Minggu, 19 Desember 2021

JURNAL REFLEKSI KE-8 (6 s.d 10 Desember 2021)


Model 8: Model Driscoll

1) WHAT? 

Pada Minggu ini saya melakukan Aksi nyata Visi Guru Penggerak dengan melakukan kegiatan pembelajaran dengan model BAGJA. Aksi nyata tersebut dapat dilihat di dalam blog saya 

https://emadamayanti29.blogspot.com/2021/12/penerapan-bagja-di-smp-negeri-2-cililin.html

Kemudian di hari Selasa, 7 Desember 2021 mulai masuk Modul 1.4, yaitu tentang Budaya Positif. Pada alur Mulai dari diri sendiri, kami diberi beberapa pertanyaan yang terkait menciptakan budaya positif yang pernah dilakukan di sekolah masing-masing dan upaya penerapan disiplin yang sudah dilakukan sejauh ini. 

Pada tahap Eksplorasi konsep, kami mempelajari materi tentang budaya positif seperti Perubahan paradigma, Konsep Disiplin Positif dan Motivasi, keyakinan Kebutuhan Dasar, Lima Posisi Kontrol, dan Segitiga Restitusi. 

Setelah memahami konsep budaya positif, kami berdiskusi kelompok membahas 4 kasus secara secara asinkronus. Kemudian melakukan presentasi dalam ruang kolaborasi. Kegiatan bedah kasus ini sudah dibuat presentasinya dalam canva seperti ini. 

https://www.canva.com/design/DAEyHuxlwDo/ZtMTVpUZM7PyGKa3kyzFBw/view?utm_content=DAEyHuxlwDo&utm_campaign=designshare&utm_medium=link&utm_source=publishsharelink

2) SO WHAT? (Analisis dari peristiwa yang terjadi) - 

Pada saat saya melakukan Aksi Nyata Visi Guru Penggerak dengan menerapkan Konsep BAGJA, saya merasa senang karena bisa termotivasi untuk mempraktikan apa yang saya pahami dalam pembelajaran dan juga dalam kegiatan literasi dan hal tersebut dapat menunjang visi saya sebagai calon guru penggerak. Kegiatan BAGJA pun berjalan lancar hanya tinggal saya terus mempraktikannya dan membuat perencanaan kedepannya dengan lebih baik lagi.

Hal menarik dan membuat kesan mendalam bagi saya ketika membaca modul ke-4 yaitu Budaya Positif adalah saya merasakan materi CGP  sangat luar biasa memberikan Inspirasi dan hal baru bagi saya. Sejalan dengan konsep IA yang fokus pada kekuatan positif di sekolah. Budaya positif juga menyajikan sudut pandang positif dalam menyikapi permasalahan yang ada di sekolah seperti bagaimana memahami tindakan siswa dan cara restitusi dalam menyelesaikannya, bagi saya adalah hal baru dan sangat menginspirasi.

Saya juga jadi lebih memahami penerapan didiplin positif. Seeblumnya saya masih merasa bingung dengan penerapan disiplin dnegan hukuman. Tapi sekarang saya memahmi konsep penerapan disiplin. Sekarang setiap saya bertemu siswa dengan segala tingkahnya, yang ada dalam pikiran saya adalah kalimat, "Pahami dulu Kebutuhan dasar apa yang siswa tersebut inginkan. Kemudian, memikirkan cara melakukan restitusi. Apalagi ketika sudah berdiskusi membedah kasus dengan kelompok, saya pun merasa sangat asyik ketika kami semua kadang berbeda pikiran dan pendapat. Tapi pada akhirnya dapat membuat sebuah kesimpulan bersama. 

Ketika membedah kasus budaya positif, ternyata pendapat setiap guru itu berbeda terutama saat menyimpulkan kebutuhan dasar siswa berdasarkan ilustrasi yang digambarkan dan juga ketika memilih posisi kontrol guru dalam praktik restitusi. begitu pula saat berada dalam ruang kolaborasi. Terdapat perbedaan pendapat antarkelompok terkait membedah kasus siswa. Sepertinya semua guru memiliki pemikiran yang sama bahwa dalam menerapkan budaya positif tersebut, guru bisa saja menemukan lebih dari satu kebutuhan dasar pada siswa dan cara guru memberikan restitusi juga bisa dengan menggabungkan beberapa teori kontrol.

Setelah saya mempelajari budaya positif, saya merasa sering melakukan kesalahan dalam penerapan disiplin. Saya bukan tipe guru penghukum, tapi saya cenderung terlalu memberikan kebebasan kepada siswa tanpa aturan. Padahal, sebenarnya semua siswa harus memiliki keyakinan kelas atau keyakinan universal yang dijadikan pedoman untuk membentuk budaya positif. Saya juga terkadang sering memberikan siswa pada posisi bersalah meskipun maksudnya sebenarnya ingin melakukan perbaikan bukan ingin menyalahkan siswa. Tapi kadang pula saya merasa berhasil melakukan restitusi.

3) NOW WHAT? (Tindak lanjut dari peristiwa yang terjadi) 

Setelah saya mempelajari modul Budaya Positif, saya ingin melakukan perbaikan terkait penerapan disiplin positif di sekolah. Langkah-langkah yang akan saya lakukan adalah sebagai berikut:

  • Saya akan mengajak siswa membuat kesepakatan kelas. Sepertinya siswa akan mengungkapkan beberapa kesepakatan. hasil kesepakatan siswa tersebut dibuat keyakinan kelas dan keyakinan kelas tersebut ditempel di dinding kelas, agar setiap hari siswa membacanya.
  • Keyakinan kelas tersebut diperdalam melalui kegiatan kelompok, satu kelompok satu keyakinan, siswa diminta mengisi hal yang seharusnya tampak dan tidak seharusnya tampak, kemudian menuliskan rangkuman dalam bentuk Y-chart, terdengar, bentuk perilakunya, dan terlihat seperti apa.
  • Mengganti hukuman dengan konsekuensi agar keyakinan atau peraturan yang sudah dibuat terinternalisasi pada diri siswa. Penghargaan atau iming-iming hadiah ternyata tidak menumbuhkan karakter tapi sifatnya temporar. Oleh karena itu, cara yang efektif menumbuhkan kesadaran dengan pembiasaan dan keyakinan
  • Jika siswa yang melanggar aturan dikembalikan pada keyakina kelas atau restitusi.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jurnal Refleksi Ke-24

Jurnal Refleksi Ke-24 (13 Juni s.d 18 Juni 2022) Model 5: Connection, challenge, concept, change (4C) Pada Minggu ini saya melakukan Pendapi...