Selasa, 26 April 2022

Jurnal Refleksi Minggu Ke-18

Jurnal Refleksi Minggu Ke-18

(11 April s.d 16 April 2022)

Minggu ini saya mempelajari tentang Modul 3.1 pada bagian Eksplorasi Konsep dan Ruang Kolaborasi dan pada tanggal 16 April 2022 saya juga mengikuti Lokakarya Ke-4 di Hotel Novena. Saya akan menguraikan satu persatu semua kegiatan saya di Minggu Ini.

11 April 2022

Saya mengerjakan Eksplorasi Konsep Mandiri. Pada bagian ini saya membaca tentang empat paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan juga 9 langkah dalam pengambilan keputusan. 

Saya merasa bahagia ketika mempelajari materi tentang pengambilan keputusan karena bertambah wawasan saya tentang cara pengambilan keputusan. Apalagi materi yang disajikan disertai contoh kasus. Hal tersebut membuat saya merasa lebih memahami teori pengambilan keputusan. Apalagi ketika tugas berikutnya kami diminta mewawancara rekan kerja dalam mengambil keputusan, saya merasa memimilki pengalaman bermakna. Saya menjadi kaya akan pengalaman dan juga pemahaman tentang pengambilan keputusan. Berikut hasil wawancara saya dengan rekan kerja terkai pengambil keputusan.

https://drive.google.com/file/d/1SXdZP7MBisnwvWdKjVtz0OkJMXgFfhfD/view

Setelah mempelajari materi ini, saya kemudian membandingkan hasil wawancara saya dengan rekan sejawat dengan teori yang saya dapatkan. Saya kagum dengan rekan saya, ternyata meskipun belum mendapatkan materi tersebut, langkah yang teman saya ambil dalam mengambil keputusan sudah sesuai dengan teori.

12 April 2022

Saya mengerjakan eksplorasi konsep (Forum Diskusi). Saya belajar membuat keputusan dari sebuah kasus yang dipilihkan oleh fasilitator, kebetulan saya memecahkan kasus no 4 tentang remaja yang merokok di depan umum (hajatan). Saya juga mnengomentari kasus yang diputuskan oleh dua rekan CGP lainnya. Setelah saya mencoba belajar memecahkan kasus dengan menggunakan 4 paradigma, 3 prinsip, dan 9 langkah, saya merasa lebih peraya diri dalam memutuskan sebuah periistiwa dilema etika.

Hal yang saya pejari setelah mencoba memutuskan sebuah kasus, ternyata kadang tidak selamanya segal hal yang sesuai peraturan itu bisa dipilih. Penegakan peratitan bukan sesuatu hitam putih. Ada banyak toleransi karena situasi dan kondisi yang membuat kita harus memilih berdasarkan nilai yang lain yang sekiranya bisa membawa kebaikan dan kebijakan. Dulu saya sering berpikir bahwa penegakan aturan harga mati, semuanya harus total sesuai aturan tanpa toleransi. Ternyata, ada banyak nilai kebaiakan di muka bumi yang bertentangan dan harus kita pilih. Penegakan aturan memang harus, tapi jika dihadapkan pada situasi tertentu yang menuntut kita untuk memutuskan lebih bijak, misalnya demi kebaikan yang lebih baik. Tapi hal ini juga harus hati-hati dilakukan karena yang tadinya mau bijak eh kita terjebak pada kondisi bujukan moral. Itulah manfaat menggunakan beberapa langkah pengambilan keputusan agar putusan betul-betul yang terbaik. ya, walaupun kata Mas Menteri tidak semua putusan akan menyenangkan banyak orang.

13 April 2022

Saya melakukan sesi Ruang Kolaborasi bersama Fasilitator dan rekan satu kelompok melaluai google meet. Di dalam ruang kolaborasi ini, kami oleh fasilitator diberi tugas untuk mendiskusikan kasus dilema etika yang benar-benar dialami oleh anggota kelompok, kemudian dipilih satu kasus dan diselesaikan dengan menggunanakan 9 langkah pengambilan keputusan. Teman satu kelompok  saya, Pak Adi dan Bu Nining. Kami masing-masing mengungkapkan kasus dilemat etika yang pernah ditemui atau dialami. Setelah berdiskusi, akhirnya kasus dilema etika yang saya kemukakan yang dipilih. 

Pada saat mengerjakan tugas ini, saya merasakan banyak pengalaman baru karena ternyata pandangan setiap orang itu berbeda dan itu unik. Saya senang ternyata menemukan bahwa seiap orang itu memiliki keunikan cara berpikir. Saya juga senang karena proses pegambilan keputusan dilakukan bersama. Inilah hasil diskusi kelompok kami.

https://online.fliphtml5.com/jbcgk/dgzl/ 

14 April 2022

Saya melakukan sesi ruang kolaborasi bersama fasilitator dan rekan satu kelompok dengan tugaas presentasi hasil diskusi pada hari sebelumnya. Kelompok kami presentasi ke-2 karena kelompok 2 dilakukan oleh Pak Adhyatnika geusan Ulun, saya bertugas sebagai penjawab. Kami bertugas memberikan tanggapan terkait kasus dilema etika dari kelompok 1 dan tugas kelompok kami fitanggapi oleh kelompok 3. 

Selama proses diskusi, saya banyak menerima pembelajaran dari kelompok lain dan juga kelompok sendiri. Ternyata kasus yang dialami rata-rata dilema etika menjadi CGP dan tugas lain di sekolah. Kemdian dilema etika yang paling banyak dihadapi adalah Indovidu lawa masyarakat (sistem), prinspip yang banyak diunakan adalah prinsip berbasis hasil akhir (Kepentingan Bersama). Dari segi pengambilan keputusan, kelompok kami berbeda dengan kelompk 1. Kelompok 1 memilih untuk menerima amanah menjadi bendahara sekolah di samping menjadi CGP. Kelompok kami memlih tidak menerima terlebih dahulu karena paradigam berpikir jangka pendek dan jaangka panjang. Menjadi bendahara sekolah itu amanah yang membutuhkan banyak waktu.

Setelah selesai sesi presentasi, kelompok kami pun mendapatkan beberapa evaluasi dan akhirnya diperbaiki. Setelah selesai hasil presentasi diupload di LMS masing-maisng CGP

16 April 2022

Saya mengikuti Lokakarya 4 di Hotel Novena. Di dalam Lokakarya kami membahas komitmen yang sudah dibuat, melakukan praktik coaching, dan membuat RPP berdiferensiasi. Saya merefleksikan hasil komitmen yang sudah saya buat di depan rekan-rekan CGP lainnya. Saat praktik Coaching, saya berperan sebagai coachee, dan saat membuat RPP berdiferensiasi secara berkelompok, saya bertugas mengkritisi RPP yang dibuat rekan saya.

Lokakarya memang selalu menjadi moment yang ditunggu karena pada hari itu kami bisa bertatap muka langsung bersama sesama CGP dan juga pengajar Praktik. Setiap kali Lokakarya selalu terasa bermakna dan pembelajaran yang diambil pun terasa lebih berdampak karena diskusi yang dilakukan bisa sangat merdeka. Saya senang sekali mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang Coaching, Coaching ternyata memang harus terus dilatih. Tidak serta merta semuanya bisa langsung mahir. Ketika melkukan coaching, kita pun harus memilki keterampilan bertanya yang dapat menggali coachee mengeluarkan uneg-uneg terkait permasalahan yang dihadapi. Saya banyak belajar dari teman-teman yang inspiratif dari guru SD dan SMA. Saat mlakukan telaah RPP, teman saya mengatakan bahwa saya seperti pengawas killer, hehe..Padahal saya tidak merasa seperti itu, saya hanya menjalankan peran saja. 

Akan tetapi, teman saya mengatakan lagi, sebetulnya saya tidak menyebalkan hanya saja katanya, saya tipe orang yang segala sesuatu harus sesuai dengan kenyataan. Tugas yang dikerjan semuanya sesuai kenyataan yang terjadi. Saya memang berpikir, segala ilmu yang sudah didaptkan harus benar-benar dipraktikan sesuai petunjuk, tidak masalah bagi saya misalnya praktik restitusi, paraktik pembelajaran berdiferensiasi, prakti coaching yang saya lakukan tidak sesuai dengan harapan. Justru, dengan demikian saya bisa merefleski diri dan mendapatkan penemuan baru, apa yang menjadi kendala, apa yang menjadi permasalahan. Teori bagian mana yang sulit dipraktikan, dan kesulitan apa yang dihadapi saat mempraktikan dll. Menurut saya dengan cara seperti itu, saya betul betul mendapatkan ilmu dan pengalaman baru. Sebab, jika sedikit dipoles, hasilnya tentu akan sangat berbeda dan saya tidak paham pada bagian mana yang harus saya perbaiki. 

Akan tetapi, dengan sikap saya itu saya juga sering merasa keteteran karena saya seringkali mengumpulkan tugas lebih lambat dari yang lainnya. Saya berpikir, orang lain bisa berpikir dan bertindak dengan cepat dan hasilnya bagus. Saya ibarat keong, berjalan dengan lambat dan santai, eh hasilnya biasa saja, hehe. Kadang, ingin mengubah cara bekerja saya karena seorang pemimpin pembeljaran harus dapat bertindak cepat pada saat tertentu. Tapi anehnya, saya belum bisa mnegubah karakter 'lambat" saya dan selalu tergoda untuk mengerjakan tugas apa adanya yang terjadi di lapangan. Barangkali, memnag nilai kejujuran yang paling saya pegang teguh karena itu yang menuntun saya dalam mengambil keputusan. Akan tetapi, saya harus belajar keras untuk bisa mengambil keputusan dnegan cepat.

Kedepannya, sayakan terus belajar dan belajar lagi meminalisir kelemahan saya, khususnya di dalam mengambil keputusan yang cepat dan tepat. bekerja cepat dn tepat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jurnal Refleksi Ke-24

Jurnal Refleksi Ke-24 (13 Juni s.d 18 Juni 2022) Model 5: Connection, challenge, concept, change (4C) Pada Minggu ini saya melakukan Pendapi...