanyakan solusi terbaik menurut siswa tersebut yang berdasarkan keyakinan tadi (menanyakan Keyakinan). Saat melakukan restitusi seorang manajer, tentu tidak bersikap emosional, tidak juga merasa bahwa dia yang benar dan siswa harus mengikuti aturan saya.

Jika siswa bersalah sebenarnya gampang saja menyuruh mereka meminta maaf kemudian menjalankan hukuman yang kita berikan, siswa pun menuruti kemauan guru. Dengan seperti itu seolah masalah selesai. Akan tetapi, sesuai dengan filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara bahwa pendidikan adalah tempat menyemai benih kebudayaan. Kebudayaan dibentuk dari kebiasaan dan menjadi karakter. Diharapkan dampaknya lama, jangka panjang. Pendidikan sejatinya mampu menumbuhkan manusia-manusia terbaik yang berpegang pada nilai-nilai keyakinan yang memiliki kemerdekaan jiwa, bukan hanya membentuk generasi yang patuh karena tekanan dan aturan tapi jika menghendaki siswa patuh pun karena mereka mematuhi keyakinan dan nilai-nilai yang mereka pegang sendiri bukan aturan yang guru atau sekolah paksakan.

Oleh karena itu, restitusi adalah sebuah upaya untuk membuat siswa mampu mengevaluasi diri mereka sendiri agar menjadi manusia yang baik sesuai dengan nilai-nilai kebajikan universal dan sebuah upaya agar setiap kesalahan yang dilakukannya menjadi bahan pembelajaran agar dirinya menjadi lebih baik, menjadi lebih kuat karakternya dan penghargaan pada diri mereka sendiri pun menjadi bertambah. 

Dengan penjelasan di atas, diharapkan budaya positif  di sekolah dapat terwujud dan sekolah sebagai tempat menyemai benih kebudayaan atau pembentukan karakter bukan hanya sebagai mimpi indah yang hanya menjadi cerita indah dalam buku-buku teks pelajaran.

Refleksi Budaya Positif

RANCANGAN TINDAKAN AKSI NYATA

Judul Modul: Menerapkan Budaya Positif di Sekolah

Nama Peserta: Ema Damayanti

Latar Belakang: 

Penerapan budaya positif sangat penting dilakukan agar tercipta suasana atau lingkungan pembelajaran di sekolah. Untuk mewujudkan hal tersebut perlu adanya sosialisasi tentang konsep budaya positif kepada guru-guru dan dibutuhkan juga contoh konkrit penerapan budaya positif tersebut di lingkungan sekolah. Oleh karena itu, dibuat modul ini agar menjadi contoh dalam menerapkan budaya positif di sekolah.

Tujuan:

Tujuan penulisan modul ini ingin memaparkan contoh dalam melaksanakan budaya positif sehingga akan terasa dampak dan perubahan yang telah dilakukan kepada murid.

Tolak Ukur:

Indikator penerapan budaya positif adalah adanya perubahan di kelas  mengenai pembentukan keyakinan kelas dan penanganan siswa bermasalah dengan restitusi.

Linimasa Tindakan yang Akan Dilakukan

  1. Sosialisasi Budaya Positif di Sekolah Kepada beberapa rekan guru
  2. Membuat Keyakinan kelas/Sekolah bersama siswa di kelas masing-masing
  3. Mendiskusikan dalam kelompok tentang keyakinan kelas yang akan dilakukan
  4. Melakukan praktik restitusi kepada beberapa siswa
  5. Mengevaluasi hasil penerapan budaya positif
Dukungan yang dibutuhkan

Dukungan yang dibutuhkan adalah dukungan dari kepala sekolah wakasek kurikulum dalam mensosialisasikan budaya postif di sekolah
Membutuhkan beberapa kertas karton untuk menempelkan keyakinan kelas
Lembar kerja hasil restitusi
Dokumentasi setiap kegiatan/ tahapan dalam melakukan budaya positif di sekolah
 

Minggu, 19 Desember 2021

14.a.6.1 Refleksi Terbimbing

Berikut ini adalah tugas Calon Guru Penggerak Modul 1.4 tentang Budaya Positif pada Fase Refleksi Terbimbing.

Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep inti yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: disiplin positif, posisi kontrol guru, kebutuhan dasar manusia, keyakinan kelas, dan segitiga restitusi. Adakah hal-hal yang menarik untuk Anda dan di luar dugaan?

Disiplin Positif

Pemahaman saya tentang disiplin positif adalah disiplin yang dibangun dengan paradigma berpikir positif. Sejauh ini kesan dari disiplin adalah sesuatu yang membuat orang terikat, terpaksa mengikuti aturan yang berlaku, dan sekedar ingin melakukan sesuatu yang diharuskan oleh pihak lain. Saya juga menduga seperti itu pada awalnya, disiplin itu sama dengan terikat aturan yang mengurangi segala kebebasan kita sebagai manusia yang bebas berpikir dan berekspresi. Kesan saya tentang disiplin adalah sesuatu yang justru memaksakan kehendak pada orang lain dan mengharuskan orang lain bertindak sama dan menyalahi keragaman manusia. Akan tetapi, setelah saya mempelajari tentang konsep disiplin positif, terbukalah segala kebingungan saya tentang konsep disiplin. Saya merasa mendapatkan jawaban atas kebingungan saya selama ini antara aturan memaksa dan disiplin. 

Disiplin memang penting bahkan sangat penting apalagi diterapkan pada siswa, tapi definisi disiplin positif tidak sempit hanya pada aturan yang berlaku. Disiplin positif justru berupaya menggerakan manusia untuk menaati nilai-nilai universal tapi atas dasar kesadaran sendiri (Motivasi intrinsik). Bukan motivasi dari luar (ekstrinsik). Sebab, disiplin yang didasarkan pada kesadaran atau berpegang teguh  pada keyakinan nilai-nilai diri justru jauh lebih lama melekat dan tidak mudah digoyahkan dibandingkan disiplin yang dibangun karena rasa ketakutan atau hanya ingin menaati orang lain. 

Hal tersebut sebenarnya sudah diungkapkan oleh Ki Hajar Dewantara dan sejalan dengan pemikiran DIane Gossen, yang mengatakan bahwa disiplin itu seharusnya lebih kepada disiplin diri. Diri kita harus memiliki keterampilan mengatur diri sendiri. Dan jika kita tidak dapat mengatur diri sendiri, butuh orang lain atau sebuah aturan yang mendisiplinkan diri kita. Akan tetapi, ruh disiplin yang dibangun bukan "keterpaksaan" tapi disiplin yang pada akhirnya membuat kita menyadari sendiri pentingnya disiplin. 

Oleh karena itu, ketika kita menerapkan disiplin pada siswa yang terpenting adalah menanamkan disiplin positif kepada siswa. Hal itu diawali dengan membuat kesepakatan sesuai dengan keyakinan Universal. 

Posisi Kontrol Guru 

Penerapan disiplin di sekolah tidak akan lepas dari guru sebagai orang yang berada di posisi menerapkan disiplin terhadap siswa. Menurut Diane Gossen, Penerapan disiplin dilakukan dengan berpusat pada murid dilakukan dengan sebutan 5 Posisi Kontrol, yaitu:

Penghukum

Posisi kontrol penghukum adalah guru bertindak seperti satu-satunya orang yang berkuasa pada aturan sehingga semua murid harus taat seperti cara dia dan jika tidak taat guru akan memberikan hukuman bisa berupa verbal ataupun fisik. Posisi kontrol ini memungkinkan murid tidak suka, tersakiti, atau bisa jadi dendam terhadap guru sehingga disiplin yang dikendaki pun tidak berjalan efektif.

Pembuat Orang Merasa Bersalah

Posisi kontrol Pembuat Orang Merasa Bersalah adalah guru bertindak secara halus. Misalnya menegur secara halus, akan tetapi kalimat yang diucapkannya mengandung membuat murid di posisi merasa bersalah karena tidak menaati gurunya dan tidak mengikuti kemauan gurunya. Misalnya dengan kalimat, "Kamu tidak kasihan sama Ibu nak, Ibu sudah cape buat tugas semalaman bahkan hampir saja ibu tidak tidur, tapi kamu tidak mengerjakannya." Posisi kontrol seperti ini membuat murid merasa buruk dan sangat bersalah, tapi juga tidak berefek mereka menjadi menaati disiplin yang diterapkan.

Teman

Posisi kontrol ini teman adalah guru bertindak seperti teman pada murid. Sehingga murid merasa dekat dan bergantung pada gurunya. Hal ini akan membuta siswa merasa nyaman. Akan tetapi, efek negatifnya, murid jadi bergantung kepada guru tersebut dan ketika guru tersebut tidak memperhatikan mereka sekali saja, mereka merasa dikecewakan dan efek negatif lainnya, siswa hanya taat kepada guru tersebut dan tidak kepada guru lain. 

Pemantau

Posisi kontrol  pemantau atau pengawas guru bertindak netral. Guru akan memberlakukan disiplin sesuai dengan aturan, kesepakatan, kemudian akan memberikan sanksi sesuai kesalahan yang dibuat siswa. Guru tidak emosi jika siswa melakukan ketidaksidiplinan, tapi akan melakukan sangsi  sesuai dengan data, catatan, obseravasi yang dilakukan secara obejektif. Misalnya menghukum siwsa yang tidak piket kelas dengan melihat daftar hadir piket, dan memberikan sanksi yang sesuai dengan kesalahan yang dibuat. Misal sanksi yang tidak piket, beres-beres di perpustakaan sendiri. 

Manajer 

Posisi Kontrol Manajer adalah posisi guru berkolaborasi dengan murid untuk memperbaiki kesalahan dengan cara murid sendiri. Posisi ini sesuai dengan teori restitusi, guru tidak langsung menyalahkan siswa tapi mengajak mereka mengevaluasi diri terkait kesalahan yang dibuat dan mereka sendiri yang memilih cara memperbaiki kesalahan mereka. Posisi kontrol ini justru akan membuat murid memiliki keyakinan lebih kuat terhadap nilai kebajikan universal, buka lagi pasksaan tapi menumbuhkan motivasi internal mereka.

Kebutuhan Dasar Manusia

Segala sesuatu terjadi karena sebuah alasan. Barangkali kalimat tersebut cukup mewakili untuk kita memahami tentang Konsep kebutuhan dasar manusia. Setiap manusia atau seorang murid khususnya ketika dia melakukan hal buruk sekalipun pasti ada alasannya. Hal tersebut berarti ketika kita menghadapi murid, segala tindakan mereka harus terlebih dahulu dipahami sebelum kita berikan solusi atau konsekuensinya. Bekal untuk memahami tindakan murid adalah dengan memahami konspe % Kebutuhan dasar manusia yatiu:

Survival/ Kebutuhan Bertahan Hidup

Kebutuhan ini bersifat fisologis seperti kebutuhan akan makan, kesehatan, tempat tinggal, seks (Bereproduksi). Hal yang bersifat psikologisnya adalah kebutuhan akan rasa aman.

Cinta dan Kasih Sayang (Kebutuhan untuk diterima)

Kebutuhan untuk mencintai dan memiliki, memberi dan menerima. Saling terhubung dengan orang lain, keluarga, sahabat, dan lingkungan sekitar. Anak dengan kebutuhan ini sangat ingin dicintai orang tua, berada di lingkaran persahabatan, dan suka bekerja dalam kelompok, ingin dicintai oleh guru mereka juga.

Penguasaan (Kebutuhan Pengakuan atas Kemampuan)

Kebutuhan untuk diakui kemampuannya, prestasinya, diakui harga diri, dan pencapaiannya terhadap sesuatu. Anak dengan tipe ini ingin selalu memimpin, menonjol, tidak suka melakukan kesalahan. Ingin segala sesuatu sempurna.

Kebebasan (Kebutuhan Akan Pilhan)

Kebutuhan untuk mempunyai pilihan, mandiri, bebas, otonom. Anak dengan tipe ini suka bergerak, mencoba hal baru, dan suka berbeda dengan orang lain.

Kebutuhan Akan Merasa Senang

Kebutuhan untuk memiliki perasaan lepas, tertawa, riang dan hal lain yang bersifat kesenangan. Anak dengan tipe ini biasanya riang, senang melucu dan mencairkan suasana.

Keyakinan Kelas

Keyakinan kelas adalah nilai-nilai universal yang dijadikan panduan atau arah bersikap anggota kelas atas kesepakatan bersama. Keyakinan kelas bukan peraturan tapi sifatnya lebih abstrak dan menurut Gossen, keyakinan kelas itu sifatnya lebih menumbuhkan motivasi Internal. Misalnya, tanggung jawab, kemandirian, saling menghargai, dll. Keyakinan kelas bisa disepakati dan dibuat oleh seluruh warga sekolah kemudian ditempel di dinding. Setiap permasalahan yang berkaitan dengan pelanggaran disiplin, bisa dikembalikan kepada keyakinan kelas. 

Segitiga Restitusi

Restitusi merupakan upaya yang dilakukan guru dalam rangka memperbaiki kesalahan yang dilakukan murid dengan cara memberikan murid pilihan untuk memperbaiki kesalahannya. Restitusi juga mengembalikan siswa ke dalam kelompoknya bukan malah menjauhkannya dan membuat mereka belajar dari kesalahan dan murid tersebut makin kuat keyakinan/nilai-nilai dirinya. Jadi dengan restitusi murid yang bersalah, bukan dihukum atau sekedar diminta minta maaf. Tapi diupayakan siswa menyadari kesalahan sendiri dan berupaya memperbaikinya dengan kemauan sendiri.

Segitiga restitusi adalah langkah atau tahapan dalam melakukan restitusi.

1. Menstabilkan identias

Pada tahap ini, guru mencoba membuat siswa merasa nyaman dengan memahami bahwa semua orang termasuk murid pasti telah melakukan yang terbaik. Akan tetapi, karena suatu alasan mereka bisa saja melakukan kesalahan dan itu wajar. Siapa pun bisa bersalah baik itu siswa atau pun guru.

2. Memvalidasi Kesalahan

Pada tahap ini, guru berupaya memahami alasan siswa berbuat salah. Guru memvalidasi kesalahan siswa dengan kebutuhan dasar yang Ingin mereka penuhi.Kemudian, memberikan pilihan mereka cara terbaik untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka. 

3. Menanyakan Keyakinan

Setiap kesalahan siswa dikembalikan lagi kepada keykinan kelas yang mereka miliki. Apakah tindakan yang mereka lakukan sudah sesuai dengan keyakinan kelas mereka atau belum? dengan demikian. Siswa dapat menentukan sendiri cara terbaik untuk memperbaiki kesalahan mereka.  

Hal menarik di luar dugaan

Hal menarik di luar dugaan saya terkait konsep disiplin positif adalah;

  • peraturan itu sifatnya hanya jangka pendek dan kurang efektif dalam menumbuhkan disiplin yang berasal dari motivasi internal
  • Untuk menegakkan disiplin diawali dengan kesepakatan tentang keyakinan kelas, dari hal inilah semua dimulai dan dikembalikan
  • "Everything Happens For a Reason" Kalimat itu kini menjadi "senjata ajaib" bagi saya dalam memahami orang lain khsususnya murid. Ketika saya menghadapi perilaku negatif siswa, saya akan berpikir seperti ini dan menganalisis kebutuhan dasar yang dimilki murid saya dan berpaya mepraktekan posisi kontrol yang positif.

Tuliskan pengalaman Anda dalam menggunakan konsep-konsep inti tersebut dalam menciptakan budaya positif baik di lingkup kelas maupun sekolah Anda

Setelah saya membaca teori tentang budaya positif, saya jadi ingin menerapkannya di dalam kelas maupun di dalam kehidupan sehari-hari. Secara spontan, saya pun menjadi berpikir tentang kebutuhan dasar yang dimiliki semua orang dari tindakan yang mereka lakukan, khususnya siswa. 

Minggu ini, di sekolah saya sedang diadakan PAS (Penilaian Akhir Semester). Saya menjadi pengawas ruangan. Saat memasuki salah satu kelas, saya menemukan kelas yang begitu berbeda dari kelas lainnya. Mereka ribut sepanjang waktu, seperti mengeluarkan suara yang tidak jelas, bertanya dengan keras kepada temannya, mendiskusikan soal. Padahal, di awal ujian saya sudah memberikan kepada mereka aturan ketika sedang menghadapi PAS. kan tetapi 4 anak yang duduk di depan dan berdekatan tetap melakukan keributan.

Saya mencoba menganalisis kebutuhan dasar apa yang mereka butuhkan. Saya melihatnya, mereka butuh akan kesenangan dan salah satu dari mereka yang wanita sepertinya butuh akan pengakuan bahwa dirinya berarti bagi teman-temannya, berpengaruh, dan ingin diakui keberadaannya sebagai orang yang menonjol dari teman lainnya. 

Saya mencoba melakukan posisi kontrol sebagai teman pada mereka. Saya dekati mereka dan saya katakan, "Ayo masih ingat tidak tadi peraturan awalnya apa?" Mereka mengatakan, "Jangan terlalu tegang Bu? santai sedikit", "Oke deh, menurut kalian, hal apa yang bisa kalian lakukan agar kesenangan kalian bisa dilakukan tapi tidak mengganggu orang lain yang sedang ujian" di kelas lain mereka meminta mengerjakan sambil mendengarkan musik. Di kelas ini mereka tidak menjawab, sepertinya bingung. Tapi, kemudian diam dan setelah itu melakukan keributan lagi. Sejujurnya, saya bingung sampai berkesimpulan ternyata dalam praktiknya tidak semudah memahami teori. Ada banyak kondisi spontanitas yang di luar dugaan. Karena situasi tidak berubah, saya menahan diri tidak menjadi posisi kontrol penghukum. Saya ingin terus dan coba memahami bahwa semua orang punya alasan. Akhirnya saya meminta salah satu dari mereka yang kebetulan menjawab soal lebih dulu, untuk mengedarkan abseni kepada temannya dan sepertinya anak ini cukup senang dengan tugasnya, dia menjadi merasa istimewa dan sumber keributan berkurang satu. Kepada anak yang satu lagi saya memposisikan sebagai pemantau, saya katakan peraturannya seperti apa dan konsekuensinya harus seperti apa. Dia mengerti tapi kemudian dia melakukan posisi pemantau juga pada yang lain. Dia sendiri ribut dan dia sendiri yang melarang teman lainnya ribut saat ujian. Saya tersenyum sendiri. Aish, saya berkesimpulan. Ternyata, saya belum memahami dan masih kesulitan dalam mempraktikan budaya positif di sekolah. Akhirnya, saya tanya satu persatu dengan melihat dafar hadir dan saya tanya mereka berasal darimana karena mereka masih kelas 7 dan saya tidak pernah mengajar di kelas mereka. Nah, ketika saya panggil namnay satu persatu dan bertanya alamat rumah, mereka akhirnya tidak ribut lagi.

Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan segitiga restitusi ketika menghadapi permasalahan murid Anda? Jika iya, ada di posisi manakah Anda? Anda boleh menceritakan situasinya dan posisi Anda saat itu.

Pernah. Waktu itu ada siswa yang mengadu ada temannya yang membuat akun palsu atas nama dia dan menyebarkan berita negatif ke teman lainnya. Anak yang menjadi korban merasa sakit hati dan merasa dirugikan. Dia mencurigai salah satu temannya, karena hanya  anak itu yang memiliki foto itu yang dijadikan foto profil.

Saya memanggil anak yang dicurigai tersebut. Tapi saya tidak langsung mevonis dia yang bersalah dan tidak mengatakan bahwa temanya mencurigainya. Saya bertanya kepadanya apakah dia tahu kasus itu dan mungkin tahu siapa yang melakukannya karena dia salah satu yang komentar di medsos tersebut. (Upaya menstabilkan identitas) Anak itu langsung melakukan pertahanan diri dan sepertinya memang merasa bersalah, tapi dia menuduh orang lain melakukannya. Saya katakan kepadanya bahwa sebenarnya siapa pun bisa melakukan kesalahan itu karena mungkin tidak tahu  letak kesalahannya.Tidak tahu kerugian yang dilakukan apa yang didapat dari tindakannya (Validiasi kesalahan).Tapi, pada akhirnya saya melakukan sedikit ancaman (heheh) saya katakan begini, Ibu tidak akan meghukum jika orang tersebut bersedia menghapus akunnya tersebut dan emminta maaf langsung kepada orangnya secara pribadi tanpa harus mengatakan kepada Ibu. Malam ini Ibu ingin mendengar korban berkata bahwa masalah sudah seslesai. Tapi jika tidak ada berita malam ini, ibu akan memanggil orang tua untuk penyelesaiannya karena ini menyangkut nama baik seseorang. Akhirnya malam hari, korban berkata akunnya sudah dihapus dan ada yang meminta maaf padanya yaitu teman yang memang dia curigai. Kata korbannya, Ibu saya sudah tidak apa-apa, saya tahu itu hanya iseng saya sudah memafkannya dan jangan lagi dibawa ke orang tua kasusnya. Saya tidak melakukan restitusi akhir, karena memang saya belum paham langkahnya. Masalahnya selesai dengan damai, tapi saya tidak tahu apakah posisi kontrol yang saya lakukan mungkin tidak nyaman bagi anak yang merasa bersalah dan tidak paham juga pakah anak tersebut mengambil pelajaran berhara taua tidak.

Perubahan  apa yang terjadi pada cara berpikir Anda dalam menciptakan budaya positif di kelas maupun sekolah Anda setelah mempelajari modul ini?

Perubahan cara berpikir saya terkait konsep disiplin positif  

  • Pada awalnya saya bepikir, hal-hal kecil seperti aturan yang ada di sekolah terlalu dipaksakan dan menghambat kebebasan secara individu. Akan tetapi sekarang saya memahami bahwa boleh saja atiran itu diajlankan tapi penekannannya pada keyakina kelas, bukan sekedr peraturan yang istilahnya hanya membuat mereka menuruti kata guru
  • Pada awalnya, saya berpikir mendisiplinkan siswa mungkin memang harus dengan cara hukuman. Ternyata hal itu, kurang tepat karena hanya akan menjadikan mereka taat sesaat. Justru yang perlu dibangun adalah motivasi/ kesadaran internal melalui Kesepakatan tentang keyakinan kelas terlebih dahulu.
  • "Everything Happens For a Reason" Kalimat itu kini menjadi "senjata ajaib" bagi saya dalam memahami orang lain khsususnya murid. Ketika saya menghadapi perilaku negatif siswa, saya akan berpikir seperti ini dan menganalisis kebutuhan dasar yang dimiliki murid saya dan berpaya mepraktekan posisi kontrol yang positif.

Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi Anda sebagai seorang individu dan Anda sebagai seorang pemimpin pembelajaran?

Setelah saya membaca modul ini, sejujurnya saya merasa sangat bersyukur mendapatkan materi ini. Materi ini sangat pening bagi saya karena membuat saya bisa lebih positif dalam menilai orang lain (perbedan karakter dan sikap tindakan). Sekarang saya jadi berupaya memahami terlebih dahulu setiap tindakan daripada memvonis negatif. Misal hal sederhana, ketika  teman saya tidak membalas chat padahal sangat penting, dulu saya kesal dan sebal. Sekarang saya berpikir, bahwa dia punya alasan bukan karena tidak suka dll.

Sebagai seorang pemimpin pembelajaran, saya ingin menerapkan budaya positif ini baik di dalam pembelajaran maupun dalam interaksi dengan lingkungan pembelajran dengan dimulai dari diri sendiri. 

Apa yang Anda bisa lakukan untuk membuat dampak/perbedaan di lingkungan Anda setelah Anda mempelajari modul ini?

Hal yang saya lakukan adalah menulis dan membagikan tulisan di media online dan membagikanya kepada seluruh warga sekolah. Kemudian akan memulai menyepakati keyakinan sekolah di kelas saya terlebih dahulu dan mengenalkannya kepada orang terdekat agar bisa melaksanakan bersama-sama. Saya akan menempel keyakina kelas tersebut di kelas

Selain konsep-konsep tersebut, adakah hal-hal lain yang menurut Anda penting untuk dipelajari dalam proses menciptakan budaya positif baik di lingkungan kelas maupun sekolah?

Hal lain yang terpenting dalam menciptakan budaya positif baik di lingkungan kelas maupun sekolah adalah belajar untuk menemukan keyakinan sekolah/ merumuskan keyakinan sekolah secara bersama-sama dengan bantuan profesional.

Langkah-langkah awal apa yang akan Anda lakukan jika kembali ke sekolah/kelas Anda setelah mengikuti sesi ini?

Langkah-langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut:

  1. Saya akan mendiskusikan keyakinan kelas
  2. merumuskan dan menuliskannya di kelas
  3. membuat administrasi (catatan) terkait perilaku siswa dan mendata kebutuhan dasar mereka dan posisi kontrol yang bisa dilakukan
  4. melakukan evaluasi



JURNAL REFLEKSI KE-8 (6 s.d 10 Desember 2021)


Model 8: Model Driscoll

1) WHAT? 

Pada Minggu ini saya melakukan Aksi nyata Visi Guru Penggerak dengan melakukan kegiatan pembelajaran dengan model BAGJA. Aksi nyata tersebut dapat dilihat di dalam blog saya 

https://emadamayanti29.blogspot.com/2021/12/penerapan-bagja-di-smp-negeri-2-cililin.html

Kemudian di hari Selasa, 7 Desember 2021 mulai masuk Modul 1.4, yaitu tentang Budaya Positif. Pada alur Mulai dari diri sendiri, kami diberi beberapa pertanyaan yang terkait menciptakan budaya positif yang pernah dilakukan di sekolah masing-masing dan upaya penerapan disiplin yang sudah dilakukan sejauh ini. 

Pada tahap Eksplorasi konsep, kami mempelajari materi tentang budaya positif seperti Perubahan paradigma, Konsep Disiplin Positif dan Motivasi, keyakinan Kebutuhan Dasar, Lima Posisi Kontrol, dan Segitiga Restitusi. 

Setelah memahami konsep budaya positif, kami berdiskusi kelompok membahas 4 kasus secara secara asinkronus. Kemudian melakukan presentasi dalam ruang kolaborasi. Kegiatan bedah kasus ini sudah dibuat presentasinya dalam canva seperti ini. 

https://www.canva.com/design/DAEyHuxlwDo/ZtMTVpUZM7PyGKa3kyzFBw/view?utm_content=DAEyHuxlwDo&utm_campaign=designshare&utm_medium=link&utm_source=publishsharelink

2) SO WHAT? (Analisis dari peristiwa yang terjadi) - 

Pada saat saya melakukan Aksi Nyata Visi Guru Penggerak dengan menerapkan Konsep BAGJA, saya merasa senang karena bisa termotivasi untuk mempraktikan apa yang saya pahami dalam pembelajaran dan juga dalam kegiatan literasi dan hal tersebut dapat menunjang visi saya sebagai calon guru penggerak. Kegiatan BAGJA pun berjalan lancar hanya tinggal saya terus mempraktikannya dan membuat perencanaan kedepannya dengan lebih baik lagi.

Hal menarik dan membuat kesan mendalam bagi saya ketika membaca modul ke-4 yaitu Budaya Positif adalah saya merasakan materi CGP  sangat luar biasa memberikan Inspirasi dan hal baru bagi saya. Sejalan dengan konsep IA yang fokus pada kekuatan positif di sekolah. Budaya positif juga menyajikan sudut pandang positif dalam menyikapi permasalahan yang ada di sekolah seperti bagaimana memahami tindakan siswa dan cara restitusi dalam menyelesaikannya, bagi saya adalah hal baru dan sangat menginspirasi.

Saya juga jadi lebih memahami penerapan didiplin positif. Seeblumnya saya masih merasa bingung dengan penerapan disiplin dnegan hukuman. Tapi sekarang saya memahmi konsep penerapan disiplin. Sekarang setiap saya bertemu siswa dengan segala tingkahnya, yang ada dalam pikiran saya adalah kalimat, "Pahami dulu Kebutuhan dasar apa yang siswa tersebut inginkan. Kemudian, memikirkan cara melakukan restitusi. Apalagi ketika sudah berdiskusi membedah kasus dengan kelompok, saya pun merasa sangat asyik ketika kami semua kadang berbeda pikiran dan pendapat. Tapi pada akhirnya dapat membuat sebuah kesimpulan bersama. 

Ketika membedah kasus budaya positif, ternyata pendapat setiap guru itu berbeda terutama saat menyimpulkan kebutuhan dasar siswa berdasarkan ilustrasi yang digambarkan dan juga ketika memilih posisi kontrol guru dalam praktik restitusi. begitu pula saat berada dalam ruang kolaborasi. Terdapat perbedaan pendapat antarkelompok terkait membedah kasus siswa. Sepertinya semua guru memiliki pemikiran yang sama bahwa dalam menerapkan budaya positif tersebut, guru bisa saja menemukan lebih dari satu kebutuhan dasar pada siswa dan cara guru memberikan restitusi juga bisa dengan menggabungkan beberapa teori kontrol.

Setelah saya mempelajari budaya positif, saya merasa sering melakukan kesalahan dalam penerapan disiplin. Saya bukan tipe guru penghukum, tapi saya cenderung terlalu memberikan kebebasan kepada siswa tanpa aturan. Padahal, sebenarnya semua siswa harus memiliki keyakinan kelas atau keyakinan universal yang dijadikan pedoman untuk membentuk budaya positif. Saya juga terkadang sering memberikan siswa pada posisi bersalah meskipun maksudnya sebenarnya ingin melakukan perbaikan bukan ingin menyalahkan siswa. Tapi kadang pula saya merasa berhasil melakukan restitusi.

3) NOW WHAT? (Tindak lanjut dari peristiwa yang terjadi) 

Setelah saya mempelajari modul Budaya Positif, saya ingin melakukan perbaikan terkait penerapan disiplin positif di sekolah. Langkah-langkah yang akan saya lakukan adalah sebagai berikut:

  • Saya akan mengajak siswa membuat kesepakatan kelas. Sepertinya siswa akan mengungkapkan beberapa kesepakatan. hasil kesepakatan siswa tersebut dibuat keyakinan kelas dan keyakinan kelas tersebut ditempel di dinding kelas, agar setiap hari siswa membacanya.
  • Keyakinan kelas tersebut diperdalam melalui kegiatan kelompok, satu kelompok satu keyakinan, siswa diminta mengisi hal yang seharusnya tampak dan tidak seharusnya tampak, kemudian menuliskan rangkuman dalam bentuk Y-chart, terdengar, bentuk perilakunya, dan terlihat seperti apa.
  • Mengganti hukuman dengan konsekuensi agar keyakinan atau peraturan yang sudah dibuat terinternalisasi pada diri siswa. Penghargaan atau iming-iming hadiah ternyata tidak menumbuhkan karakter tapi sifatnya temporar. Oleh karena itu, cara yang efektif menumbuhkan kesadaran dengan pembiasaan dan keyakinan
  • Jika siswa yang melanggar aturan dikembalikan pada keyakina kelas atau restitusi.


Selasa, 14 Desember 2021



REFLEKSI TERBIMBING BUDAYA POSITIF

Berikut ini adalah tugas Calon Guru Penggerak Modul 1.4 tentang Budaya Positif pada Fase Refleksi Terbimbing.

Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep inti yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: disiplin positif, posisi kontrol guru, kebutuhan dasar manusia, keyakinan kelas, dan segitiga restitusi. Adakah hal-hal yang menarik untuk Anda dan di luar dugaan?

Disiplin Positif

Pemahaman saya tentang disiplin positif adalah disiplin yang dibangun dengan paradigma berpikir positif. Sejauh ini kesan dari disiplin adalah sesuatu yang membuat orang terikat, terpaksa mengikuti aturan yang berlaku, dan sekedar ingin melakukan sesuatu yang diharuskan oleh pihak lain. Saya juga menduga seperti itu pada awalnya, disiplin itu sama dengan terikat aturan yang mengurangi segala kebebasan kita sebagai manusia yang bebas berpikir dan berekspresi. Kesan saya tentang disiplin adalah sesuatu yang justru memaksakan kehendak pada orang lain dan mengharuskan orang lain bertindak sama dan menyalahi keragaman manusia. Akan tetapi, setelah saya mempelajari tentang konsep disiplin positif, terbukalah segala kebingungan saya tentang konsep disiplin. Saya merasa mendapatkan jawaban atas kebingungan saya selama ini antara aturan memaksa dan disiplin. 

Disiplin memang penting bahkan sangat penting apalagi diterapkan pada siswa, tapi definisi disiplin positif tidak sempit hanya pada aturan yang berlaku. Disiplin positif justru berupaya menggerakan manusia untuk menaati nilai-nilai universal tapi atas dasar kesadaran sendiri (Motivasi intrinsik). Bukan motivasi dari luar (ekstrinsik). Sebab, disiplin yang didasarkan pada kesadaran atau berpegang teguh  pada keyakinan nilai-nilai diri justru jauh lebih lama melekat dan tidak mudah digoyahkan dibandingkan disiplin yang dibangun karena rasa ketakutan atau hanya ingin menaati orang lain. 

Hal tersebut sebenarnya sudah diungkapkan oleh Ki Hajar Dewantara dan sejalan dengan pemikiran DIane Gossen, yang mengatakan bahwa disiplin itu seharusnya lebih kepada disiplin diri. Diri kita harus memiliki keterampilan mengatur diri sendiri. Dan jika kita tidak dapat mengatur diri sendiri, butuh orang lain atau sebuah aturan yang mendisiplinkan diri kita. Akan tetapi, ruh disiplin yang dibangun bukan "keterpaksaan" tapi disiplin yang pada akhirnya membuat kita menyadari sendiri pentingnya disiplin. 

Oleh karena itu, ketika kita menerapkan disiplin pada siswa yang terpenting adalah menanamkan disiplin positif kepada siswa. Hal itu diawali dengan membuat kesepakatan sesuai dengan keyakinan Universal. 

Posisi Kontrol Guru 

Penerapan disiplin di sekolah tidak akan lepas dari guru sebagai orang yang berada di posisi menerapkan disiplin terhadap siswa. Menurut Diane Gossen, Penerapan disiplin dilakukan dengan berpusat pada murid dilakukan dengan sebutan 5 Posisi Kontrol, yaitu:

Penghukum

Posisi kontrol penghukum adalah guru bertindak seperti satu-satunya orang yang berkuasa pada aturan sehingga semua murid harus taat seperti cara dia dan jika tidak taat guru akan memberikan hukuman bisa berupa verbal ataupun fisik. Posisi kontrol ini memungkinkan murid tidak suka, tersakiti, atau bisa jadi dendam terhadap guru sehingga disiplin yang dikendaki pun tidak berjalan efektif.

Pembuat Orang Merasa Bersalah

Posisi kontrol Pembuat Orang Merasa Bersalah adalah guru bertindak secara halus. Misalnya menegur secara halus, akan tetapi kalimat yang diucapkannya mengandung membuat murid di posisi merasa bersalah karena tidak menaati gurunya dan tidak mengikuti kemauan gurunya. Misalnya dengan kalimat, "Kamu tidak kasihan sama Ibu nak, Ibu sudah cape buat tugas semalaman bahkan hampir saja ibu tidak tidur, tapi kamu tidak mengerjakannya." Posisi kontrol seperti ini membuat murid merasa buruk dan sangat bersalah, tapi juga tidak berefek mereka menjadi menaati disiplin yang diterapkan.

Teman

Posisi kontrol ini teman adalah guru bertindak seperti teman pada murid. Sehingga murid merasa dekat dan bergantung pada gurunya. Hal ini akan membuta siswa merasa nyaman. Akan tetapi, efek negatifnya, murid jadi bergantung kepada guru tersebut dan ketika guru tersebut tidak memperhatikan mereka sekali saja, mereka merasa dikecewakan dan efek negatif lainnya, siswa hanya taat kepada guru tersebut dan tidak kepada guru lain. 

Pemantau

Posisi kontrol  pemantau atau pengawas guru bertindak netral. Guru akan memberlakukan disiplin sesuai dengan aturan, kesepakatan, kemudian akan memberikan sanksi sesuai kesalahan yang dibuat siswa. Guru tidak emosi jika siswa melakukan ketidaksidiplinan, tapi akan melakukan sangsi  sesuai dengan data, catatan, obseravasi yang dilakukan secara obejektif. Misalnya menghukum siwsa yang tidak piket kelas dengan melihat daftar hadir piket, dan memberikan sanksi yang sesuai dengan kesalahan yang dibuat. Misal sanksi yang tidak piket, beres-beres di perpustakaan sendiri. 

Manajer 

Posisi Kontrol Manajer adalah posisi guru berkolaborasi dengan murid untuk memperbaiki kesalahan dengan cara murid sendiri. Posisi ini sesuai dengan teori restitusi, guru tidak langsung menyalahkan siswa tapi mengajak mereka mengevaluasi diri terkait kesalahan yang dibuat dan mereka sendiri yang memilih cara memperbaiki kesalahan mereka. Posisi kontrol ini justru akan membuat murid memiliki keyakinan lebih kuat terhadap nilai kebajikan universal, buka lagi pasksaan tapi menumbuhkan motivasi internal mereka.

Kebutuhan Dasar Manusia

Segala sesuatu terjadi karena sebuah alasan. Barangkali kalimat tersebut cukup mewakili untuk kita memahami tentang Konsep kebutuhan dasar manusia. Setiap manusia atau seorang murid khususnya ketika dia melakukan hal buruk sekalipun pasti ada alasannya. Hal tersebut berarti ketika kita menghadapi murid, segala tindakan mereka harus terlebih dahulu dipahami sebelum kita berikan solusi atau konsekuensinya. Bekal untuk memahami tindakan murid adalah dengan memahami konspe % Kebutuhan dasar manusia yatiu:

Survival/ Kebutuhan Bertahan Hidup

Kebutuhan ini bersifat fisologis seperti kebutuhan akan makan, kesehatan, tempat tinggal, seks (Bereproduksi). Hal yang bersifat psikologisnya adalah kebutuhan akan rasa aman.

Cinta dan Kasih Sayang (Kebutuhan untuk diterima)

Kebutuhan untuk mencintai dan memiliki, memberi dan menerima. Saling terhubung dengan orang lain, keluarga, sahabat, dan lingkungan sekitar. Anak dengan kebutuhan ini sangat ingin dicintai orang tua, berada di lingkaran persahabatan, dan suka bekerja dalam kelompok, ingin dicintai oleh guru mereka juga.

Penguasaan (Kebutuhan Pengakuan atas Kemampuan)

Kebutuhan untuk diakui kemampuannya, prestasinya, diakui harga diri, dan pencapaiannya terhadap sesuatu. Anak dengan tipe ini ingin selalu memimpin, menonjol, tidak suka melakukan kesalahan. Ingin segala sesuatu sempurna.

Kebebasan (Kebutuhan Akan Pilhan)

Kebutuhan untuk mempunyai pilihan, mandiri, bebas, otonom. Anak dengan tipe ini suka bergerak, mencoba hal baru, dan suka berbeda dengan orang lain.

Kebutuhan Akan Merasa Senang

Kebutuhan untuk memiliki perasaan lepas, tertawa, riang dan hal lain yang bersifat kesenangan. Anak dengan tipe ini biasanya riang, senang melucu dan mencairkan suasana.

Keyakinan Kelas

Keyakinan kelas adalah nilai-nilai universal yang dijadikan panduan atau arah bersikap anggota kelas atas kesepakatan bersama. Keyakinan kelas bukan peraturan tapi sifatnya lebih abstrak dan menurut Gossen, keyakinan kelas itu sifatnya lebih menumbuhkan motivasi Internal. Misalnya, tanggung jawab, kemandirian, saling menghargai, dll. Keyakinan kelas bisa disepakati dan dibuat oleh seluruh warga sekolah kemudian ditempel di dinding. Setiap permasalahan yang berkaitan dengan pelanggaran disiplin, bisa dikembalikan kepada keyakinan kelas. 

Segitiga Restitusi

Restitusi merupakan upaya yang dilakukan guru dalam rangka memperbaiki kesalahan yang dilakukan murid dengan cara memberikan murid pilihan untuk memperbaiki kesalahannya. Restitusi juga mengembalikan siswa ke dalam kelompoknya bukan malah menjauhkannya dan membuat mereka belajar dari kesalahan dan murid tersebut makin kuat keyakinan/nilai-nilai dirinya. Jadi dengan restitusi murid yang bersalah, bukan dihukum atau sekedar diminta minta maaf. Tapi diupayakan siswa menyadari kesalahan sendiri dan berupaya memperbaikinya dengan kemauan sendiri.

Segitiga restitusi adalah langkah atau tahapan dalam melakukan restitusi.

1. Menstabilkan identias

Pada tahap ini, guru mencoba membuat siswa merasa nyaman dengan memahami bahwa semua orang termasuk murid pasti telah melakukan yang terbaik. Akan tetapi, karena suatu alasan mereka bisa saja melakukan kesalahan dan itu wajar. Siapa pun bisa bersalah baik itu siswa atau pun guru.

2. Memvalidasi Kesalahan

Pada tahap ini, guru berupaya memahami alasan siswa berbuat salah. Guru memvalidasi kesalahan siswa dengan kebutuhan dasar yang Ingin mereka penuhi.Kemudian, memberikan pilihan mereka cara terbaik untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka. 

3. Menanyakan Keyakinan

Setiap kesalahan siswa dikembalikan lagi kepada keykinan kelas yang mereka miliki. Apakah tindakan yang mereka lakukan sudah sesuai dengan keyakinan kelas mereka atau belum? dengan demikian. Siswa dapat menentukan sendiri cara terbaik untuk memperbaiki kesalahan mereka.  

Hal menarik di luar dugaan

Hal menarik di luar dugaan saya terkait konsep disiplin positif adalah;

  • peraturan itu sifatnya hanya jangka pendek dan kurang efektif dalam menumbuhkan disiplin yang berasal dari motivasi internal
  • Untuk menegakkan disiplin diawali dengan kesepakatan tentang keyakinan kelas, dari hal inilah semua dimulai dan dikembalikan
  • "Everything Happens For a Reason" Kalimat itu kini menjadi "senjata ajaib" bagi saya dalam memahami orang lain khsususnya murid. Ketika saya menghadapi perilaku negatif siswa, saya akan berpikir seperti ini dan menganalisis kebutuhan dasar yang dimilki murid saya dan berpaya mepraktekan posisi kontrol yang positif.

Tuliskan pengalaman Anda dalam menggunakan konsep-konsep inti tersebut dalam menciptakan budaya positif baik di lingkup kelas maupun sekolah Anda

Setelah saya membaca teori tentang budaya positif, saya jadi ingin menerapkannya di dalam kelas maupun di dalam kehidupan sehari-hari. Secara spontan, saya pun menjadi berpikir tentang kebutuhan dasar yang dimiliki semua orang dari tindakan yang mereka lakukan, khususnya siswa. 

Minggu ini, di sekolah saya sedang diadakan PAS (Penilaian Akhir Semester). Saya menjadi pengawas ruangan. Saat memasuki salah satu kelas, saya menemukan kelas yang begitu berbeda dari kelas lainnya. Mereka ribut sepanjang waktu, seperti mengeluarkan suara yang tidak jelas, bertanya dengan keras kepada temannya, mendiskusikan soal. Padahal, di awal ujian saya sudah memberikan kepada mereka aturan ketika sedang menghadapi PAS. kan tetapi 4 anak yang duduk di depan dan berdekatan tetap melakukan keributan.

Saya mencoba menganalisis kebutuhan dasar apa yang mereka butuhkan. Saya melihatnya, mereka butuh akan kesenangan dan salah satu dari mereka yang wanita sepertinya butuh akan pengakuan bahwa dirinya berarti bagi teman-temannya, berpengaruh, dan ingin diakui keberadaannya sebagai orang yang menonjol dari teman lainnya. 

Saya mencoba melakukan posisi kontrol sebagai teman pada mereka. Saya dekati mereka dan saya katakan, "Ayo masih ingat tidak tadi peraturan awalnya apa?" Mereka mengatakan, "Jangan terlalu tegang Bu? santai sedikit", "Oke deh, menurut kalian, hal apa yang bisa kalian lakukan agar kesenangan kalian bisa dilakukan tapi tidak mengganggu orang lain yang sedang ujian" di kelas lain mereka meminta mengerjakan sambil mendengarkan musik. Di kelas ini mereka tidak menjawab, sepertinya bingung. Tapi, kemudian diam dan setelah itu melakukan keributan lagi. Sejujurnya, saya bingung sampai berkesimpulan ternyata dalam praktiknya tidak semudah memahami teori. Ada banyak kondisi spontanitas yang di luar dugaan. Karena situasi tidak berubah, saya menahan diri tidak menjadi posisi kontrol penghukum. Saya ingin terus dan coba memahami bahwa semua orang punya alasan. Akhirnya saya meminta salah satu dari mereka yang kebetulan menjawab soal lebih dulu, untuk mengedarkan abseni kepada temannya dan sepertinya anak ini cukup senang dengan tugasnya, dia menjadi merasa istimewa dan sumber keributan berkurang satu. Kepada anak yang satu lagi saya memposisikan sebagai pemantau, saya katakan peraturannya seperti apa dan konsekuensinya harus seperti apa. Dia mengerti tapi kemudian dia melakukan posisi pemantau juga pada yang lain. Dia sendiri ribut dan dia sendiri yang melarang teman lainnya ribut saat ujian. Saya tersenyum sendiri. Aish, saya berkesimpulan. Ternyata, saya belum memahami dan masih kesulitan dalam mempraktikan budaya positif di sekolah. Akhirnya, saya tanya satu persatu dengan melihat dafar hadir dan saya tanya mereka berasal darimana karena mereka masih kelas 7 dan saya tidak pernah mengajar di kelas mereka. Nah, ketika saya panggil namnay satu persatu dan bertanya alamat rumah, mereka akhirnya tidak ribut lagi.

Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan segitiga restitusi ketika menghadapi permasalahan murid Anda? Jika iya, ada di posisi manakah Anda? Anda boleh menceritakan situasinya dan posisi Anda saat itu.

Pernah. Waktu itu ada siswa yang mengadu ada temannya yang membuat akun palsu atas nama dia dan menyebarkan berita negatif ke teman lainnya. Anak yang menjadi korban merasa sakit hati dan merasa dirugikan. Dia mencurigai salah satu temannya, karena hanya  anak itu yang memiliki foto itu yang dijadikan foto profil.

Saya memanggil anak yang dicurigai tersebut. Tapi saya tidak langsung mevonis dia yang bersalah dan tidak mengatakan bahwa temanya mencurigainya. Saya bertanya kepadanya apakah dia tahu kasus itu dan mungkin tahu siapa yang melakukannya karena dia salah satu yang komentar di medsos tersebut. (Upaya menstabilkan identitas) Anak itu langsung melakukan pertahanan diri dan sepertinya memang merasa bersalah, tapi dia menuduh orang lain melakukannya. Saya katakan kepadanya bahwa sebenarnya siapa pun bisa melakukan kesalahan itu karena mungkin tidak tahu  letak kesalahannya.Tidak tahu kerugian yang dilakukan apa yang didapat dari tindakannya (Validiasi kesalahan).Tapi, pada akhirnya saya melakukan sedikit ancaman (heheh) saya katakan begini, Ibu tidak akan meghukum jika orang tersebut bersedia menghapus akunnya tersebut dan emminta maaf langsung kepada orangnya secara pribadi tanpa harus mengatakan kepada Ibu. Malam ini Ibu ingin mendengar korban berkata bahwa masalah sudah seslesai. Tapi jika tidak ada berita malam ini, ibu akan memanggil orang tua untuk penyelesaiannya karena ini menyangkut nama baik seseorang. Akhirnya malam hari, korban berkata akunnya sudah dihapus dan ada yang meminta maaf padanya yaitu teman yang memang dia curigai. Kata korbannya, Ibu saya sudah tidak apa-apa, saya tahu itu hanya iseng saya sudah memafkannya dan jangan lagi dibawa ke orang tua kasusnya. Saya tidak melakukan restitusi akhir, karena memang saya belum paham langkahnya. Masalahnya selesai dengan damai, tapi saya tidak tahu apakah posisi kontrol yang saya lakukan mungkin tidak nyaman bagi anak yang merasa bersalah dan tidak paham juga pakah anak tersebut mengambil pelajaran berhara taua tidak.

Perubahan  apa yang terjadi pada cara berpikir Anda dalam menciptakan budaya positif di kelas maupun sekolah Anda setelah mempelajari modul ini?

Perubahan cara berpikir saya terkait konsep disiplin positif  

  • Pada awalnya saya bepikir, hal-hal kecil seperti aturan yang ada di sekolah terlalu dipaksakan dan menghambat kebebasan secara individu. Akan tetapi sekarang saya memahami bahwa boleh saja atiran itu diajlankan tapi penekannannya pada keyakina kelas, bukan sekedr peraturan yang istilahnya hanya membuat mereka menuruti kata guru
  • Pada awalnya, saya berpikir mendisiplinkan siswa mungkin memang harus dengan cara hukuman. Ternyata hal itu, kurang tepat karena hanya akan menjadikan mereka taat sesaat. Justru yang perlu dibangun adalah motivasi/ kesadaran internal melalui Kesepakatan tentang keyakinan kelas terlebih dahulu.
  • "Everything Happens For a Reason" Kalimat itu kini menjadi "senjata ajaib" bagi saya dalam memahami orang lain khsususnya murid. Ketika saya menghadapi perilaku negatif siswa, saya akan berpikir seperti ini dan menganalisis kebutuhan dasar yang dimiliki murid saya dan berpaya mepraktekan posisi kontrol yang positif.

Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi Anda sebagai seorang individu dan Anda sebagai seorang pemimpin pembelajaran?

Setelah saya membaca modul ini, sejujurnya saya merasa sangat bersyukur mendapatkan materi ini. Materi ini sangat pening bagi saya karena membuat saya bisa lebih positif dalam menilai orang lain (perbedan karakter dan sikap tindakan). Sekarang saya jadi berupaya memahami terlebih dahulu setiap tindakan daripada memvonis negatif. Misal hal sederhana, ketika  teman saya tidak membalas chat padahal sangat penting, dulu saya kesal dan sebal. Sekarang saya berpikir, bahwa dia punya alasan bukan karena tidak suka dll.

Sebagai seorang pemimpin pembelajaran, saya ingin menerapkan budaya positif ini baik di dalam pembelajaran maupun dalam interaksi dengan lingkungan pembelajran dengan dimulai dari diri sendiri. 

Apa yang Anda bisa lakukan untuk membuat dampak/perbedaan di lingkungan Anda setelah Anda mempelajari modul ini?

Hal yang saya lakukan adalah menulis dan membagikan tulisan di media online dan membagikanya kepada seluruh warga sekolah. Kemudian akan memulai menyepakati keyakinan sekolah di kelas saya terlebih dahulu dan mengenalkannya kepada orang terdekat agar bisa melaksanakan bersama-sama. Saya akan menempel keyakina kelas tersebut di kelas

Selain konsep-konsep tersebut, adakah hal-hal lain yang menurut Anda penting untuk dipelajari dalam proses menciptakan budaya positif baik di lingkungan kelas maupun sekolah?

Hal lain yang terpenting dalam menciptakan budaya positif baik di lingkungan kelas maupun sekolah adalah belajar untuk menemukan keyakinan sekolah/ merumuskan keyakinan sekolah secara bersama-sama dengan bantuan profesional.

Langkah-langkah awal apa yang akan Anda lakukan jika kembali ke sekolah/kelas Anda setelah mengikuti sesi ini?

Langkah-langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut:

  1. Saya akan mendiskusikan keyakinan kelas
  2. merumuskan dan menuliskannya di kelas
  3. membuat administrasi (catatan) terkait perilaku siswa dan mendata kebutuhan dasar mereka dan posisi kontrol yang bisa dilakukan
  4. melakukan evaluasi

Minggu, 05 Desember 2021

JURNAL REFLEKSI KE-7

JURNAL REFLEKSI KE-7

Minggu, 05 Desember 2021


Pada Minggu ini, saya belajar mempraktikan Konsep IA atau Metode BAGJA. Saya sudah membuat rangkuman dalam bentuk tabel yang diupload ke LMS dan juga sudah melakukan koneksi antar materi.

Pemahaman tentang penerapan BAGJA juga bertambaih setelah saya mengikuti kegiatan pembelajaran yang disampaikan oleh Instukut. Salah satu peserta ditanya oleh instruktur dan ternyata itulah penerapan BAGJA. 

Saya juga bahagia karena rasanya dengan modul 1.3 ini saya betul-betul terinspirasi dalam melakukan sebuah perubahan dalam mecapai visi. Sehingga perasaan saya itu saya tulis di mediaonline Kompasiana https://www.kompasiana.com/emadamayanti4252/61acce7d62a7047ab77f8992/belajar-dengan-bahagia 

Hal yang saya garis bawahi terkait BAGJA dan IA ini adalah bahwa dalam mewujudkan sebuah visi perubahan harus fokus pada kekuatan. Ini benar-benar hal baru bagi saya. Meskipun sebenarnya pemahaman saya tentang metode BAGJA itu sebenarnya masih belum utuh. Masih banyak kebingungan dalam mengisi Tahapan BAGJA.  Kendatipun demikian Alhamdulillhah saya berhasil melakukan penerapnnya melalui keiatan AKSI NYATA seperti yang saya tulis dalam blog pribadi https://emadamayanti29.blogspot.com/2021/12/penerapan-bagja-di-smp-negeri-2-cililin.html

Kedepannya saya Insyaallah akan menerapkan semua strategi yang sudah saya tulis di dalam tugas-tugas yang sudah saya rencanakan.


Aksi Nyata Modul 1.3 Visi dan Nilai Guru Penggerak

Penerapan BAGJA di SMP Negeri 2 Cililin
(Aksi Nyata Modul 1.3 Visi dan Nilai Guru Penggerak)

Apa Itu BAGJA?? 

BAGJA merupakan tahapan perubahan untuk mencapai Visi seorang Guru Penggerak. BAGJA diambil dari konsep paradigma berpikir Inkuiri Apresiatif (IA). IA menekankan pada manajemen perubahan kolaboratif dengan berpusat pada kekuatan positif yang dimiliki setiap kompenen perubahan di sekolah dalam mewujudkan Visi

Tahapan BAGJA
B👉 Buat Pertanyaan Utama: rumuskan pertanyaan sebagai penentu arah penelusuran terkait perubahan yang diinginkan atau diimpikan.
A👉Ambil Pelajaran: mengumpulkan berbagai pengalaman positif yang telah dicapai di sekolah dan pelajaran yang dapat diambil dari hal-hal positif tersebut
G👉Gali Mimpi: menyusun narasi tentang kondisi ideal yang diimpikan dan diharapkan terjadi di sekolah
J👉Jabarkan Rencana: merumuskan rencana tindakan tentang hal-hal penting yang perlu dilakukan untuk mewujudkan visi.
A👉Atur Eksekusi: memutuskan langkah-langkah yang akan diambil, siapa yang akan terlibat, bagaimana strateginya, dan aksi lainnya demi mewujudkan visi perlahan-lahan

VISI CALON GURU PENGGERAK
Mewujudkan Siswa Literat, Merdeka, dan Bahagia dengan Pembelajaran Berpusat pada Pengembangan Potensi Siswa

Penerapan Tahapan BAGJA
Penerapan Visi dengan Tahapan BAGJA yang saya lakukan dibagi dua, yaitu penerapan visi di dalam pembelajaran di kelas dan pembelajaran di luar kelas dalam kegiatan Gerakan Literasi Sekolah.

Penerapan visi dalam pembelajaran di kelas difokuskan pada murid rata-rata. Murid rata-rata adalah murid yang sering dilupakan guru karena tidak bermasalah dan juga tidak terlalu menonjol. Bahkan dalam penilaian sikap, seringkali murid rata-rata tidak dinilai secara detil karena dianggap relatif baik. Padahal, murid rata-rata adalah murid terbanyak di kelas yang ketika potensinya bisa digali lebih tentu akan memberikan kontribusi yang besar dalam keberhasilan pencapaian visi.
Pe
B👉 Buat Pertanyaan Utama:

Bagaimanakah cara mengembangkan potensi murid rata-rata di dalam pembelajaran?

Strategi yang dilakukan adalah mencatat kekuatan mereka selama proses pembelajaran dan merencanakan perubahan
  • Kekuatan: Jumlahnya terbanyak, Sikapanya Kooperatif dan relatif taat kepada guru
  • Proses pembelajaran: Mengerjakan tugas dengan baik sesuai petunjuk, mengikuti alur dengan tertib
  • Hasil belajar: relatif baik meskipun tidak istimewa
  • Rencanakan perubahan yang dapat memunculkan potensi murid rata-rata berdasarkan kekuatan
Pada tahap ini guru merencanakan kegiatan pembelajaran dalam mengembangkan potensi murid rata-rata. Rencana Pembelajaran yang dibuat tidak fokus pada satu KD karena pertemuan terakhir menjelang PAS. Pembelajaran yang dilakukan hanya mereviu sema materi yang diberikan. RPP yang dibuat seperti ini.


A👉Ambil Pelajaran:

Apa hal yang sudah dilakukan guru untuk menumbuhkan potensi murid rata-rata dalam pembelajaran?
  • Guru melayani setiap pertanyaan murid rata-rata ketika mereka bertanya tugas atau materi pembelajaran
  • Guru Memotivasi mereka sesuai dengan kemampuan yang mereka miliki dan sering memberikan pujian atas hal positif yang dilakukan oleh mereka
Aktivitas pembelajaran seperti apa yang dilakukan untuk memunculkan potensi murid rata-rata
  • Aktivitas pembelajaran dilakukan secara berkelompok dan murid rata-rata merupakan murid mayoritas yang masuk ke setiap kelompok, biasanya murid rata-rata menjadi pendukung murid berprestasi dalam menyelesaikan pekerjaan kelompok.
  • Di dalam kelompok, guru selalu berkeliling dan melihat perkembangan pembelajaran setiap siswa, dan bertanya kesulitan yang dihadapi. Saat seperti itu terjadi dialog dan komunikasi guru dengan siswa rata-rata dan guru memperoleh gambaran tentang potensi masing-masing siswa rata-rata. Saat seperti itu, guru "masuk" untuk memberikan penguatan atau memberikan motivasi terhadap kesulitan yang dihadapi murid rata-rata tersebut.
Hal positif apa yang perlu terus dikembangkan dari murid rata-rata?
        
    Sikap taat pada kegiatan dan kooperatif dengan lingkungan belajar.

Pada tahap ini, guru mengambil pelajaran positif dari hal yang sudah dilakukan guru terhadap murid rata-rata di dalam pembelajaran.

1. Pembelajaran di dalam kelompok
2. Memotivasi murid rata-rata untuk mengeksplorasi diri

3. Menciptakan suasana pembelajaran yang terbuka,siswa merasa bahagia menjadi dirinya 

4. Pembelajaran yang memunculkan kreatifitas

5. memberi bimbingan intensif dengan mendekati murid secara individu


G👉Gali Mimpi:
  • Seperti apakah perubahan positif murid rata-rata dalam aktivitas pembelajaran?
  • Bagaimana perubahan positif yang dibayangkan dari murid rata-rata setelah proses pembelajaran?

Strategi yang dilakukan untuk menjawab pertanyaan pada tahap Gali Mimpi adalah dengan memimpikan perubahan yang terjadi pada murid rata-rata. Mimpi yang diharapkan tersebut sebagai berikut.

  • Murid rata-rata aktif menunjukan kemampuan dirinya dan merasa bahagia ketika belajar karena merasakan nilai manfaat dirinya. Belajar bukan sekedar menaati guru atau membuat situasi aman, tapi lebih ke merasakan kebutuhan dan merasakan nilai manfaat yang ada dalam dirinya.
  • Hasil pencapaian belajar lebih baik dan mereka terus merasa bersemangat belajar dan menemukan potensi diri. Performa kelompok pun menjadi lebih hidup dan bersemangat.
  • Bermunculan beragam potensi yang dimiliki murid rata-rata
J👉Jabarkan Rencana:
  •  Bagaimana cara agar potensi murid rata-rata dapat dimunculkan?
  • ·Bagaimana kondisi pembelajaran yang akan dilakukan agar tercipta budaya posistif yang dilakukan murid  rata-rata dalam pembelajaran?

Strategi yang dilakukan untuk menjawab pertanyaan tersebut adalah sebagai berikut.

  • Cara yang dilakukan agar potensi murid rata-rata dapat dimunculkan yaitu memposisikan mereka di kelompok yang tepat dengan peran yang tepat.

  • Sering bertanya dan berkomunikasi dengan mereka terkait pembelajaran di kelas, misalnya saat bekerja kelompok

  • Menyebut nama mereka ketika guru menjelaskan sesuatu atau meminta mengerjakan sesuatu
  • Sering memuji pekerjaan mereka atau hal baik yang dilakukan mereka. 
  • Ciptakan kondisi pembelajaran yang terbuka, seperti belajar boleh salah, permainan dan juga proses pembelajaran yang memantik keaktifan mereka. Dengan cara seperti itu, diharapkan suasana pembelajaran nyaman, siswa merasa tidak memiliki kekhawatiran mengekspresikan diri.
  • Memberikan tugas variatif dan menantang terhadap mereka agar tergali potensinya. Tugas yang variatif bisa menjadi pemantik munculnya beragam potensi yang dimiliki murid rata-rata. Jika potensi mereka sudah mulai terlihat, berikan penguatan terhadap hal tersebut. Contoh Pemberian tugas secara variatif
🍁Assalamu'alaikum wr. Wb🍁

Selamat Pagi, selamat beraktivitas siswa kelas 9 a, b, c yang hebat dan semangat☘️ 

Pembelajaran bahasa Indonesia hari ini seharusnya tatap muka ya tapi diganti daring karena ada rapat dinas. Semoga kalian tetap semangat mengikutinya. 

Rangkaian Pembelajaran hari ini:

1. Baca rangkuman materi bahasa Indonesia kelas 9 semester 1

2. Jika ada yang ingin ditanyakan silakan tanyakan japri ke Ibu, nanti pertanyaan-pertanyaan kalian ibu bahas dalam pertemuan Tatap Muka

3. Buat sebuah presentasi materi yang diambil dari rangkuman (Tidak usah semuanya) misal hanya kebahasaan dalam cerpen. Presentasi bisa dalam bentuk:
👇
🌳video, 
🌳video yang diupload di Yt,
🌳Tiktok
🌳Games buatan sendiri, 
🌳Catatan yang diupload di blog pribadi
🌳Catatan tulisan tangan dengan hiasan
🌳Catatan digital dalam Canva,Picart , dll

👆Pilih salah satu

4. Kumpulkan tugas presentasi langsung ke WA Ibu, bisa dalam bentuk link, gambar, dll. Kalau yang tulisan tangan kirim dalam bentuk foto ya. 

Terimakasih. 
🍁Wassalamualaikum wr. wb🍁

A👉Atur Eksekusi: 
  • Apa saja langkah-langkah yang akan dilakukan untuk memunculkan potensi murid rata-rata?
  • siapa yang akan terlibat dalam memunculkan potensi murid rata-rata tersebut?
  • Bagaimana strateginya yang akan dilakukan untuk mewujudkan potensi murid rata-rata

Strategi yang dilakukan untuk menjawab pertanyaan tersebut adalah sebagai berikut

  • Langkah yang dilakukan untuk memunculkan potensi murid rata-rata mengadakan pengenalan potensi melalui uji gaya belajar visual, auditorial, dan kinestetik juga mutiple intelegen dan mendata kekuatan murid rata-rata
  • Mencari tahu latar belakang sosial budaya mereka melalui info wali kelas dan teman sekelas.
  • Merancang strategi pembelajaran yang sesuai dengan potensi murid rata-rata. Buat strategi pembelajaran yang dapat mengaktifkan dan memunculkan potensi murid rata-rata.
  • Sering memberikan pujian dan pancing mereka bertanya hal yang tidak dipahami. setiap mereka bertanya secara pribadi dan berikan jawaban.
  • Membuat penilaian transparan setiap selesai melakukan aktivitas dan memunculkan nama mereka beserta nilai terbaik yang dimiliki. Dengan demikian, mereka merasakan keberadaan mereka dihargai dan guru ada untuk mereka.
Hal-hal yang ditulisakan dalam atur eksekusi baru pada tahap perenanaan untuk kegiatan semester depan karena minggu ini sudah memasuki PAS. Jadi kegiatan pembelajaran akan diawali dengan pembuatan alat tes sederhana atau mengambil dari yang sudah ada.
Contohnya bisa diambil dari link berikut https://akupintar.id/tes-gaya-belajar Setelah itu dibuat kesimpulan. Lalu merencanakan pembelajaran berdasarkan kesimpulan tersebut, praktek belajar mengajar lalu buat penilaian dan sampaikan kepada mereka secara berkala dan berikan komentar secara pribadi terkait hasil belajar yang mereka lakukan.

Penerapan Visi dalam Kegiatan Literasi

Penerapan visi dalam pembelajaran di luar kelas difokuskan pada pengembangan Literasi Membaca, Menulis, dan Digital. Budaya literasi harus terus diupayakan karena memegang peranan penting bukan saja dalam pencapaian visi Calon Guru Penggerak, tapi juga dalam membentuk generasi yang lebih literat. 

B👉 Buat Pertanyaan Utama:

Bagaimanakah cara mengembangkan potensi siswa dalam berliterasi?

Strategi yang dilakukan adalah mengadakan kegiatan rutin membaca, lomba literasi, dan penguatan program literasi digital
  • Kekuatan: Program Sudah Berjalan sebelumnya dan tinggal melanjutkan dan mengembangkannya menjadi budaya sekolah
  • Guru Pembimbing sudah terbentuk dengan cukup Solid




A👉Ambil Pelajaran:

Apa hal yang sudah dilakukan untuk menumbuhkan budaya literasi di sekolah?
  • Melakukan kegiatan membaca buku 15 menit sebelum pembelajaran dimulai melaui kegiatan Kamis Manis Membaca Buku, Berikut contoh pengingat setiap kamis manis
Contoh laporan membaca di Google Classroom


Contoh Kegiata Membaca 15 menit
  • Mengikuti kegiatan Tantangan Membaca Bandung Barat, menjadi salah satu sekolah inspiratif dan membuat satu buku antologi

G👉Gali Mimpi:
  • Bagaimana perubahan positif yang dibayangkan dari Kegiatan Literasi Membaca dan Menulis
Tercipta Budaya literasi di sekolah secara lebih massif dan pengaruhnya lebih luas di seluruh skeolah todak hanya pada siswa TMBB yang berjumlah 32 orang

J👉Jabarkan Rencana:
  • ·Bagaimana caranya agar budaya literasi sekolah lebih massif?

Strategi yang dilakukan untuk menjawab pertanyaan tersebut adalah sebagai berikut.

  • Membuat rencana program yang lebih rinci dan detil
  • Mengomunikasikan kepada pemangku kebijakan
  • mengadakan sosialisasi pada warga sekolah dan orang tua siswa
  • Berkolaboratif dengan guru lain
  • Mengevaluasi program secara berkala
  • Melakukan inovatif dalam berkegiatan
A👉Atur Eksekusi: 
  • Apa saja langkah-langkah yang akan dilakukan untuk meningkatkan budaya literasi?
  • Siapa saja yang terlibat dalam kegiatan tersebut?
  • Strategi apa yang dilakukan untuk mewujudkan hal tersebut?

Strategi yang dilakukan untuk menjawab pertanyaan tersebut adalah sebagai berikut

  • Langkah yang dilakukan untuk meningkatkan budaya literasi seperti yang dijabarkan dalam rencana. Setiap langkahnya bertahap dilaksanakan
  • Orang yang terlibat dalam renacana tersebut adalah siswa, guru pembimbing, wali kelas, Kepala sekolah, dan orang tua siswa
  • Startegi yang dilakukan adalah dengan melakukan komunikasi, sosialisasi secara intensif dengan beragam pihak dan berupaya untuk konsisten dalam melaksanakan program 

Jurnal Refleksi Ke-24

Jurnal Refleksi Ke-24 (13 Juni s.d 18 Juni 2022) Model 5: Connection, challenge, concept, change (4C) Pada Minggu ini saya melakukan Pendapi...