Kamis, 16 Juni 2022

3.2.a.4.2. Forum Diskusi Eksplorasi Konsep - Pemimpin dalam Pembelajaran

 

3.2.a.4.2. Forum Diskusi Eksplorasi Konsep - Pemimpin dalam Pembelajaran


Studi Kasus 1

Ibu Lilin adalah salah satu guru di SMP favorit yang selalu diincar oleh para orang tua.  Sekolah tersebut juga selalu menduduki peringkat I rerata perolehan nilai UN. Murid-murid begitu kompetitif memperoleh nilai ulangan dan prestasi lainnya, dan dalam keseharian proses belajar mengajar, murid terlihat sangat patuh dan tertib. Bahkan, ada yang bergurau bahwa murid di sekolah favorit tersebut tetap antusias belajar meskipun jam kosong. 

Keadaan berubah semenjak regulasi PPDB Zonasi digulirkan.  Ibu Lilin mulai sering marah-marah di kelas karena karakter dan tingkat kepandaian murid-muridnya yang heterogen.  Sering terdengar, meja guru digebrak oleh Ibu Lilin karena kondisi kelas yang susah dikendalikan. Apalagi, jika murid-murid tidak kunjung paham terhadap materi pelajaran yang Ibu Lilin jelaskan.  Seringkali, begitu keluar dari kelas, raut muka Ibu Lilin merah padam dan kelelahan.  Suatu hari, ada laporan berupa foto dari layar telepon genggam yang menunjukkan tulisan tentang Ibu Lilin menjadi bulan-bulanan murid-murid di grup WhatsApp

Beberapa murid dipanggil oleh Guru BK.  Ibu Lilin juga berada di ruang konseling saat itu, beliau marah besar dan tidak terima penghinaan yang dilontarkan lewat pesan WA murid-muridnya. Bahkan, beliau memboikot, tidak akan mengajar jika murid-murid yang terlibat pembicaraan tersebut tidak dikeluarkan dari sekolah. Kasus tersebut terdengar pula oleh guru-guru sekolah non favorit. “Saya mah sudah biasa menghadapi murid nakal dan bebal.” Kata Bu Siti, yang mengajar di sekolah non favorit. 


Pertanyaan
Bagaimana Anda melihat kasus Ibu Lilin ini?
Hubungkan dengan segala aspek yang bisa didiskusikan dari materi modul ini, apa yang akan Anda lakukan apabila Anda sebagai Kepala Sekolah.

Jawaban Studi Kasus 1: Saya melihat kasus Bu Lilin ini merupakan kasus yang menggunakan pendekatan berbasis permasalahan. Bu lilin hanya fokus pada hal yang menjadi masalah dan kekurangan murid-muridnya karena terlalu membandingkan dengan tipe murid-murid pada masa sebelumnya ketika belum ada sistem zonasi. Oleh karena itu bu Lilin pun dalam menyelesaikan masalah masih dengan pola lama seperti menghadapi murid dengan karakterisistik yang seoerti dulu. Di samping itu bu Lilin tidak menerapkan growth mindset/ berpikir secara terbuka bahwa situasi berubah dan segala hal akan berubah dan harus disikapi dengan cara yang berbeda.

Jika saya menjadi kepala sekolah, saya akan memanggil bu Lilin dan meminta Bu Lilin menyampaikan hal yang mengganggunya dalam kegiatan belajar mengajar. Kemudian saya akan menyampaikan bahwa bu Lilin adalah guru potensial yang memiliki kelebihan diantaranya semangat dalam mengajar dan kondisi yang dihadapi bu Lilin sebenarnya merupakan sebuah tantangan bagi bu Lilin untuk lebih mengeksplorasi kemampuannya dalam menangani anak-anak yang heterogen. jika selama ini bu lilin berhasil menghadapi anak-anak homogen, kali ini bu Lilin memiliki tantangan baru untuk menemukan metode dan cara mengajar yang efektif di kelas Heterogen.

Saya pun akan mengadakan rapat dinas terkait perubahan zonasi saya akan melakukan diskusi bersama guru-guru dengan pendekatan pengembangan komunitas berbasis aset. Saya akan mencoba membawa guru-guru untuk mendata aset/ kekuatan yang dimiliki sekolah dalam situasi baru dan mencari cara mengembangkan kekuatan tersebut untuk kemajuan sekolah.  

Pak Pupur, guru yang dicintai para muridnya. Cara mengajarnya hebat, ramah, dan menyayangi murid layaknya anak sendiri.  Suatu ketika, Dinas Pendidikan daerah membuka lowongan pengawas sekolah. Kepala Sekolah merekomendasi Pak Pupur untuk mendaftar seleksi calon pengawas sekolah. Kepala sekolah memilih Pak Pupur untuk mengikuti seleksi karena selain berkualitas, dewan gurupun begitu antusias mendukung Pak Pupur  mengikuti seleksi calon pengawas sekolah. 

Secara portofolio, penghargaan kejuaraan perlombaan guru, karya alat peraga berbahan limbah yang Pak Pupur ikuti selalu bisa sampai mendapatkan penghargaan lomba tingkat nasional. Kecerdasannya pun juga luar biasa di mana nilai Uji Kompetensi Gurunya (UKG) bisa mencapai nilai 90, Namun, Pak Pupur justru merasa sedih direkomendasikan kepala sekolahnya mengikuti seleksi calon pengawas sekolah.


Pertanyaan
Bagaimana pendapat Anda mengenai sikap Pupur?
Apabila Anda sebagai Kepala Sekolah, apa yang bisa Anda lakukan?

Jawaban Studi Kasus 2: Menurut Saya sikap Pak Pupur ini belum bisa saya mengerti. Jadi harus dicari tahu terlebih dahulu alasan dibalik  kesedihan Pak Pupur ketika diajukan menjadi pengawas sekolah padahal beliau sangat memenuhi syarat untuk menjadi seorang pengawas sekolah. 

Jika saya menjadi kepala sekolah saya akan melakukan pendekatan kepada Pak Pupur alasan kesedihannya ketika diminta menjadi pengawas sekolah. Setelah tahu alasannya saya dapat memutuskan apa yang terbaik buat Pak Pupur. Jika alasan pak Pupur bukan hal yang esensi misalnya menyangkut nyawa seseorang atau mengganggu kehidupan pribadi pak Pur barangkali saya akan memaklumi kesedihannya. Akan tetapi, jika bukan, saya akan memberikan motivasi bahwa kekuatan yang ada di dalam diri pak Pupur sama manfaatnya dengan yang diberikan kepada murid ketika nanti menjadi pengawas. Saya akan mencoba mengajak pak Pur mengidentifikasi kekuatan yang dimilkinya, dan hal apa yang bisa dilakukannya ketika menjadi seorang pengawas untuk kemajuan sekolah. Misalnya kemmapuan Pak Pupur bisa ditranfer kepada guru-guru ;ain dari berbagi sekolah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jurnal Refleksi Ke-24

Jurnal Refleksi Ke-24 (13 Juni s.d 18 Juni 2022) Model 5: Connection, challenge, concept, change (4C) Pada Minggu ini saya melakukan Pendapi...