Seorang guru penggerak memiliki peran dan nilai yang harus diaplikasikan dalam kegiatannya menjadi seorang pendidik yang bisa berdampak pada lingkungan tempatnya mengajar. Saya sendiri merasakan bahwa nilai dan peran guru penggerak tersebut masih terus saya upayakan agar dapat terinternalisasi pada diri. Saya merasa sudah memiliki nilai-nilai guru penggerak meskipun belum maksimal. Nilai guru penggerak yang saya miliki diantaranya: mandiri, refleksi, inovatif, kreatif, berpihak kepada murid dan kolaboratif. Hal tersebut tergambar dalam cerita yang saya sajikan berikut.
Sejak saya sekolah hingga menjadi guru, hal yang selalu konsisten saya lakukan adalah berkaitan dengan kegiatan membaca dan menulis, meskipun, ketika saya sekolah baru terbatas kegemaran pribadi, pergi ke perpustakaan lalu pinjam buku dan menulis di buku harian dan berkhayal membuat sebuah buku. Ketika saya pertama kali mengajar tahun 2005 di SMP Negeri 2 Rancabali Kab. Bandung saya pun kembali berkegiatan di bidang literasi membaca dan menulis. Saya mencoba menghidupkan perpustakaan sekolah yang "mati suri", ruang perpustakaan ada, koleksi buku ada, tapi ruang perpus terkunci karena tidak ada petugas perpustakaan.
Saya berinisiatif meminta menjadi sukarelawan petugas perpustakaan. Dengan bantuan siswa, saya bersihkan ruangan, membereskan buku sesuai kategori. Kemudian saya mengajak siswa menjadi petugas perpustakaan. Saya membuat pengumuman pembukaan perpustakaan kepada siswa secara door to door. Pada jam istirahat saya membuka perpustakaan dan menerima peminjaman buku. Saya buat catatan peminjaman dan pengembalian buku. Saya minta bantuan siswa menjadi petugas perpustakaan secara bergantian. Saat ini, mungkin karena saya masih "sendiri", saya betul-betul bahagia mencurahkan waktu berlama-lama di perpustakaan, saya baca buku-buku fiksi agar saya bisa memberikan rekomendasi buku yang bisa mereka baca.
Saya juga mendirikan Baca Tulis Club (BTC), anak-anak yang belum suka membaca menyebutnya klub kutu buku. Tapi, Alhamdulillah, siswa yang mendaftar waktu itu ada sekitar 70 siswa sampai ruang kelas sesak. Tapi seiring berjalan waktu memang berguguran. Kegiatan yang dilakukan pertemuan seminggu sekali seperti membedah sebuah buku, belajar menulis berita, menulis puisi, cerpen, dan membuat mading sekolah. Setiap minggu pula kami membuat mading sekolah. Waktu itu mading sekolah menjadi hal yang ditunggu. Ya, karena sekolah kami termasuk pelosok, jumlah siswa sedikit jadinya segala hal kecil yang dilakukan pun terasa menjadi terlihat. Cerita tentang kegitan literasi saya saat itu, ada bagian ceritanya dituis di buku ini.
Setelah saya pindah mengajar karena diangkat CPNS di SMP Negeri 2 Cililin di Bandung Barat, saya kembali mencoba menerapkan pembuatan Mading Sekolah, waktu itu bahkan sempat mengikuti lomba Mading dan menjadi juara 1, meskipun peserta hanya 2,hehe (Sepertinya lomba Mading sepi peminat) Akhirnya seiring perubahan serba digital mading pun semakin ditinggalkan dan gerak saya dalam literasi pun mengikuti pola yang sudah dilakukan oleh sekolah lain. Saya mencoba menggerakan beberapa siswa untuk menggerakan kegiatan membaca 15 menit sebelum pembelajaran dimulai. Saya waktu itu hanya mampu merekrut 10 siswa dan yang aktif hanya 5 siswa. Bersama mereka saya membuat perpus kardus, karena sekolah kami belum ada gerbang dan bentengnya, kami tidak bisa membuat pojok baca kelas. Bahkan buat pohon literasi pun ada yang membakar entah oleh siapa. Akhirnya buatlah perpus kardus. Saya bersama 5 siswa menyediakan kardus sejumlah kelas. Lalu ambil buku perpusatakaan disampul plasitik dan diberi label nama setiap siswa sesuai absen. Setiap kelas mendapatkan buku sejumlah siswa. Setiap pagi duta literasi di setiap kelas mengambil perpus kardus dan mengemablikan kardus ke perpustakaan saat pulang sekolah. Ini foto kegiatannya.
Setelah sekolah kami dibenteng dan pintu gerbang dikunci, program perpus kardus selesai dilanjutkan program TMBB (Tantangan Membaca Bandung Barat). Saat saya masih bergerak sendiri saya hanya mampu meloloskan 25 siswa dari 40 siswa yang ikut tantangan. Tapi setelah saya berkolaborasi dengan sembilan orang guru lain, Alhamdulillah dua kali sekola kami mapu membawa semua siswa lolos tanangan dna dua kali kami mendapat perdikat sekolah inspiratif dengan menghasilkan buku karya antologi hasil siswa dan guru. Berikiut ini adalah buku yang kami tulis.
Nah, setelah saya melihat perjalanan kegiatan saya dalam bidang literasi, saya berpikir hal yang bisa terus saya lakukan adalah menjadi Guru Penggerak Literasi. Kedepannya saya harus melakukan inovasi dan berkreasi untuk lebih membudayakan kegiatan Literasi membaca dan menulis. Hal yang akan saya lakukan adalah:
1. Membuat program kegiatan literasi sekolah yang memuat inovasi baru
Terkait kegiatan tersebut, masih saya pikirkan detil kegiatannya yang pasti ingin membumikan jargon GLS SMP Negeri 2 Cililin "Gemar Sasalaman" (Gerakan mari membaca satu hari satu halaman), kemudian mengaktifkan gerakan tersebut di media sosial, dan mengajak kerjasama dengan pihak lain seperti komite atau membuat proposal pengadaan buku,
2.Menawarkan program kepada kepala sekolah
Dukungan kepala sekolah sangat penting untuk legalitas kegiatan dan rasa kepemilkan warga sekolah lain terhadap program tersebut.
3.Meluncurkan program dan berkolabrasi dengan guru dan wali kelas
4.Melibatkan siswa-siswa lulusan TMBB untuk menebarkan program di Medos.
Kegiatan yang ingin saya lakukan itu tentu harus didukung oleh banyak pihak, karena yang saya rasakan ketika saya bergerak sendiri hasil tidak maksimal, saya pun kesulitan istiqomah karena kelelahan sendiri kalau harus mengurus banyak siswa, ibarat bertarung saya seperti seorang diri melawan ratusan orang. Bukannya tercipta perubahan, tapi program berakhir "Mati". Oleh karena itu, saya membutuhkan dukungan dari beberapa pihak seperti:
1. Kepala sekolah yang melegalisasi kegiatan dan menggerakn guru lain.
2. Guru/ Wali Kelas yang bisa menggerakan siswa di kelas
3 Siswa-siswa yang aktif dalam kegiatan literasi pengalaman saya, tanpa dibantu siswa-siswa aktif aya kesulitan bergerak.
4. Komite
Dukungan orang tua sangat berarti karena biasanya orang tua yang memberikan dorongan kepada siswa secara lebih personal.
Program yang akan saya luncurkan tersebut tentu saja akan menghadapi banyak tantanga. Saya berdoa semoga saya diberikan kekuatan dan kesehatan untuk melaksanakannya. Semoga dengan adanya program CGP lebih membantu saya MENJADI GURU PENGGERAK LITERASI.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar