Kamis, 16 Juni 2022

3.3.a.10.1. Forum Berbagi Aksi Nyata - Pengelolaan Program yang Berdampak pada Murid

 

3.3.a.10.1. Forum Berbagi Aksi Nyata - Pengelolaan Program yang Berdampak pada Murid

Gemar Sasalaman (Gerakan Mari Membaca Satu Hari Satu Halaman) 

di SMP Negeri 2 Cililin

Gemar Sasalaman (Gerakan Mari membaca Satu Halaman) merupakan slogan Gerakan Literasi Sekolah di SMP Negeri 2 Cililin. Program ini merupakan program kokurikuler yang sudah dibuat sejak tahun 2018. Program ini dibuat dengan harapan bahwa kegemaran membaca pada murid dan juga seluruh warga sekolah akan meningkat dan membaca pun menjadi sebuah budaya positif yang ada di sekolah. Harapannya sederhana, cukup hanya dengan membaca satu hari satu halaman. Sebuah upaya ‘memaksakan’ hal positif dimulai dengan hanya satu hari satu halaman.

Akan tetapi, budaya positif Gemar Sasalaman ini belum terwujud meskipun kegiatan GLS (Gerakan Literasi Sekolah) di SMP Negeri 2 Cililin sudah berkembang dibandingkan sejak awal mula didirikannya. Diantaranya sekolah kami sudah mendapatkan 3 penghargaan berturut-turut selam 2 tahun sebagai salah satu sekolah inspiratif karena mampu meloloskan sekitar 30 siswa mengikuti Tantangan Membaca Bandung Barat dan berhasil membuat 2 Antologi buku karya guru dan murid dan 1 penghargaan sebagai sekolah inovatif karena mampu mengikuti tantangan juga membuat konten kreator selama tiga bulan sebanyak 6 konten.

Saya juga melihat perkembangan murid dalam membaca buku. Pada awal mula saya mendirikan program ini, banyak murid masih asing dengan buku. Hanya ada 1 atau 2 murid yang memiliki kegemaran membaca dan mereka sekarang sudah mahasiswa dan akhirnya mengikuti jejak saya mengambil jurusan bahasa Indonesia. Saya masih ingat ketika saya membawa satu kantong buku-buku bacaan dari rumah untuk mereka baca. Hal itu masih terasa asing. Akan tetapi sekarang, banyak murid yang membawa buku bacaan kemana-mana. Mereka mengenal sejumlah pengarang muda Indonesia dan mereka pun tidak asing dengan buku. Meskipun, kegiatan membaca pun meningkat ketika program TMBB berjalan. Anak-anak dan juga guru masih melakukan aktivitas membaca karena tuntutan bukan kesadaran akan pentingnya membaca buku.

Semua orang tentu sudah sepakat bahwa membaca buku itu penting. Salah satu nilai pentingnya bahwa kemampuan literasi itu menjadi dasar bagi semua orang dalam memahami dan mengolah informasi secara tepat, juga dapat meningkatkan kemampuan bernalar kritis serta problem solving di dlama kehidupan. Tapi, terkadang bahan buku bacaan yang tidak ada atau tidak begitu variatif. Sedangkan membeli buku pun masih dianggap sebagai hal mewah yang belum menjadi prioritas. Hal tersebut menjadi salah satu tantangan terhambatnya program ini. Bahkan, pengadaan buku di perpustakaan sekolah pun masih terbatas pada buku-buku paket atau buku pesanan dari penerbit yang sudah terbiasa bekerjasama. Apalagi saat di masa pandemi. Program ini pun menjadi banyak terhambat. Akan tetapi, hal tersebut tidak menyurutkan semangat untuk terus mewujudkan program Gemar Sasalaman Ini. 

Saat pandemik hal yang saya lakukan adalah mengenalkan tentang pentingnya literasi membaca dan menulis dalam acara PPDB. Saya pun menyampaikan materi pada peserta didik baru melalui zoom meeting yang difasilitasi oleh panitia PPDB. Berikut PPT Materi yang saya sampaikan.

https://docs.google.com/presentation/d/10-XC3WdIPiZtMQa9WQ7MN-EbzsUHj6sW/edit?usp=sharing&ouid=101934161242809160505&rtpof=true&sd=true

Langkah kedua, saya meminta kepada kurikulum agar program membaca Gemar Sasalaman ini dimasukkan tiap hari pada jadwal sebelum jam pertama dimulai. Akan tetapi, kurikulum hanya mengizinkan dilaksanakannya hanya satu hari saja yaitu pada hari Kamis karena hari lainnya untuk program kegiatan lainnya. Saya pun membuat program Kamis Manis Membaca. Saya mengundang semua siswa dari berbagai tingkatan untuk masuk grup WA Literasi. Di grup saya umumkan bahwa siswa diahruskan membaca satu hari satu halaman (Minimal) dan dilaporkan setiap kamis. Lalu setiap kamis membagikan pengumuman tentang membaca. 

Berikut contoh pengumumam yang saya bagikan di grup WA. Dan contoh siswa membaca di rumah.


Setiap kamis juga saya meminta mereka mengisi laporan membaca menggunakan google formulir. Ini adalah contoh laporannya.


Saya juga meminta beberapa siswa (Sukarela) untuk menyampaikan hasil reviu dalam bentuk video dan mengupload di YT sekolah. Ini salah satu contoh video reviu buku yang disampaikan siswa.

https://youtu.be/tGrV-jtBr6M

Hasil dari laporan membaca kemudian  saya rekap dari laporan spreedsheet google classroom. Setiap siswa yang aktif mengikuti kegiatan membaca sebelum pembelajaran dimulai saya berikan sertifikat sebagai bukti penghargaan untuk mereka. Berikut contoh hasil rekap membaca di spreeadsheet dan contoh sertifikat siswa.


Di samping kegiatan rutin yang dilakukan untuk semua warga sekolah, saya juga bersama TIM Literasi membimbing beberapa siswa yang mengikuti Tantangan Membaca Bandung Barat. Program ini hanya khusus bagi 32 siswa dan 9 guru di sekolah saya. Adapun beberapa kegiatan yang dilakukan TMBB: 1. Membaca 3 buku setiap bulan, 2. Membuat reviu dan diupload ke Medsos Sekolah, 3. Menulis artikel/puisi/cerpen dan dibukukukan. 4. Mengupload konten kreatif di YT sekolah. 
Berikut Ini dokumentasi kegiatan Gemar Sasalaman melalui program TMBB
Laporan Reviu Buku di Medsos

Contoh membuat konten Kreatif di Youtobe
Setelah melewati masa 3 bulan, kami pun mendapatkan predikat sekolah Inovatif dan juga membuat satu antologi cerpen, "Menepis Resah dari Gerbang Sekolah"


Ketika berupaya mewujudkan program Gemar Sasalaman saya bersemangat. Akan tetapi, ketika program itu hanya dijalankan sendiri atau beberapa orang saja memang terasa kurang maksimal. Banyak hal yang sudah direancanakan menjadi keteteran. Akan tetapi, saya tetap merasa bahagia karena program bisa berjalan meskipun tujuan utama untuk membiasakan membaca sehari satu halaman belum tercapai secara maksimal.
Saya menemukan bahwa di dalam menggerakan sebuah program, sebagus apa pun jika kita hanya bekerja sendirian hasilnya tidak akan maksimal. Di dalam mengelola program yang berdampak pada murid, kata kuncinya adalah KOLABORASI. Oleh karena itu, bagi seorang pemimpin pembelajaran di dalam mengelola program yang berdampak pada murid hal yang paling utama yang bisa dilakukan adalah keterampilan untuk mengelola sebuah TIM, menggerakan sebuah TIM dan membangun kolaborasi yang solid. Itu hal yang tidak mudah dilakukan. Butuh pengalaman dan bahkan kadang mungkin bisa saja trial and errorItu juga yang saya alami. Saya pernah mencoba membangun kolaborasi dengan banyak pihak di dalam menggerakkan literasi. Akan tetapi, TIM pun bubar dan berjatuhan. Akhirnya, saya lakukan seorang diri dengan segenap kemampuan saya. Hasilnya tetap tidak maskimal dri 40 siswa yang saya bimbing, hanya 25 orang yang lolos tantangan membaca. 
Saya evaluasi lagi, ya ternyata saya memang tidak begitu pandai mengelola sebuah TIM. Kemudian setelah saya menggandeng pemegang kebijakan dan orang yang memilki otoritas pada bidangnya masing-masing baru semuanya berjalan dengan lebih lancar dan lebih baik. Di samping itu, seorang pemimpin pembelajaran sepertinya harus dapat mengenali potensi dari setiap anggota TIM dan menempatkan mereka sesuai dengan potensinya. Berikan kepercayaan pada orang tersebut untuk mengeluarkan semua ide, pemikiran, dan segala kemampuanya. Seorang pemimpin pembelajaran itu bukan seseorang yang serba pintar sendiri, bukan pula seorang yang paling berkuasa. Tapi seseorang yang mampu menggerakan orang lain sesuai potensinya untuk tujuan bersama. Saya rasa saya pun baru bisa memikirkannya. di dalam praktiknya tentu masih harus terus belajar dan belajar.
Kedepannya, semua program harus lebih banyak melibatkan kepemimpinan murid sehingga murid merasa lebih memiliki terhadap program yang akan dijalankan. Saya rasa semua program yang sudah dilakukan tersebut sudah bagus dan  bisa dilakukan kembali dengan pengelolaan yang lebih baik. Sama seperti seorang guru mengajar. Mengelola pembelajaran lebih sulit daripada menguasai materi ajar itu sendiri. Mengenai detil pengelolaannya perlu didiskusikan kembali bersama pemangku kebijakan,rekan guru, rekan tim lterasi, orang tua dan juga murid.  





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jurnal Refleksi Ke-24

Jurnal Refleksi Ke-24 (13 Juni s.d 18 Juni 2022) Model 5: Connection, challenge, concept, change (4C) Pada Minggu ini saya melakukan Pendapi...