Jurnal Refleksi Model 5 : Connection, Challenge, Concept, Change (4C)
Rabu, 17 November 2021
Perasaan Selama Melakukan Aksi Untuk Menguatkan Nilai dan Peran Guru Penggerak
Minggu ini yang saya mendapatkan materi Calon Guru Penggerak (CGP) dari Instruktur tentang Nilai dan peran guru penggerak dalam Kegiatan Elaborasi. Dari elaborasi ini, saya mendapatkan pelajaran tentang pengelolaan emosi ketika menerima reaksi negatif dalam menerapkan nilai dan peran guru penggerak. Pengalaman yang dialami beberapa peserta ternyata hampir sama dengan yang saya rasakan bahwa kadang kita merasa moody, kadang pula merasa bingung ketika berada di kelas untuk pertama kali melaksanakan Pembelajaran Tatap Muka setelah anak-anak terbiasa diam di rumah.
Setelah saya mendapatkan materi dari instruktur saya merasa lebih bisa memahami nilai-nilai dan peran guru penggerak dalam kegiatan Koneksi Antar Materi. Saya membuat dua tulisan. Satu tulisan di upload di Website Disdik Bandung Barat, ini linknya http://disdikkbb.org/news/mengapa-harus-menjadi-guru-penggerak/ Tulisan tersebut merupakan refleksi pemahaman saya tentang nilia-nilai dan peran guru penggerak dikaitakan dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara. Tulisan kedua di blog ini dengan judul Menjadi Guru Penggerak Literasi, tulisan tersebut berisi pengenalan saya tentang potensi diri saya sebagai Guru Penggerak dan langkah selanjutnya yang akan saya lakukan dalam berproses menjadi seorang guru penggerak yang sesuai dengan nilai dan peran guru penggerak.
Perasaan saya sebenarnya campur aduk, ada semangat, ada bahagia, dan masih terselip sedikit kekhawatiran. Saya semangat karena di CGP ini betul-betul membuat saya jadi pembelajar sejati, meski tugas menulis tiap hari tapi saya merasakan bahwa ada hal yang terisi dalam pikiran dan hati saya. Saya juga bahagia, saya bisa bertemu sahabat baru yang inspiratif, mengajarkan saya banyak hal, bisa berkarya dan mengembangkan diri terus menerus. Tapi saya masih khawatir saya belum bisa menjadi guru penggerak yang berdampak dan bermanfaat bagi lingkungan sekitar saya. Karena ternyata, berbuat hal di lingkungan sendiri itu lebih kompleks situasi yang dihadapinya. Tapi saya punya harapan program CGP akan terus menuntun saya menjadi seorang guru yang reflektif, mandiri, kolaboratif, kreatif, inovatif, dan memihak kepada murid. Saya juga bisa menerapkan peran guru penggerak menjadi pemimpin pembelajaran, bisa membantu guru lain, bisa berkolaborasi di komunitas, dan bisa mewujudkan kepemimpinan murid.
Saya mencoba menerapkan nilai-nilai guru penggerak dan peran seorang guru penggerak di lingkungan sekolah saya meskipun secara perlahan dan lingkup kecil. Saya merasa sudah bisa menjadi guru penggerak yang mandiri karena saya sudah terbiasa mencari dan mengikuti sendiri pelatihan, Saya mencoba hal baru juga dalam setiap mendapatkan sesuatu dan saya coba terapkan dalam pembelajaran (Inovatif). Saya mencoba membuat pembelajaran dengan metode games (Nilai Kreatif) Saya memahami harus lebih banyak melakukan kolaborasi dengan guru lain yang selama ini jarang saya lakukan, saya bersama dua guru yang mengajar Mata Pelajaran yang sama mencoba membangun kolaborasi agar bisa menyajikan kegiatan pembelajaran yang maksimal. Kami mendiskusikan perencanaan, persiapannya, saat aksi ke kelas. Bahkan sebelum masuk ke kelas, kami breafing tentang hal yang bisa dilakukan (Sayang, saya lupa difoto karena fokus persiapan pembelajaran ingin sukses, ingin membuat anak senang, kan berpihak kepada murid hehe). Setelah keluar kelas kami langsung mengevaluasi hasil kegiatan tadi di kelas (Reflektif). kemudian merancang ulang dan memperbaiki segala kekurangan untuk pelaksanaan mengajar pada pertemuan berikutnya.
Saya merasakan kebahagiaan saat berada dalam TIM GURU INDO 8 (Begitu kami menamai grup WA kami). Bersama Bu Sinta Nurdiana dan Bu Nita Nuraeni saya merasakan nuansa akademik sekaligus kekeluargaan. oh ya saya mau cerita dulu, dua teman saya itu sedang mengikuti seleksi P3K, mohon doa dari semua agar mereka bisa lolos. Saya bersaksi mereka berdua adalah guru hebat dan penuh dedikasi. Bayangkan saja meski masih GTT, mereka harus menempuh perjalanan mengajar sekitar 20 Km setiap harinya (Batujajar-Rancapnggung) bahkan yang satu dalam kondisi hamil muda. Tapi mereka tidak pernah merasa keberatan ketika berbagi tugas, berdiskusi tetap semangat. Saya rasanya ingin bercerita tentang mereka lebih banyak nanti.
Kembali Ke cerita saya setelah selesai mengikuti modul 1.2 tentang Nilai dan Peran Guru Penggerak
Challenge, Concept,
Ide atau gagasan yang timbul sepanjang proses
Setelah mengikuti materi CGP pada modul 1.2 tentang Nilai dan Peran Guru Penggerak, saya sejak awal mulai dibawa pada kenangan baik dan buruk masa dulu dan juga makna bergerak itu sendiri bagi seorang guru. Selanjutnya dalam pengelolaan emosi yang disampaikan oleh Instruktur, juga dari hasil diskusi kelompok dalam penerapan Nilai dan peran guru pengerak dan juga ketika saya membentuk konsep diri saya sebagai guru penggerak dalam demontrasi kontekstual dan koneksi antarmateri.Ditambah hasil diskusi saat pendampingan. Dari pelajaran-pelajaran itu saya membuat beberapa catatan yang harus saya terus terapkan, yaitu:
1. Seorang guru itu memiliki dampak yang besar di masyarakat dalam menerapkan nilai-nilai kehidupan melalui murid-muridnya.
2. Sikap seorang guru bisa sangat berpengaruh pada masa depan muridnya. Oleh karena itu, seorang guru harus bisa menjadi Ing ngarso sung tulodo, Ing madyo mangun karso, tut wuri Handayani. Perkataan seorang guru bisa menjadikan seorang murid sukses, bisa juga bisa mematahkan semangat murid. oleh karena itu, penting sekali bagi seorang guru mempeerhatikan apa yang dia sampaikan kepada murid.
3. Seorang guru sejatinya harus bergerak, jika tidak bergerak maka dia akan tergilas oleh perubahan dan tidak dapat membawa pada perubahan yang lebih baik. Oleh karena itu seorang guru penggerak harus terus melatih dirinya menjadi pemimpin pembelajaran, meenggerakan komunitas praktisi, mendorong kolaborasi antar guru, menjadi coach bagi guru lain, dan mewujudkan kepemimpinan murid.
4. Seorang guru sebagai pribadi harus terus belajar mengendalikan emosi seperti apa pun reaksi lingkungan sekitarnya, negatif, positif dia harus dapat menyikapinya dengan positif jangan sampai nilai diri kita itu dipengaruhi orang lain. Seorang guru harus punya nilai yang dipegang teguh dan tidak terpengaruh oleh reaksi negatif. Nilai-nilai yang harus dipegang itu yaitu, Mandiri, Reflektif, Kreatif, Inovatif, berpihak
5.Seorang guru penggerak harus dapat mengenali dirinya, nilai kelebihan dan kekurangan dirinya, kemudian memaksimalkan kelebihan dirinya agar dapat bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya dan bisa menggerakan orang lain.
6. Seorang guru penggerak tujuan utamanya adalah mewujudkan profil pelajar pancasila. Dengan nilai dan perannya, guru penggerak dapat melakukan beberapa program. Akan tetapi tidak harus segalanya dilakukan,tapi bisa dimulai dari hal yang sederhana tapi berpihak kepada murid.
7. Seorang guru penggerak bukanlah bergerak sendiri, tapi harus dapat berkolaborasi dengan pihak lain dan pemangku kebijakan agar program yang dilakukannya bisa berjalan sesuai tujuan.
Change
Pembelajaran dan pengalaman dalam bentuk catatan praktik baik
Kembali ke dalam aktivitas penerapan nilai dan peran guru penggerak, saya mencoba menerapkannya dalam kegiatan pembelajaran dan juga berdikusi dengan kepala sekolah dan rekan sesama guru tentang hal apa yang bisa saya lakukan untuk mewujudkan profil pelajar pancasila.
Di dalam pembelajaran, saya mencoba melaksanakan rencana pengajaran yang sudah dilakukan oada moudl 1.1, penerapan Ki Hajar Dewantara dalam pembelajaran. Saya bagikan di pada komunitas guru bahasa Indonesia kelas 8. Kami pun berdiskusi di WA tentang kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan dengan metode games.
Saat pelaksaan, kami awalnya merasa sedih karena kurang berhasil. Hal yang kami rencanakan, di luar ekspetasi. Kelas pasif, krik..krik..sunyi sepi, padahal kami membayangkannya seru. Ternyata siswa masih merasa ragu dan malu berekspresi setelah sekian lama berada di rumah, tanpa teman sekelas. Dalam situasi seperti itu seharusnya saya ice breaking dulu atau kegiatan yang memotivasi siswa karena itu yang mereka butuhkan. Tapi waktu hanya 40 menit untuk 1 pertemuan setiap kelas, membuat kami "mati gaya" Karena mengejar, waktu akhirnya permainan dipaksakan dan kami merasa gagal.
Setelah dievaluasi bersama, kami pun melakukan beberapa perbaikan karena jam mengajarnya lebih dulu. Saya yang pertama kali melakukan perbaikan. Di kelas pertemuan pertama (8e) saya terapkan perubahan itu, lumayan ada perubahan, kelas kondusif, siswa aktif, tapi tetap mereka masih malu-malu dan kesan kelas pasif masih terasa. Di kelas kedua (8B), saya ubah sedikit pada bagian akhir, lumayan membuat siswa lebih berwarna dan terasa ada semangat belajar. Nah di kelas ketiga saya beri perlakuan baru, tidak lagi tertulis tapi jawaban siswa secara lisan dan memakai papan skor di papan tulis. Awalnya masih kaku dan malu-malu. Tapi akhirnya rame juga dan seru. Bahkan ketika siswa yang mendapatkan hukuman berupa membuat karya, siswa tersebut bersemangat. Saya tersenyum, baru kali ini ada yang dihukum merasa senang membuat karya hukuman.
Foto bercerita’ dari seluruh rangkaian pelaksanaan (perencanaan, penerapan dan refleksi) aksi Anda
Foto peranngkat yang digunakan menjelang pembelajaran.
berikut ini beberapa foto saat pembelajaran di kelas. (Penerapan)
Refleksi dalam bentuk Chat WA di Grup Indo 8
Tidak ada komentar:
Posting Komentar