Selasa, 26 April 2022

Jurnal Refleksi Minggu Ke-18

Jurnal Refleksi Minggu Ke-18

(11 April s.d 16 April 2022)

Minggu ini saya mempelajari tentang Modul 3.1 pada bagian Eksplorasi Konsep dan Ruang Kolaborasi dan pada tanggal 16 April 2022 saya juga mengikuti Lokakarya Ke-4 di Hotel Novena. Saya akan menguraikan satu persatu semua kegiatan saya di Minggu Ini.

11 April 2022

Saya mengerjakan Eksplorasi Konsep Mandiri. Pada bagian ini saya membaca tentang empat paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan juga 9 langkah dalam pengambilan keputusan. 

Saya merasa bahagia ketika mempelajari materi tentang pengambilan keputusan karena bertambah wawasan saya tentang cara pengambilan keputusan. Apalagi materi yang disajikan disertai contoh kasus. Hal tersebut membuat saya merasa lebih memahami teori pengambilan keputusan. Apalagi ketika tugas berikutnya kami diminta mewawancara rekan kerja dalam mengambil keputusan, saya merasa memimilki pengalaman bermakna. Saya menjadi kaya akan pengalaman dan juga pemahaman tentang pengambilan keputusan. Berikut hasil wawancara saya dengan rekan kerja terkai pengambil keputusan.

https://drive.google.com/file/d/1SXdZP7MBisnwvWdKjVtz0OkJMXgFfhfD/view

Setelah mempelajari materi ini, saya kemudian membandingkan hasil wawancara saya dengan rekan sejawat dengan teori yang saya dapatkan. Saya kagum dengan rekan saya, ternyata meskipun belum mendapatkan materi tersebut, langkah yang teman saya ambil dalam mengambil keputusan sudah sesuai dengan teori.

12 April 2022

Saya mengerjakan eksplorasi konsep (Forum Diskusi). Saya belajar membuat keputusan dari sebuah kasus yang dipilihkan oleh fasilitator, kebetulan saya memecahkan kasus no 4 tentang remaja yang merokok di depan umum (hajatan). Saya juga mnengomentari kasus yang diputuskan oleh dua rekan CGP lainnya. Setelah saya mencoba belajar memecahkan kasus dengan menggunakan 4 paradigma, 3 prinsip, dan 9 langkah, saya merasa lebih peraya diri dalam memutuskan sebuah periistiwa dilema etika.

Hal yang saya pejari setelah mencoba memutuskan sebuah kasus, ternyata kadang tidak selamanya segal hal yang sesuai peraturan itu bisa dipilih. Penegakan peratitan bukan sesuatu hitam putih. Ada banyak toleransi karena situasi dan kondisi yang membuat kita harus memilih berdasarkan nilai yang lain yang sekiranya bisa membawa kebaikan dan kebijakan. Dulu saya sering berpikir bahwa penegakan aturan harga mati, semuanya harus total sesuai aturan tanpa toleransi. Ternyata, ada banyak nilai kebaiakan di muka bumi yang bertentangan dan harus kita pilih. Penegakan aturan memang harus, tapi jika dihadapkan pada situasi tertentu yang menuntut kita untuk memutuskan lebih bijak, misalnya demi kebaikan yang lebih baik. Tapi hal ini juga harus hati-hati dilakukan karena yang tadinya mau bijak eh kita terjebak pada kondisi bujukan moral. Itulah manfaat menggunakan beberapa langkah pengambilan keputusan agar putusan betul-betul yang terbaik. ya, walaupun kata Mas Menteri tidak semua putusan akan menyenangkan banyak orang.

13 April 2022

Saya melakukan sesi Ruang Kolaborasi bersama Fasilitator dan rekan satu kelompok melaluai google meet. Di dalam ruang kolaborasi ini, kami oleh fasilitator diberi tugas untuk mendiskusikan kasus dilema etika yang benar-benar dialami oleh anggota kelompok, kemudian dipilih satu kasus dan diselesaikan dengan menggunanakan 9 langkah pengambilan keputusan. Teman satu kelompok  saya, Pak Adi dan Bu Nining. Kami masing-masing mengungkapkan kasus dilemat etika yang pernah ditemui atau dialami. Setelah berdiskusi, akhirnya kasus dilema etika yang saya kemukakan yang dipilih. 

Pada saat mengerjakan tugas ini, saya merasakan banyak pengalaman baru karena ternyata pandangan setiap orang itu berbeda dan itu unik. Saya senang ternyata menemukan bahwa seiap orang itu memiliki keunikan cara berpikir. Saya juga senang karena proses pegambilan keputusan dilakukan bersama. Inilah hasil diskusi kelompok kami.

https://online.fliphtml5.com/jbcgk/dgzl/ 

14 April 2022

Saya melakukan sesi ruang kolaborasi bersama fasilitator dan rekan satu kelompok dengan tugaas presentasi hasil diskusi pada hari sebelumnya. Kelompok kami presentasi ke-2 karena kelompok 2 dilakukan oleh Pak Adhyatnika geusan Ulun, saya bertugas sebagai penjawab. Kami bertugas memberikan tanggapan terkait kasus dilema etika dari kelompok 1 dan tugas kelompok kami fitanggapi oleh kelompok 3. 

Selama proses diskusi, saya banyak menerima pembelajaran dari kelompok lain dan juga kelompok sendiri. Ternyata kasus yang dialami rata-rata dilema etika menjadi CGP dan tugas lain di sekolah. Kemdian dilema etika yang paling banyak dihadapi adalah Indovidu lawa masyarakat (sistem), prinspip yang banyak diunakan adalah prinsip berbasis hasil akhir (Kepentingan Bersama). Dari segi pengambilan keputusan, kelompok kami berbeda dengan kelompk 1. Kelompok 1 memilih untuk menerima amanah menjadi bendahara sekolah di samping menjadi CGP. Kelompok kami memlih tidak menerima terlebih dahulu karena paradigam berpikir jangka pendek dan jaangka panjang. Menjadi bendahara sekolah itu amanah yang membutuhkan banyak waktu.

Setelah selesai sesi presentasi, kelompok kami pun mendapatkan beberapa evaluasi dan akhirnya diperbaiki. Setelah selesai hasil presentasi diupload di LMS masing-maisng CGP

16 April 2022

Saya mengikuti Lokakarya 4 di Hotel Novena. Di dalam Lokakarya kami membahas komitmen yang sudah dibuat, melakukan praktik coaching, dan membuat RPP berdiferensiasi. Saya merefleksikan hasil komitmen yang sudah saya buat di depan rekan-rekan CGP lainnya. Saat praktik Coaching, saya berperan sebagai coachee, dan saat membuat RPP berdiferensiasi secara berkelompok, saya bertugas mengkritisi RPP yang dibuat rekan saya.

Lokakarya memang selalu menjadi moment yang ditunggu karena pada hari itu kami bisa bertatap muka langsung bersama sesama CGP dan juga pengajar Praktik. Setiap kali Lokakarya selalu terasa bermakna dan pembelajaran yang diambil pun terasa lebih berdampak karena diskusi yang dilakukan bisa sangat merdeka. Saya senang sekali mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang Coaching, Coaching ternyata memang harus terus dilatih. Tidak serta merta semuanya bisa langsung mahir. Ketika melkukan coaching, kita pun harus memilki keterampilan bertanya yang dapat menggali coachee mengeluarkan uneg-uneg terkait permasalahan yang dihadapi. Saya banyak belajar dari teman-teman yang inspiratif dari guru SD dan SMA. Saat mlakukan telaah RPP, teman saya mengatakan bahwa saya seperti pengawas killer, hehe..Padahal saya tidak merasa seperti itu, saya hanya menjalankan peran saja. 

Akan tetapi, teman saya mengatakan lagi, sebetulnya saya tidak menyebalkan hanya saja katanya, saya tipe orang yang segala sesuatu harus sesuai dengan kenyataan. Tugas yang dikerjan semuanya sesuai kenyataan yang terjadi. Saya memang berpikir, segala ilmu yang sudah didaptkan harus benar-benar dipraktikan sesuai petunjuk, tidak masalah bagi saya misalnya praktik restitusi, paraktik pembelajaran berdiferensiasi, prakti coaching yang saya lakukan tidak sesuai dengan harapan. Justru, dengan demikian saya bisa merefleski diri dan mendapatkan penemuan baru, apa yang menjadi kendala, apa yang menjadi permasalahan. Teori bagian mana yang sulit dipraktikan, dan kesulitan apa yang dihadapi saat mempraktikan dll. Menurut saya dengan cara seperti itu, saya betul betul mendapatkan ilmu dan pengalaman baru. Sebab, jika sedikit dipoles, hasilnya tentu akan sangat berbeda dan saya tidak paham pada bagian mana yang harus saya perbaiki. 

Akan tetapi, dengan sikap saya itu saya juga sering merasa keteteran karena saya seringkali mengumpulkan tugas lebih lambat dari yang lainnya. Saya berpikir, orang lain bisa berpikir dan bertindak dengan cepat dan hasilnya bagus. Saya ibarat keong, berjalan dengan lambat dan santai, eh hasilnya biasa saja, hehe. Kadang, ingin mengubah cara bekerja saya karena seorang pemimpin pembeljaran harus dapat bertindak cepat pada saat tertentu. Tapi anehnya, saya belum bisa mnegubah karakter 'lambat" saya dan selalu tergoda untuk mengerjakan tugas apa adanya yang terjadi di lapangan. Barangkali, memnag nilai kejujuran yang paling saya pegang teguh karena itu yang menuntun saya dalam mengambil keputusan. Akan tetapi, saya harus belajar keras untuk bisa mengambil keputusan dnegan cepat.

Kedepannya, sayakan terus belajar dan belajar lagi meminalisir kelemahan saya, khususnya di dalam mengambil keputusan yang cepat dan tepat. bekerja cepat dn tepat.

Sabtu, 23 April 2022

Koneksi Antarmateri Modul 3.1 Program CGP Angakatan Ke-4

Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran 

(Koneksi Antarmateri Modul 3.1 Program CGP Angakatan Ke-4)

Di dalam kehidupan sehari-hari, kita tentu akan selalu dihadapkan pada situasi untuk memutuskan sesuatu. Mungkin memilih pasangan, memilih pekerjaan, atau hal sederhana di pagi hari memutuskan untuk pergi melakukan sesuatu di luar atau hanya rebahan saja di rumah. Semua itu butuh keputusan terbaik. Begituhalnya bagi seorang guru atau juga pemimpin pembelajaran tentu dalam menjalankan tugas-tugas kita selalu dihadapkan pada keputusan. Misalnya memutuskan murid naik kelas atau tidak, memutuskan mengambil amanah pekerjaan atau tidak dll. 

Filosfi Pratap Triloka Ki Hajar Dewantara

Pengambilan keputusan terbaik tentu harus mempertimbangkan banyak hal. Sebagai pemimpin pembelajaran, di dalam mengambil keputusan guru tentu akan mempertimbangkan hal yang paling berdampak bagi murid di atas kepentingan lainnya. Hal tersebut seperti yang diajarkan Ki Hajar Dewantara tentang filosofi Pratap Triloka, yaitu Ing ngarso sung tuladha (di depan memberi contoh), ing madya mangun karsa (di tengah memberikan motivasi), dan Tut wuri handayani (di belakang memberikan dorongan) 

Berdasarkan filosofi Pratap Triloka Ki Hajar Dewantara tersebut berarti segala keputusan guru akan mempertimbangkan beberapa pertanyaan seperti berikut. Seberapa besar pengaruh tindakan yang saya ambil bagi murid? Apakah mereka akan mencontoh tindakan saya? seberapa besar keputusan yang saya ambil membuat murid saya semangat belajar? apakah hal yang saya putuskan akan membuat mereka malah makin tidak mau belajar? Apakah keputusan yang saya ambil membuat murid lebih percaya diri atau sebaliknya? Apakah putusan yang saya ambil membuat murid makin berkembang potensinya atau malah sebaliknya?  

Pengaruh Nilai Kebajikan Diri dalam Pengambilan Keputusan

Nilai-nilai kebajikan yang kita pegang atau kita anut akan sangat berpengaruh di dalam pengambilan keputusan. Oleh karena itu, penting bagi seorang pemimpin pembelajaran untuk menentukan secara jelas nilai kebajikan universal apa yang kita pegang. Misalnya, seorang guru yang memegang nilai kejujuran di atas segalanya akan berbeda keputusan dengan orang yang memegang prinsip nilai kebersamaan di atas segalanya. Guru yang menganut prinsip kejujuran segala keputusan yang diambil akan berpegang pada nilai berbasis peraturan. Sebaliknya, orang yang berprinsip kebersamaan lebih penting, guru tersebut akan mengambil putusan yang terbaik untuk semua orang, berprinsip pada nilai akhir.

Nah, jika nilai kebajikan yang kita pegang berada pada situasi yang bertentangan. Saat itulah kita dihadapkan pada sebuah dilema etika. Dua nilai tersebut sama benarnya, tapi seorang pemimpin pembelajaran harus memutuskannya. Akan tetapi, tidak hanya dalam menghadapi dilema etika. Seringkali kita pun berhadapan pada situasi bujukan moral, kebenaran jelas dihadapkan pada kesalahan. Situasi ini tidak menuntut kita mengambil pertimbangan apa pun. Jelas harus memilih kebenaran. Akan tetapi, pada praktiknya kadang kita dihadapkan pada bujukan moral yang jelas salahnya tetap memilih salah karena semua orang atau sistem melakukannya. Ini tentu tantangan yang lebih besar lagi yang harus dihadapi seorang pemimpin pembelajaran.

Namun, sudah menjadi kewajiban kita sebagai pemimpin pembelajaran untuk terus mengupayakan pengambilan keputusan yang terbaik. Salah satunya dengan mendasarkan pada nilai-nilai kebajikan yang kita anut sebagai pendidik. Ada banyak nilai kebajikan yang kita anut. Tapi ada baiknya merumuskan tiga nilai yang menjadi pedoman kita sebagai guru dalam mengambil keputusan. Misalnya, Kejujuran, Integritas, dan Kebijaksanaan.

Peran Coaching dalam Pengambilan Keputusan

Pengambilan keputusan memang bukan hal yang mudah. Seringkali kita sudah membuat sebuah keputusan, kemudian menyesalinya. Bisa juga kita sudah membuat keputusan, kemudian mendengar pendapat teman terdekat, keputusan yang diambil pun menjadi berubah. Sebenarnya tidak masalah mengubah keputusan selama jangka waktu masih cukup untuk mengubahnya dan tidak berdampak lebih buruk bagi orang banyak. Di dalam situasi seperti itu, kita memang butuh teknik coaching, berupa bantuan orang lain untuk menguraikan hal yang kita pikirkan dan rasakan, sehingga kita dapat menemukan solusi yang datang dari diri kita sendiri dan kita pun bisa lebih percaya diri dalam mengambil keputusan.

Bisa jadi, juga keputusan yang kita mabil berdasarkan hasil coaching kita kepada coache, misalnya murid kita. Dengan bantuan Coaching, kita akan lebih memahami situasi dan kondisi yang dialami murid. Hal tersebut tentu akan lebih membantu proses pengambilan keputusan dengan tepat. Pilihan-pilihan yang kita ambil di dalam pengujian pengambilan keputusan akan lebih akurat dan memberikan manfaat yang lebih besar.

Pengaruh Sosial Emosional di dalam Pengambilan Keputusan

Pengambilan keputusan juga pastinya akan dipengaruhi oleh kondisi sosial emosional kita. Ada pepatah yang mengatakan, jangan ambil keputusan saat kita sedang emosi. Keputusan yang kita ambil saat sedang mengalami emosi negatif pastinya akan lebih banyak disesali. Oleh karena itu, penting mengelola emosi kita sebelum mengambil sebuah keputusan. Keputusan harus diambil saat pikiran kita jenih, perasaan kita sedang baik-baik saja.

Namun, sekali lagi situasi seringkali tidak sesuai harapan. Guru sebagai pemimpin pembelajaran, tentu lebih baik berhenti sejenak ketika sedang emosi. Diam dan jangan mengambil keputusan. Guru bisa melakukan teknik STOP (Mengambil nafas dan merasakan nafas sendiri beberapa menit secara berulang) untuk mengatas emosi kita yang tidak stabil, kemudian melakukan pertimbangan melalui beberapa langkah pengambilan keputusan. 

Pengambilan Keputusan yang Berdampak Pada Murid

Pengambilan keputusan yang tepat, tentunya akan berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman. Pengambilan keputusan merupakan langkah awal bagi seorang pemimpin pembelajaran dalam melakukan sebuah perubahan atau menjadikan sekolah lebih berkualitas. Di awal sudah dijelaskan, bahwa pengambilan keputusan yang tepat harus keputusan yang berdampak bagi murid.

Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan di dalam mengambil sebuah keputusan yang tepat. Diantaranya didasarkan pada empat paradigma pengambilan keputusan: Individu lawan masyarakat, kebenaran lawan loyalitas, Keadilan lawan rasa kasihan. Keputusan juga bisa diambil berdasarkan tuga Prinsip pengambilan keputusan: Prinsip Berbasis Hasil Akhir (kepentingan orang banyak), Prinsip berbasis peraturan, dan prinsip berbasis rasa peduli (empati). Selanjutnya ada sembilan langkah pengujian agar putusan yang kita ambil benar-benar teruji. 

Pengambilan keputusan berdasarkan hal tersebut pada praktiknya juga mengalami beberapa kendala. Apalagi jika putusan yang harus diambil menyangkut dilema etika pertentangan nilai yang melibatkan antara individu melawan sistem di sekolah misalnya dan tidak semua warga sekolah memahami tentang materi cara pengambilan keputusan. Jika dihadapkan pada situasi seperti ini, seorang pemimpin pembelajaran harus pandai mengomunikasikan tentang langkah-langkah dan dasar pengambilan keputusan. Hal yang harus dikomunikasikan diantaranya, memahamkan tujuan pengambilan keputusan yang kita ambil harus yang menyangkut masa depan dan kebaikan murid, sejalan dengan visi sekolah, dan didasarkan pada nilai-nilai kebajikan yang kita anut. 

Dengan langkah seperti itu, seorang pemimpin pembelajaran akan lebih percaya diri dalam mengemukakan putusannya. Sebuah keputusan yang tepat akan terlihat sejalan dengan konsep pendidikan yang memerdekan murid. Murid akan belajar secara merdeka jika mereka yakin bahwa diri  mereka memiliki potensi yang sedang berkembang, mereka juga merasakan situasi pembelajaran yang menyenangkan dan membuat mereka senang belajar bukan takut belajar, proses critikal thinking mereka berkembang, dan mereka belajar menjadi seorang problem solver dalam proses belajar. Pada akhirnya, keputusan yang diambil seorang pemimpin pembelajaran akan mengarah ke arah hal tersebut.

Kesimpulan

Seorang pemimpin pembelajaran yang harus siap dalam mengambil keputusan terbaik yang berdampak bagi murid, adalah seorang yang memiliki landasan berpikir keberpihakan pada murid di dalam pembelajaran, seperti yang diajarkan Bapak Pendidikan Ki Hajar Dewantara. Seorang yang memiliki visi memajukan murid, memiliki nilai-nilai kebajikan universal yang dijadikan pegangan, memiliki sosial emosional yang baik, melakukan praktik pembelajaran yang sesuai kebutuhan murid, dan memilki keterampilan di dalam membantu siswa menemukan potensi dirinya, dan terakhir tentu tahu bagaimana cara mengambil keputusan yang berpihak pada murid.

Rabu, 06 April 2022

2.1.a.10. Aksi Nyata - Modul 2.1 Pembelajaran Diferensiasi

2.1.a.10. Aksi Nyata - Modul 2.1 Pembelajaran Diferensiasi


Aksi nyata yang akan dilakukan adalah tentang penerapan pembelajaran berdiferensiasi. Adapun RPP Pembelajaran Berdiferensiasi yang sudah dibuat yaitu sebagai berikut. 

https://docs.google.com/document/d/14xjEk9jjxby_nkXL5LUwXeKeDwhyn9Sg/edit?usp=sharing&ouid=101934161242809160505&rtpof=true&sd=true


Berdasarkan rencana mengajar, sebelum melakukan pembelajaran, guru di awal semester melakukan Tes Gaya Belajar VAK, (Visual, Auditorial, dan Kinestetik dengan hasil rata-rata siswa di kelas 9A, gaya belajarnya visual. Di bawah ini adalah contoh tes VAK yang saya adaptasi dari Internet. 


Hasil tes VAK menunjukkan bahwa gaya belajar di kelas 9A dominan Visual dan Auditorial. Oleh karena itu saya memutuskan untuk membuat strategi diferensiasi konten yang dominan gambar dan video tidak hanya teks yang ada di buku paket.

Di samping menganalsis diagnosis murid berdasarkan profil (gaya belajarnya). Saya juga melakukan observasi pada pembelajaran sebelumnya dilihat dari segi kesiapan murid di dalam belajar.

Berikut ini merupakan contoh bahan ajar visual. Saya mencoba menggunakan teks dengan visual yang lebih meanrik dan kontennya disuesuaikan dengan dunia murid seperti materi tentang budaya Korea dan anime.






Saya pun menggunakan bahan ajar berbentuk video yang diambil dari chanel youtoube

https://youtu.be/F2EJRZ8Dgrg

Proses Pembelajaran dilakukan secara berkelompok. Murid membaca teks, menonton video, kemudian membuat produk berupa Teks Tanggapan. Di bawah ini adalah contoh proses pembelajaran di dalam kelompok.



Di dalam kelompok, murid dikelompokkan berdasarkan kesiapan belajar: 1. Murid dengan kesiapan belajar rendah, 2. Murid dengan kesiapan belajar menengah, 3. Murid dengan kesiapan belajar tinggi.

Murid dengan kesiapan belajar rendah ditandai dengan belum bisa menuangkan ide dan gagasan ke dalam sebuah tulisan maupun lisan dan bahkan belum dapat membedakan penulisan huruf kapital. Saya menerapkan diferensiasi proses terhadap kelompok ini dengan cara memberikan pertanyaan sebagai stimulus agar mereka dapat menuangkan idenya. Misalnya pertanyaan seperti: 1. Iklan apa yang barusan kamu tonton?, 2. Siapa saja tokoh yang diceritakan?, 3. Ada masalah atau kejadian apa dalam film tersebut? dll


Murid dengan kesiapan belajar menengah ditandai dengan pemahaman mereka yang sudah baik terhadap tugas yang diberikan. Akan tetapi, masih ksulitan menuangkan gagasan mereka dalam bentuk kalimat. Saya melakukan diferensiasi proses dengan cara memberikan mereka bantuan berupa kalimat pertama dan mereka diminta meneruskan kalimat selanjutnya.


Murid dengan kesiapan belajar tinggi ditandai dengan kemampuan mereka dengan lancar dalam menuangkan gagasan dalam bentuk tulisan. Diferensiasi proses yang saya lakukan terhadap mereka adalah dengan memberikan dukungan dan pujian dan juga memberikan masukan dari segi penulisan ejaan, tanda baca, dll.


Produk hasil pembelajaran yang dihasilkan diharapkan bisa beragam Saya coba memfasilitasi semua minat murid dengan memberikan kesempatan kepada mereka untuk membuat produk  tanggapan dalam bentuk video, tik tok, lagu, komik dll. Akan tetapi, tampaknya murid saya memilki gaya belajar yang relatif sama sehingga produk yang dihasilkan lebih suka dalam bentuk tulisan dan beberapa murid sangat menyukai sajian presentasi yang dibuat di dalam aplikasi. Berikut ini adalah 

Di bawah ini adalah produk tulisan dan presentasi karya siswa terkait teks tanggapan.










Refleksi Hasil Aksi Nyata


1. Saya melakukan tes gaya belajar untuk memenuhi kebutuhan siswa. Hasilnya ternyata tidak sesuai ekspetasi. Saya kira saya akan menemukan informasi akurat terkait gaya belajar siswa  saya mendapatkan hasil dengan kesimpulan siswa dominan visual dan auditorial. Tapi, saya melihat ada bias saat siswa mengisi tes gaya belajar. Pertama, siswa kurang memahami maksud pertanyaan dalam tes karena keterbatasan mereka dalam memahami informasi di dalam teks yang mengandung kosakata yang belum mereka pahami. Kedua, siswa kurang bisa mengenali diri mereka sendiri sehingga bingung saat harus memilih hal yang sesuai dengan diri mereka. 

2. Saya melakukan strategi diferensiasi konten. Saya melihat teks dalam buku paket terlalu kompleks dan panjang. Berdasarkan kebutuhan yang saya identifikasi, siswa secara kesiapan belajar belum dapat memahami kalimat kompleks dan isi teks jauh dari minat siswa. Oleh karena itu saya pilihkan teks yang lebih dekat dengan minat mereka seperti anime, budaya Korea, Covid 19, dan Novel yang mudah dipahami. Saya print teks dengan aneka gambar dan warna karena profil mereka visual. Teks menjadi contoh siswa dalam mengidentifikasi dan menelaah struktur. 

3 Saya melakukan strategi proses dengan cara memberikan bimbingan intensif ke setiap kelompok yang saya kelompokkan berdasarkan kesiapan belajar. Siswa yang sudah terbiasa menulis saya beri petunjuk bahwa teks tanggapan yang dituliskan harus sesuai strukturnya dan saya memebrikan masukan dari hal yang mereka tanyakan. blBuat siswa di kelompok rata-rata punya ide tapi sulit menyusun kalimat. Saya beri contoh satu kalimat. Untuk siswa dengan kelompok kesulitan mendapatkan ide, saya beri pertanyaan pemandu. 

4. Saya juga melakukan diferensiasi produk berdasarkan minat. Teks tanggapan yang mereka tuliskan bisa tentang hal yang paling disukai mereka. Saya suka membaca hasil teks tanggaoan mereka meskipun  dari segi struktur dan kebahasaan masih kurang tapi ide mereka luar biasa. Ada yang menanggapi film anime, lagu kesukaan, drama Korea, games mobile legends, permainan persib dan persija, dll. 

5.Menurut saya keberhasilan pembelajaran diferensiasi adalah tes diagnosis awal harus lebih akurat. Hasil tes diagnosis betul-betul digunakan untuk perbaikan pembelajaran. Satu hal lagi perhatian, ketelatenan guru dalam membimbing.




Minggu, 03 April 2022

JURNAL REFLEKSI MINGGU KE-14

JURNAL REFLEKSI MINGGU KE-14

(Senin, 28 Maret 2022 s.d Jumat, 1 April 2022)

Model Six Thinking Hat

1) Topi putih: fakta

Senin, 28 Maret 2022

Saya mengikuti kegiatan Refleksi terbimbing. Di dalam kegiatan ini, saya menjawab beberapa pertanyaan reflektif tentang Coaching. Hal yang saya pikirkan sebelum dan sesudah mempelajari coaching serta tantangan dan hambatan ketika melaukan praktik coaching. Ada perbedaan pandangan saya tentang coaching dari sebelum dan sesudah mempelajarainya. Saya pikir ketika kita menjadi coach, kita berperan sebagai pembimbing yang akan memberikan solusi kepada coachee. Tapi tenyata, coaching berbeda dengan seorang konselor yang memberikan masukan dengan keilmuan sebagai seorang profesional dan mentor yang memberikan masukan berdasarkan pengalaman pribadinya. Coaching membantu coachee menemukan sendiri solusi permasalahan yang dihadapinya. 

Selasa, 29 Maret  2022

Pada hari ini, saya melakukan praktik Coaching kepada rekan saya, Ibu Pipi Lismawati dan Bapak Nandang jaeni, juga kepada salah satu siswa saya, Salsa. Berikut hasil rekaman coaching yang saya buat di dalam Canva

https://www.canva.com/design/DAE8RO7uy5s/z9TOVrajb6AAIRR9b_ntcw/watch?utm_content=DAE8RO7uy5s&utm_campaign=designshare&utm_medium=link2&utm_source=sharebutton

Kamis, 11 November 2021

Pada hari ini saya melakukan kegiatan berbagi pengalaman dengan desiminasi  di sekolah saya tentang pengenalan calon guru Penggerak. Ini adalah presentasi yang saya buat di Canva

https://www.canva.com/design/DAE8dQP6aBg/BoV4foCdLppazJzI89sgJg/view?utm_content=DAE8dQP6aBg&utm_campaign=designshare&utm_medium=link2&utm_source=sharebutton

Dan ini adalah cuplikan video ketika presentasi


 Sore harinya saya 
mengikuti sesi Elaborasi pemahaman dengan instruktur. Kegiatan Web Meeting dengan Instruktur

Main Room :https://meet.google.com/pgq-yjvb-jrn
Nama Instruktur : NUNUK RIZA PUJI
Tanggal : 31 Maret 2022
Waktu : Sesi 2 (15.30-17.00 WIB)

2) Topi merah: Intuition (Perasaan)

Saya merasa bahagia dengan materi Coaching ini karena ada hal baru yang saya dapatkan. Salah satunya, pengalaman melakukan coaching. Coaching yang saya lakukan kepada rekan kerja saya mendapatkan reaksi yang berbeda. Bu Pipi merasa terbantu dengan adanya coaching dia pun merasa lega. Beda halnya dengan Pak Nandang. Selesai melakukan coaching, Pak Nandang malah berkata, "Eh, bu Ema kok belum memberikan saya nasihat

Kemeudian saya jelaskan coaching itu seperti apa dan saya sampaikan bahwa tadi Pak Nandang sendiri sudah menemukan solusi dari permasalahan yang sudah disampaikannya. Pak Nandang merasa lelah karena murid banyak yang belum mengerjakan tugas. Langkah yang sudah beliau lakukan adalah: 1. Memberikan contoh catatan terbaik dari setiap kelas dan memperlihatkan kepada murid lainnya untuk ditiru, 2. Pak Nandang menyediakan waktu khusus untuk menunggu semua murid dapat  mengumpulkan tugas. Pak Nandang merasa sudah melakukannya dengan penuh komitmen dan motivasi dari dirinya send dan sejauh ini hal yang dilakukannya berhasil. 

Ketika melakukan coaching kepada siswa saya, saya merasa sedikit bingung menghadapi curhatan murid yang permasalahnnya itu sulit diuraikan. Dia sedih karena ada temannya yang menegurnya. Kemudia dia merasa diajuhi teman-temannya dengan alasan yang tidak bisa dia jelaskan tapi dia merasakan kesedihan dan kesunyian dalam hidupnya. Saya mencoba mempraktikan Coaching TIRTA, tapi saya rasanya tidak sabar ingin mmeberikannya nasihat dan solusi. Tapi saya menahan diri dan menemukan solusi dari anak itu sendiri. Dia akan mebuat sebuah catatan berupa point-point (Semacam quotes) hasil refleksi dirinya untuk memabntunya merasa lebih baik. Dia juga mengatakan bahwa dia akan coba menjelaskan kepada temannya jika dia sedang sedih dia tidak bisa berkumpul dulu, sehingga temannya tidak menjauhinya begitu saja. Saya merasa bahagia, ketika esok harinya anak terebut berkata, "Ibu terimakasih, perasaan saya lebih baik sekarang, setelah pembicaraan kita kemarin"

Saya juga sangat bahagia dan bersemangat ketika mencoba berbagi pengalamn dengan rekan guru di sekolah tentang program calon guru penggerak. Ada dua rekan guru yang memberikan apresiasi bahwa mereka sangat tertarik mengikuti program ini dan katanya hal yang saya sampaikan itu sangat menginspirasi. Katanya, dia merasa mendapatkan hal baru saat mendengarkan pemaparan saya tentang pengalaman menajdi CGP. Tapi sayang, presentasi yang sudah saya buat sulit dipresentasikan karena kendala teknis.

3) Topi kuning: Benefit

Hal positif yang saya dapatkan dari kegiatan minggu ini:

  • Saya berpikir bahwa coaching ini penting sekali dilakukan dan sangat bermanfaat. Coaching memungkinkan kita banyak membantu sesama (Murid, rekan guru, dan orang lain) untuk keluar dari permasalahan dengan merasa didengarkan suara hatinya dan diakui potensi dan kelebihan dirinya
  • Saya rasa coaching bukan sekedar program CGP atau tugas yang harus dilalui. Tapi, coaching bisa jadi sebuah gerakan unuk bisa membantu dan mendengarkan orang lain agar mereka merasa lebih baik. 

4) Topi hitam: Risk 

     Hambatan dan kendala yang saya alami terkait penerapan modul 2.3 ini saya temui dalam pelaksanannya misalnya:

  • Saya berharap bisa membantu banyak orang dengan coaching. Akan tetapi, tidak semua rekan kerja bisa terbuka untuk melakukannya
  • Saya kadang masih kesulitan dalam menggali pertanyaan secara terbuka untuk mengarahkan coachee sesuai dengan potensi yang erdapat dalam dirinya
  • Saya kira melakukan coaching kepada  murid jauh lebih sulit daripada kepada orang dewasa atau sesama rekan guru. Sebab, murid SMP terkadang masih kesulitan mengeluarkan isi pikiran dan perasaannya dengan bahasa yang tepat.

5) Topi hijau: Ideas

Saya merasa saya memiliki kemampuan dalam melakukan praktik coaching karena saya cepat memahmi dan mau membantu orang lain dengan mendengarkan mereka agar kelaur dari permasalahan dengan cara mereka sendiri.

Kedepannya, saya akan terus berlatih melakukan coaching dan bisa membantu banyak murid khsusnya untuk menemukan potensi yang ada di dalam dirinya.

6) Topi biru: Proses

Setelah saya mengalami kegiatan pemblajaran di modul 2.3 tentang Coaching. Saya memiliki semangat untuk melakukan penerapan coaching pada murid-murid saya. Saya akan terus berlatih menjadi pendengar yang baik, khususnya murid-murid saya dan menemukan potensi mereka sebanyak-banyaknya melalui praktik coaching. Saya juga akan terus berlatih mengasah kemampuan saya dalam bertanya dan berkomunikasi secara efekif.



Jurnal Refleksi Ke-24

Jurnal Refleksi Ke-24 (13 Juni s.d 18 Juni 2022) Model 5: Connection, challenge, concept, change (4C) Pada Minggu ini saya melakukan Pendapi...