REFLEKSI KRITIS PEMIKIRAN KI HAJAR DEWANTARA
Saya merasa bangga memiliki sosok Bapak Pendidikan seperti Ki Hajar Dewantara. Semua pemikiran beliau tentang pendidikan dan pengajaran sudah sesuai dengan karakteristik bangsa. Pendidikan menurut Ki Hajar adalah proses membantu anak berkembang maksimal sesuai kodrat dan potensi yang dimilikinya baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat agar mencapai kebahagiaan setinggi-tingginya. Pendidikan yang memanusiakan manusia dan memerdekakan lahir dan batin. Ketika seorang Individu merasakan dirinya ditempatkan sebagai manusia. Bisa merdeka lahir dan batinnya tanpa tekanan, tentu individu tersebut akan berkembang lebih pesat. Pengajaran yang merupakan bagian dari pendidikan juga mengajarkan anak pengetahuan dan keterampilan agar bermanfaat bagi kehidupan lahir dan batin.
Pemikiran Ki Hajar Dewantara sebenarnya sudah tercermin dalam tujuan pendidikan di Indonesia saat ini, apalagi dengan adanya konsep merdeka belajar, saya pikir pendidikan di Indonesia sudah sejalan dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara. Akan tetapi dalam pelaksanaannya, saya justru menemukan pendidikan di Indonesia masih mencari jati diri. Secara normatif, semua program yang dijalankan sudah sangat baik. Akan tetapi, dalam pelaksanaanya apalagi jika sudah menjadi kebijakan di tingkat “bawah”, terlihat masih kebingungan mengaplikasikan tujuan pendidikan yang dikehendaki.
Sebagai guru, selama ini saya berupaya menyajikan pembelajaran yang bisa membuat siswa bahagia dan senang. Saya berupaya menumbuhkan potensi setiap anak yang berbeda-beda. Semua anak seperti apa pun mereka, harus diberi pendekatan yang berbeda. Saya berupaya untuk mendukung mereka, dan tidak sekali-kali mematahkan harapan mereka ketika sedang belajar. Istilahnya, saya berupaya menjadi pemandu sorak bagi siswa yang memang dasarnya sudah baik, berprestasi. Tapi saya juga berupaya menjadi motivator bagi mereka yang merasa kurang percaya diri agar mereka bisa meyakini bahwa mereka memiliki kelebihan. Saya juga memahami konsep multiple intelegen yang dikemukakan Howard Gardner, bahawa semua anak cerdas, hanya berbeda pendekatan gaya belajar.
Akan tetapi, di dalam praktiknya saya juga sering dibuat bingung tentang cara “mendidik” dan “mengajar” anak didik saya. Contohnya, di masa pandemi, semua guru memberikan tugas dengan berbagai cara dan menggunakan beragam teknologi. Siswa dengan potensi diri sudah bagus dan latar belakang keluarga yang perhatian, tentu tidak perlu mendapatkan bimbingan yang intensif. Motivasi belajar sudah tumbuh dalam diri mereka sendiri. Akan tetapi, bagi siswa lain yang tidak mendapatkan perhatian orang tua, tidak memiliki fasilitas, akhirnya guru lebih sering seperti penagih utang, ketika meminta tugas. Saya mulai berpikir, “Apa ini yang diharapkan pendidikan?” Ketika saya mencoba Home Visit dengan menggunakan sistem belajar kelompok menurut wilayah terdekat siswa, saya baru merasakan posisi seperti siswa-siswa saya. Sepulang dari rumah mereka, saya menitikkan air mata. Kesimpulan yang saya dapatkan, “Anak-anak itu hanya butuh bimbingan”
Saya berharap, setelah saya mengikuti program CGP dan belajar lebih intensif tentang pemikiran Ki Hajar Dewantara ini, saya mendapatkan pencerahan dan dapat memahami secara lebih holistic penerapan filosofi Ki Hajar Dewantara dalam pembelajaran. Saya jadi lebih bisa merancang pembelajaran yang berpihak pada siswa dan bisa bermanfaat bagi mereka kelak di masa yang akan datang dan tentu saja membuat mereka bahagia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar