14.a.6.1 Refleksi Terbimbing
Berikut ini adalah tugas Calon Guru Penggerak Modul 1.4 tentang Budaya Positif pada Fase Refleksi Terbimbing.
Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep inti yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: disiplin positif, posisi kontrol guru, kebutuhan dasar manusia, keyakinan kelas, dan segitiga restitusi. Adakah hal-hal yang menarik untuk Anda dan di luar dugaan?
Disiplin Positif
Pemahaman saya tentang disiplin positif adalah disiplin yang dibangun dengan paradigma berpikir positif. Sejauh ini kesan dari disiplin adalah sesuatu yang membuat orang terikat, terpaksa mengikuti aturan yang berlaku, dan sekedar ingin melakukan sesuatu yang diharuskan oleh pihak lain. Saya juga menduga seperti itu pada awalnya, disiplin itu sama dengan terikat aturan yang mengurangi segala kebebasan kita sebagai manusia yang bebas berpikir dan berekspresi. Kesan saya tentang disiplin adalah sesuatu yang justru memaksakan kehendak pada orang lain dan mengharuskan orang lain bertindak sama dan menyalahi keragaman manusia. Akan tetapi, setelah saya mempelajari tentang konsep disiplin positif, terbukalah segala kebingungan saya tentang konsep disiplin. Saya merasa mendapatkan jawaban atas kebingungan saya selama ini antara aturan memaksa dan disiplin.
Disiplin memang penting bahkan sangat penting apalagi diterapkan pada siswa, tapi definisi disiplin positif tidak sempit hanya pada aturan yang berlaku. Disiplin positif justru berupaya menggerakan manusia untuk menaati nilai-nilai universal tapi atas dasar kesadaran sendiri (Motivasi intrinsik). Bukan motivasi dari luar (ekstrinsik). Sebab, disiplin yang didasarkan pada kesadaran atau berpegang teguh pada keyakinan nilai-nilai diri justru jauh lebih lama melekat dan tidak mudah digoyahkan dibandingkan disiplin yang dibangun karena rasa ketakutan atau hanya ingin menaati orang lain.
Hal tersebut sebenarnya sudah diungkapkan oleh Ki Hajar Dewantara dan sejalan dengan pemikiran DIane Gossen, yang mengatakan bahwa disiplin itu seharusnya lebih kepada disiplin diri. Diri kita harus memiliki keterampilan mengatur diri sendiri. Dan jika kita tidak dapat mengatur diri sendiri, butuh orang lain atau sebuah aturan yang mendisiplinkan diri kita. Akan tetapi, ruh disiplin yang dibangun bukan "keterpaksaan" tapi disiplin yang pada akhirnya membuat kita menyadari sendiri pentingnya disiplin.
Oleh karena itu, ketika kita menerapkan disiplin pada siswa yang terpenting adalah menanamkan disiplin positif kepada siswa. Hal itu diawali dengan membuat kesepakatan sesuai dengan keyakinan Universal.
Posisi Kontrol Guru
Penerapan disiplin di sekolah tidak akan lepas dari guru sebagai orang yang berada di posisi menerapkan disiplin terhadap siswa. Menurut Diane Gossen, Penerapan disiplin dilakukan dengan berpusat pada murid dilakukan dengan sebutan 5 Posisi Kontrol, yaitu:
Penghukum
Posisi kontrol penghukum adalah guru bertindak seperti satu-satunya orang yang berkuasa pada aturan sehingga semua murid harus taat seperti cara dia dan jika tidak taat guru akan memberikan hukuman bisa berupa verbal ataupun fisik. Posisi kontrol ini memungkinkan murid tidak suka, tersakiti, atau bisa jadi dendam terhadap guru sehingga disiplin yang dikendaki pun tidak berjalan efektif.
Pembuat Orang Merasa Bersalah
Posisi kontrol Pembuat Orang Merasa Bersalah adalah guru bertindak secara halus. Misalnya menegur secara halus, akan tetapi kalimat yang diucapkannya mengandung membuat murid di posisi merasa bersalah karena tidak menaati gurunya dan tidak mengikuti kemauan gurunya. Misalnya dengan kalimat, "Kamu tidak kasihan sama Ibu nak, Ibu sudah cape buat tugas semalaman bahkan hampir saja ibu tidak tidur, tapi kamu tidak mengerjakannya." Posisi kontrol seperti ini membuat murid merasa buruk dan sangat bersalah, tapi juga tidak berefek mereka menjadi menaati disiplin yang diterapkan.
Teman
Posisi kontrol ini teman adalah guru bertindak seperti teman pada murid. Sehingga murid merasa dekat dan bergantung pada gurunya. Hal ini akan membuta siswa merasa nyaman. Akan tetapi, efek negatifnya, murid jadi bergantung kepada guru tersebut dan ketika guru tersebut tidak memperhatikan mereka sekali saja, mereka merasa dikecewakan dan efek negatif lainnya, siswa hanya taat kepada guru tersebut dan tidak kepada guru lain.
Pemantau
Posisi kontrol pemantau atau pengawas guru bertindak netral. Guru akan memberlakukan disiplin sesuai dengan aturan, kesepakatan, kemudian akan memberikan sanksi sesuai kesalahan yang dibuat siswa. Guru tidak emosi jika siswa melakukan ketidaksidiplinan, tapi akan melakukan sangsi sesuai dengan data, catatan, obseravasi yang dilakukan secara obejektif. Misalnya menghukum siwsa yang tidak piket kelas dengan melihat daftar hadir piket, dan memberikan sanksi yang sesuai dengan kesalahan yang dibuat. Misal sanksi yang tidak piket, beres-beres di perpustakaan sendiri.
Manajer
Posisi Kontrol Manajer adalah posisi guru berkolaborasi dengan murid untuk memperbaiki kesalahan dengan cara murid sendiri. Posisi ini sesuai dengan teori restitusi, guru tidak langsung menyalahkan siswa tapi mengajak mereka mengevaluasi diri terkait kesalahan yang dibuat dan mereka sendiri yang memilih cara memperbaiki kesalahan mereka. Posisi kontrol ini justru akan membuat murid memiliki keyakinan lebih kuat terhadap nilai kebajikan universal, buka lagi pasksaan tapi menumbuhkan motivasi internal mereka.
Kebutuhan Dasar Manusia
Segala sesuatu terjadi karena sebuah alasan. Barangkali kalimat tersebut cukup mewakili untuk kita memahami tentang Konsep kebutuhan dasar manusia. Setiap manusia atau seorang murid khususnya ketika dia melakukan hal buruk sekalipun pasti ada alasannya. Hal tersebut berarti ketika kita menghadapi murid, segala tindakan mereka harus terlebih dahulu dipahami sebelum kita berikan solusi atau konsekuensinya. Bekal untuk memahami tindakan murid adalah dengan memahami konspe % Kebutuhan dasar manusia yatiu:
Survival/ Kebutuhan Bertahan Hidup
Kebutuhan ini bersifat fisologis seperti kebutuhan akan makan, kesehatan, tempat tinggal, seks (Bereproduksi). Hal yang bersifat psikologisnya adalah kebutuhan akan rasa aman.
Cinta dan Kasih Sayang (Kebutuhan untuk diterima)
Kebutuhan untuk mencintai dan memiliki, memberi dan menerima. Saling terhubung dengan orang lain, keluarga, sahabat, dan lingkungan sekitar. Anak dengan kebutuhan ini sangat ingin dicintai orang tua, berada di lingkaran persahabatan, dan suka bekerja dalam kelompok, ingin dicintai oleh guru mereka juga.
Penguasaan (Kebutuhan Pengakuan atas Kemampuan)
Kebutuhan untuk diakui kemampuannya, prestasinya, diakui harga diri, dan pencapaiannya terhadap sesuatu. Anak dengan tipe ini ingin selalu memimpin, menonjol, tidak suka melakukan kesalahan. Ingin segala sesuatu sempurna.
Kebebasan (Kebutuhan Akan Pilhan)
Kebutuhan untuk mempunyai pilihan, mandiri, bebas, otonom. Anak dengan tipe ini suka bergerak, mencoba hal baru, dan suka berbeda dengan orang lain.
Kebutuhan Akan Merasa Senang
Kebutuhan untuk memiliki perasaan lepas, tertawa, riang dan hal lain yang bersifat kesenangan. Anak dengan tipe ini biasanya riang, senang melucu dan mencairkan suasana.
Keyakinan Kelas
Keyakinan kelas adalah nilai-nilai universal yang dijadikan panduan atau arah bersikap anggota kelas atas kesepakatan bersama. Keyakinan kelas bukan peraturan tapi sifatnya lebih abstrak dan menurut Gossen, keyakinan kelas itu sifatnya lebih menumbuhkan motivasi Internal. Misalnya, tanggung jawab, kemandirian, saling menghargai, dll. Keyakinan kelas bisa disepakati dan dibuat oleh seluruh warga sekolah kemudian ditempel di dinding. Setiap permasalahan yang berkaitan dengan pelanggaran disiplin, bisa dikembalikan kepada keyakinan kelas.
Segitiga Restitusi
Restitusi merupakan upaya yang dilakukan guru dalam rangka memperbaiki kesalahan yang dilakukan murid dengan cara memberikan murid pilihan untuk memperbaiki kesalahannya. Restitusi juga mengembalikan siswa ke dalam kelompoknya bukan malah menjauhkannya dan membuat mereka belajar dari kesalahan dan murid tersebut makin kuat keyakinan/nilai-nilai dirinya. Jadi dengan restitusi murid yang bersalah, bukan dihukum atau sekedar diminta minta maaf. Tapi diupayakan siswa menyadari kesalahan sendiri dan berupaya memperbaikinya dengan kemauan sendiri.
Segitiga restitusi adalah langkah atau tahapan dalam melakukan restitusi.
1. Menstabilkan identias
Pada tahap ini, guru mencoba membuat siswa merasa nyaman dengan memahami bahwa semua orang termasuk murid pasti telah melakukan yang terbaik. Akan tetapi, karena suatu alasan mereka bisa saja melakukan kesalahan dan itu wajar. Siapa pun bisa bersalah baik itu siswa atau pun guru.
2. Memvalidasi Kesalahan
Pada tahap ini, guru berupaya memahami alasan siswa berbuat salah. Guru memvalidasi kesalahan siswa dengan kebutuhan dasar yang Ingin mereka penuhi.Kemudian, memberikan pilihan mereka cara terbaik untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka.
3. Menanyakan Keyakinan
Setiap kesalahan siswa dikembalikan lagi kepada keykinan kelas yang mereka miliki. Apakah tindakan yang mereka lakukan sudah sesuai dengan keyakinan kelas mereka atau belum? dengan demikian. Siswa dapat menentukan sendiri cara terbaik untuk memperbaiki kesalahan mereka.
Hal menarik di luar dugaan
Hal menarik di luar dugaan saya terkait konsep disiplin positif adalah;
- peraturan itu sifatnya hanya jangka pendek dan kurang efektif dalam menumbuhkan disiplin yang berasal dari motivasi internal
- Untuk menegakkan disiplin diawali dengan kesepakatan tentang keyakinan kelas, dari hal inilah semua dimulai dan dikembalikan
- "Everything Happens For a Reason" Kalimat itu kini menjadi "senjata ajaib" bagi saya dalam memahami orang lain khsususnya murid. Ketika saya menghadapi perilaku negatif siswa, saya akan berpikir seperti ini dan menganalisis kebutuhan dasar yang dimilki murid saya dan berpaya mepraktekan posisi kontrol yang positif.
Tuliskan pengalaman Anda dalam menggunakan konsep-konsep inti tersebut dalam menciptakan budaya positif baik di lingkup kelas maupun sekolah Anda
Setelah saya membaca teori tentang budaya positif, saya jadi ingin menerapkannya di dalam kelas maupun di dalam kehidupan sehari-hari. Secara spontan, saya pun menjadi berpikir tentang kebutuhan dasar yang dimiliki semua orang dari tindakan yang mereka lakukan, khususnya siswa.
Minggu ini, di sekolah saya sedang diadakan PAS (Penilaian Akhir Semester). Saya menjadi pengawas ruangan. Saat memasuki salah satu kelas, saya menemukan kelas yang begitu berbeda dari kelas lainnya. Mereka ribut sepanjang waktu, seperti mengeluarkan suara yang tidak jelas, bertanya dengan keras kepada temannya, mendiskusikan soal. Padahal, di awal ujian saya sudah memberikan kepada mereka aturan ketika sedang menghadapi PAS. kan tetapi 4 anak yang duduk di depan dan berdekatan tetap melakukan keributan.
Saya mencoba menganalisis kebutuhan dasar apa yang mereka butuhkan. Saya melihatnya, mereka butuh akan kesenangan dan salah satu dari mereka yang wanita sepertinya butuh akan pengakuan bahwa dirinya berarti bagi teman-temannya, berpengaruh, dan ingin diakui keberadaannya sebagai orang yang menonjol dari teman lainnya.
Saya mencoba melakukan posisi kontrol sebagai teman pada mereka. Saya dekati mereka dan saya katakan, "Ayo masih ingat tidak tadi peraturan awalnya apa?" Mereka mengatakan, "Jangan terlalu tegang Bu? santai sedikit", "Oke deh, menurut kalian, hal apa yang bisa kalian lakukan agar kesenangan kalian bisa dilakukan tapi tidak mengganggu orang lain yang sedang ujian" di kelas lain mereka meminta mengerjakan sambil mendengarkan musik. Di kelas ini mereka tidak menjawab, sepertinya bingung. Tapi, kemudian diam dan setelah itu melakukan keributan lagi. Sejujurnya, saya bingung sampai berkesimpulan ternyata dalam praktiknya tidak semudah memahami teori. Ada banyak kondisi spontanitas yang di luar dugaan. Karena situasi tidak berubah, saya menahan diri tidak menjadi posisi kontrol penghukum. Saya ingin terus dan coba memahami bahwa semua orang punya alasan. Akhirnya saya meminta salah satu dari mereka yang kebetulan menjawab soal lebih dulu, untuk mengedarkan abseni kepada temannya dan sepertinya anak ini cukup senang dengan tugasnya, dia menjadi merasa istimewa dan sumber keributan berkurang satu. Kepada anak yang satu lagi saya memposisikan sebagai pemantau, saya katakan peraturannya seperti apa dan konsekuensinya harus seperti apa. Dia mengerti tapi kemudian dia melakukan posisi pemantau juga pada yang lain. Dia sendiri ribut dan dia sendiri yang melarang teman lainnya ribut saat ujian. Saya tersenyum sendiri. Aish, saya berkesimpulan. Ternyata, saya belum memahami dan masih kesulitan dalam mempraktikan budaya positif di sekolah. Akhirnya, saya tanya satu persatu dengan melihat dafar hadir dan saya tanya mereka berasal darimana karena mereka masih kelas 7 dan saya tidak pernah mengajar di kelas mereka. Nah, ketika saya panggil namnay satu persatu dan bertanya alamat rumah, mereka akhirnya tidak ribut lagi.
Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan segitiga restitusi ketika menghadapi permasalahan murid Anda? Jika iya, ada di posisi manakah Anda? Anda boleh menceritakan situasinya dan posisi Anda saat itu.
Pernah. Waktu itu ada siswa yang mengadu ada temannya yang membuat akun palsu atas nama dia dan menyebarkan berita negatif ke teman lainnya. Anak yang menjadi korban merasa sakit hati dan merasa dirugikan. Dia mencurigai salah satu temannya, karena hanya anak itu yang memiliki foto itu yang dijadikan foto profil.
Saya memanggil anak yang dicurigai tersebut. Tapi saya tidak langsung mevonis dia yang bersalah dan tidak mengatakan bahwa temanya mencurigainya. Saya bertanya kepadanya apakah dia tahu kasus itu dan mungkin tahu siapa yang melakukannya karena dia salah satu yang komentar di medsos tersebut. (Upaya menstabilkan identitas) Anak itu langsung melakukan pertahanan diri dan sepertinya memang merasa bersalah, tapi dia menuduh orang lain melakukannya. Saya katakan kepadanya bahwa sebenarnya siapa pun bisa melakukan kesalahan itu karena mungkin tidak tahu letak kesalahannya.Tidak tahu kerugian yang dilakukan apa yang didapat dari tindakannya (Validiasi kesalahan).Tapi, pada akhirnya saya melakukan sedikit ancaman (heheh) saya katakan begini, Ibu tidak akan meghukum jika orang tersebut bersedia menghapus akunnya tersebut dan emminta maaf langsung kepada orangnya secara pribadi tanpa harus mengatakan kepada Ibu. Malam ini Ibu ingin mendengar korban berkata bahwa masalah sudah seslesai. Tapi jika tidak ada berita malam ini, ibu akan memanggil orang tua untuk penyelesaiannya karena ini menyangkut nama baik seseorang. Akhirnya malam hari, korban berkata akunnya sudah dihapus dan ada yang meminta maaf padanya yaitu teman yang memang dia curigai. Kata korbannya, Ibu saya sudah tidak apa-apa, saya tahu itu hanya iseng saya sudah memafkannya dan jangan lagi dibawa ke orang tua kasusnya. Saya tidak melakukan restitusi akhir, karena memang saya belum paham langkahnya. Masalahnya selesai dengan damai, tapi saya tidak tahu apakah posisi kontrol yang saya lakukan mungkin tidak nyaman bagi anak yang merasa bersalah dan tidak paham juga pakah anak tersebut mengambil pelajaran berhara taua tidak.
Perubahan apa yang terjadi pada cara berpikir Anda dalam menciptakan budaya positif di kelas maupun sekolah Anda setelah mempelajari modul ini?
Perubahan cara berpikir saya terkait konsep disiplin positif
- Pada awalnya saya bepikir, hal-hal kecil seperti aturan yang ada di sekolah terlalu dipaksakan dan menghambat kebebasan secara individu. Akan tetapi sekarang saya memahami bahwa boleh saja atiran itu diajlankan tapi penekannannya pada keyakina kelas, bukan sekedr peraturan yang istilahnya hanya membuat mereka menuruti kata guru
- Pada awalnya, saya berpikir mendisiplinkan siswa mungkin memang harus dengan cara hukuman. Ternyata hal itu, kurang tepat karena hanya akan menjadikan mereka taat sesaat. Justru yang perlu dibangun adalah motivasi/ kesadaran internal melalui Kesepakatan tentang keyakinan kelas terlebih dahulu.
- "Everything Happens For a Reason" Kalimat itu kini menjadi "senjata ajaib" bagi saya dalam memahami orang lain khsususnya murid. Ketika saya menghadapi perilaku negatif siswa, saya akan berpikir seperti ini dan menganalisis kebutuhan dasar yang dimiliki murid saya dan berpaya mepraktekan posisi kontrol yang positif.
Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi Anda sebagai seorang individu dan Anda sebagai seorang pemimpin pembelajaran?
Setelah saya membaca modul ini, sejujurnya saya merasa sangat bersyukur mendapatkan materi ini. Materi ini sangat pening bagi saya karena membuat saya bisa lebih positif dalam menilai orang lain (perbedan karakter dan sikap tindakan). Sekarang saya jadi berupaya memahami terlebih dahulu setiap tindakan daripada memvonis negatif. Misal hal sederhana, ketika teman saya tidak membalas chat padahal sangat penting, dulu saya kesal dan sebal. Sekarang saya berpikir, bahwa dia punya alasan bukan karena tidak suka dll.
Sebagai seorang pemimpin pembelajaran, saya ingin menerapkan budaya positif ini baik di dalam pembelajaran maupun dalam interaksi dengan lingkungan pembelajran dengan dimulai dari diri sendiri.
Apa yang Anda bisa lakukan untuk membuat dampak/perbedaan di lingkungan Anda setelah Anda mempelajari modul ini?
Hal yang saya lakukan adalah menulis dan membagikan tulisan di media online dan membagikanya kepada seluruh warga sekolah. Kemudian akan memulai menyepakati keyakinan sekolah di kelas saya terlebih dahulu dan mengenalkannya kepada orang terdekat agar bisa melaksanakan bersama-sama. Saya akan menempel keyakina kelas tersebut di kelas
Selain konsep-konsep tersebut, adakah hal-hal lain yang menurut Anda penting untuk dipelajari dalam proses menciptakan budaya positif baik di lingkungan kelas maupun sekolah?
Hal lain yang terpenting dalam menciptakan budaya positif baik di lingkungan kelas maupun sekolah adalah belajar untuk menemukan keyakinan sekolah/ merumuskan keyakinan sekolah secara bersama-sama dengan bantuan profesional.
Langkah-langkah awal apa yang akan Anda lakukan jika kembali ke sekolah/kelas Anda setelah mengikuti sesi ini?
Langkah-langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut:
- Saya akan mendiskusikan keyakinan kelas
- merumuskan dan menuliskannya di kelas
- membuat administrasi (catatan) terkait perilaku siswa dan mendata kebutuhan dasar mereka dan posisi kontrol yang bisa dilakukan
- melakukan evaluasi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar