Guru SMP Negeri 2 Cililin. Penulis Buku "Embun di Atas Daun Teh" dan "Jangan Lagi ditelan Paus"
Refleksi Kompetensi Sosial dan Emosional
Sebagai pendidik, Anda tentu pernah berada dalam suatu peristiwa yang membuat Anda merasakan emosi-emosi positif, misalnya optimis, senang, cinta, bahagia, atau takjub, dan sebagainya. Refleksikan:
a. Kehadirannya ketika saya merasa berhasil membuat siswa senang belajar dan antusias saat belajar atau ketika berhasil mencapai target untuk kegiatan literasi, bisa buat antologi buku atau membuat siswa menyelesaikan tantangan. Kejadian terbaru saat menerapkan pembelajaran diferensiasi. Siwa yang tidak mau belajar biasanya jadi semangat dan dia berkata, "Bu ayo belajar lagi". Saat kemarin berhasil buat buku antologi, saya sebagai koordinator dan editor Alhmdulillah bisa selesaikan tantangan. Saya memilih peristiwa tersebut karena bagi saya (guru) hal yang paling membahagiakan ketika siswa semangat belajar dan mau belajar
B. Sebagai guru saya berupaya untuk memahami siswa yang tidak mau belajar dengan mencari cara hal yang mereka sukai. Ketika melihat siswa tidak mau belajar atau hanya main-main saja saya coba memahami tindakan mereka dan mencari tahu apa yang mereka butuhkan. Ketika perasaan bahagia dan semangat juga bisa sangat berpengaruh terhadap siswa
C. Peristiwa tersebut membuat saya lebih semangat untuk mencari upaya untuk membuat siswa semangat belajar dan saya berkesimpulan bahwa seorang guru memang harus dapat memotivasi siswa seperti apa pun bukan mematahkan semangatnya
Saat menjadi pendidik, Anda tentu juga pernah berada dalam suatu peristiwa yang memicu emosi-emosi negatif misalnya marah, sedih, kecewa, menyesal, khawatir, dan sebagainya. Refleksikan:
a. Peristiwa yang membuat saya kecewa, marah, sedih contohnya minggu lalu. Wakasek kurikulum mengumumkan bahwa soal harus dibuat 1 lembar. Saya meminta izin agar soal lebih dari 1 lembar karena memang mapel bahasa Indo membutuhkan banyak teks. Tapi wakasek menolak malah meminta saya menulis secara efektif. Saya marah esensinya bukan kalimat yang saya buat tidak efektif. Tapi, cakupa materi dan proses berpikir anak ketika mengerjakan soal kan harus ada. Masa iya soal dibuat hanya pada tataran C1. Saya berdebat dengan wakasek kurikulum tersebut karena tidak paham kenapa soal dibatasi hanya 1 lembar dan beliau tidak memberikan alasan yang bisa saya Terima. Peristiwa ini sungguh membekas bagi saya karena saya merasa bahwa idealisme saya kok harus dikikis oleh sebuah sistem
b. Saya sebagai guru mapel bahasa Indonesia mewakili teman lainnya yang juga guru Indonesia. Saya akhirnya meminta maaf karena sudah mengeluarkan emosi saya saat berdebat. Meskipun saya masih merasa tidak paham dengan kebijakan saya mencoba untuk menahan diri dan menyesuaikan dengan sistem dan berupaya menyiasati soal agar tidak tetap sesuai idealisme saya tapi juga mengikuti sitem yang berlaku
C. dampaknya saya banyak merenung bahwa ternyata di lingkungan pekerjaan kita garis lebih banyak bersabar dan menyelesaikan masalah dengan lebih bijak dan tidak langsung mengeluarkan emosi
Di bawah ini ada beragam kegiatan belajar dan mengajar di kelas maupun lingkup sekolah. Berilah tanda cek (✓) pada kegiatan yang sudah pernah Anda lakukan dan jawablah pertanyaan di bawahnya.
Berdasarkan jawaban yang Anda berikan tadi,
Kegiatan yang selalu saya lakukan adalah
1.Memulai kegiatan setiap hari dengan kesadaran akan tujuan yang jelas. Karena kalau saya mengajar tanpa tujuan yang jelas di kelas pasti saya kebingungan dalam menuntun siswa arahnya ke mana. Dan supaya saya dapat mengukur ketercapaian tujuan saya.
2.Melibatkan murid dalam membuat kesepakatan kelas agar kelas aman dan nyaman. Hal ini saya ulangi terus terutama di kelas yang saya ampu. Saya ingin menciptakan disiplin positif tanpa harus terus menegur siswa secara langsung
3.Memberikan kesempatan pada murid untuk mengadakan acara sekolah (literasi, seni dan olahraga, dll). Saya berpikir jika siswa sudah menemukan potensinya, tujuan pendidikan pun tercapai. Oleh karena itu, jika anak merasa dirinya memiliki minat dan potensi di luar pembelajar dan hal itu positif layak untuk terus didukung
Faktor pendukung saya terus melakukan tersebut adalah nilai diri saya (idealisme/kayakinan) saya yang mewajibkan diri sendiri melakukan itu.
Kendalanya terkadang ada perasaan pribadi yang membuat saya terdistraksi dan sulit konsentrasi dengan yang saya lakukan dan juga sistem yang kurang mendukung
Harapan dan Ekspektasi
Setelah menjawab pertanyaan-pertanyaan sebelumnya, apakah Bapak/Ibu sudah mendapatkan gambaran tentang apa yang akan dipelajari dalam modul pembelajaran sosial dan emosional ini? Apa hal yang ingin Anda pelajari lebih lanjut?
Silahkan kemukakan Harapan dan Ekspektasi bagi diri sendiri ?
Harapan saya nanti saya mendapatkan hal baru tentang ilmu untuk mengelola emosi yang memang sangat diperlukan
Silahkan kemukakan Harapan dan Ekspektasi bagi murid-murid Anda ?
Hal yang akan dipelajari sepertinya bagaimana cara guru mengelola emosi di dalam lingkungan pembelajaran, baik di kelas dengan rekan kerja, kepsek, dan lingkungan sekolah.
Harapan saya nanti setelah guru belajar materi ini berdampak pada siswa sehingga dapat belajar dengan lebih nyaman dan memilki kebebasan dalam mengekspresikan dirinya secara positif
Jurnal Refleksi Ke-24 (13 Juni s.d 18 Juni 2022) Model 5: Connection, challenge, concept, change (4C) Pada Minggu ini saya melakukan Pendapi...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar