Sabtu, 18 Juni 2022

Jurnal Refleksi Ke-24

Jurnal Refleksi Ke-24

(13 Juni s.d 18 Juni 2022)

Model 5: Connection, challenge, concept, change (4C)

Pada Minggu ini saya melakukan Pendapingan Individu dengan pengajar praktik, elaborasi dengan mendengarkan penjelasan dari narasumber, membuat koneksi antarmateri, melakukan aksi nyata, mengerjakan postes dan mengikuti Lokakarya ke 6

Connection: Apa keterkaitan materi yang didapat dengan peran Anda sebagai Calon Guru Penggerak? 

Materi yang ditanyakan Pengajar Praktik tentang pemetaan sumber daya, refleksi peemtaan sumber daya dan juga refleksi pengambilan keputusan. Materi ini juga sama dengan yang disampaikan di dalam lokakarya kami diminta menggali potensi sumber daya pada masing-masing sekolah teman sesama CGP. Adapun di dalam LMS saya mempelajari ketrakaitan materi pengelolaan program untuk murid dengan materi sebelumnya dan aksi nyata perwujudan dari konseksi materi yang saya buat. Kemudian semua pemahaman saya dalam modul ini di akhiri dengan Posttest. Di dalam lokakarya saya mendapatkan ilmu tentang bagaimana merencanakan program dengan 4 langkah yaitu: INPUT, AKTIVITAS, OUTPUT, OUTCAME. dan juga belajar tentang aspek monitoring dan evaluasi

Materi-materi tersebut tentu saja sangat relevan dengan peran saya sebagai calon guru penggerak. Saya mencoba membuat sebuah program berdasarkan hasil dari pemetaan aset yang ada di sekolah dan saya juga akan mengambil beberapa keputusan dalam melaksanakan program saya. Hal tersebut  menjadi lebih terasa terarah setelah saya mendapatkan serangkaian materi dari PP, Instruktur, dan juga dari kegiatan di LMS oleh Fasilitator. Sebagai calon penggerak saya rasa materi-materi tersebut bisa menjadi bekal untuk saya dalam mengelola program yang berdampak bagi murid. Saya sangat terinspirasi dengan materi yang disampaikan dalam Lokakarya, saya jadi lebih paham bahwa ketika membuat program. Perencanaan seperti 4 langkah itu penting dan sangat membantu dan saya juga tahu rincian yang bisa saya persiapkan untuk kesuksesan program. Hal yang paling saya ingat juga tentang pentingnya kepemimpinan murid.

Challenge: Adakah ide, materi atau pendapat dari narasumber yang berbeda dari praktik yang Anda jalankan selama ini? 

Ada beberapa diantaranya saya belum melibatkan kepemimpinan murid secara maksimal di dalam pengelolaan program dan saya juga tidak menerapkan berdasarkan langkah BAGJA atau berbasis kekuatan aset dan saya juga belum menerapkan cara perencanaan program dengan 4 langkah juga belum menyusun secara detil langkah dan instrumen evaluasi dan monitoring. Berdasarkan materi yang saya dapatkan dari semua narasumber saya simpulkan saya mendapatkan banyak ilmu baru untuk diterapkan setelah menjadi seorang guru penggerak

Concept: Ceritakan konsep-konsep utama yang Anda pelajari dan menurut Anda penting untuk terus dibawa selama menjadi Calon Guru Penggerak atau bahkan setelah menjadi Guru Penggerak?

  1. Pengelolaan program yang berdampak pada murid diidentifikasi berdasarkan pemetaan aset
  2. Pengelolaan program melibatkan kepemimpinan murid (voice, choice, dan kepemilikan)
  3. Kepemimpinan  murid bukan membebaskan sepenuhnya tapi memberikan dorongan agar mereka dapat menentukan sendiri proses dan cara mereka belajar dan memperoleh pengalaman belajar
  4. Sebelum meluncurkan program buat murid dianalisis dulu apa OUTCAME yang ingin dicapai. lalu rinci input, aktivitas, output dan manajemen resikonya. Lalu rencanakan juga monitoring dan evaluasi juga Instrumen untuk monitoring dan evaluasi

 Change: Apa perubahan dalam diri Anda yang ingin Anda lakukan setelah mendapatkan materi pada hari ini?

Perubahan di dalam diri saya yang paling terasa adalah semangat ingin mengaplikasikan program yang sudah pernah saya buat tapi kurang maksimal. Sebelum mendapat materi ini saya sudah ingin melepas program ini karena merasa lelah tanpa hasil maksimal dan sesuai harapan. Akan tetapi, setelah mendapatkan materi dan saya dapatkan hal hal baru seperti mendapatkan kembali amunisi untuk melakukannya kembali dengan semangat baru ilmu baru dan tindakan baru. Saya juga berpikir sebenarnya yang saya lakukan dulu merupakan aset dan kekuatan yang sudah saya bangun hanya sekarang tinggal melanjutkan dan mengasahnya lagi menjadi lebih baik.

 






Jurnal Refleksi Ke-23

Jurnal Refleksi Ke-23 

Pengelolaan Program yang Berdampak Pada Murid

Senin, 6 Juni 2022- Jumat 10 Juni 2022



Model 2: Description, Examination and Articulation of Learning (DEAL) 

- Description: Deskripsikan pengalaman yang dialami dengan menceritakan unsur 5W1H (apa, siapa, di mana, kapan, mengapa, bagaimana)

Pada Minggu ini masih di dalam materi Pengelolaan Program yang berdampak pada murid, saya melakukan aktivitas ruang kolaborasi berdiskusi pada hari Senin, 6 Juni 2022 dengan anggota kelompok 2 di kelas Ibu Ruhaniyyah. Saya bersama Pak Adhiyatnika Geusan Ulun dan Bu Nining berdiskusi tentang program yang berdampak pada murid dan ternyata kami bertiga sama-sama memilki program gerakan literasi sekolah . Oleh karena itu, hal itulah yang kami angkat di dalam bahan presentasi besok harinya. Kami memberi judul program Gemar Sasalaman (Gerakan Mari Membaca Satu Halaman)

Pada hari Selasa, 7 Juni 2022 kami pun melakuakan ruang kolaborasi presentasi. Di kelompok kami presentasi dilakukan oleh Pak Adhyatnika dan saya sebagai penjawab dan Bu Nining sebagai penanya. 

Hal yang tidak kami sadari, ternyata hari itu adalah ruang terakhir kolaborasi. Saya merasa sangat sedih dan ada rasa kehilanbermaknagan. Hal itu juga yang membuat saya dan teman saya mencoba mengubah sebuah lagu secara spontan untuk Bu Ruhaniyyah fasilitator kami. 

Pada hari Rabu- Jumat, 8-10 Saya menegerjakan Demonstrasi Kontekstual. Saya membuat program yang sama dengan kelompok karena hal itu sudah bagus menurut syaa, tinggal saya melaksanakannya agar lebih maksimal.  

- Examination: Analisis pengalaman tersebut dengan membandingkannya terhadap tujuan/rencana yang telah dibuat sebelumnya; 

Program Gemar Sasalaman yang kami buat sudah diapaprkan oleh Pak Adi di ruang kolaborasi. Ada hal baru dibandingkan dengan yang saya buat sebelumnya, Pak Adi melakuaknnya dengan pendekatan BAGJA. Saya dapat belajar untuk melakukan hal tersebut juga. Saya biasanya membuat program sebatas proposal saja dan baru sedikit keterlibatan kepemimpinan murid. Akan tetapi, di dalam kegiatan pengelolaan program yang berdampak pada murid ini dilakukan secara lebih rinci. Dilakukan berdasarkan aset kekuatan yang dimilki. Kemudian program lebih memerhatikan kepemimpinan murid dari suara, pilihan, dan pemilikan. 

- Articulation of Learning: Jelaskan hal yang dipelajari dan rencana untuk perbaikan di masa mendatang.

Pengalaman selama presentasi berjalan sangat baik. Saya mendaptkan Inspirasi dari kelompk lainnya. Saya melihat kelompok 1 sangat detil dalam menyampaikan program sesuai dengan arahan LMS tidak ada hal yang tetlewat sedikit pun. Program yang digulirkan pun sangat bagus dan menarik Outing Class. Kelompok 3 pun sangat jelas dalam memaparkan programnya dan sangat terlihat kepemimpinan muridnya terutama bagian voice, choice, dan kepemilikan. Full Inspirasi. 

Saya mendapatkan pelajaran berharga dari bu Ruhani tentang pengelolaan kelas/ cara memfasilitasi kelas dengan menyenangkan dan : 1. Awali dengan sapaan, 2. Buat games sederhana, 3. Presentasikan tujuan, alur kegitan, dan kesepakatan kelas, 4. Aktivitas berdiskusi, 5 Presentasi dan Umpan balik, 5 Doa, 6. Jangan lupa akhiri dengan pantun. Bu Ruhani melakukannya dengan konsisten. Saya pun akan mencoba menerapkan hal itu di dalam pembelajaran di kelas. Saya sering melakuakn games dll tapi saya kurang kosisnten jadi anak tidak mendapatkan pengalaman yang utuh.

Kamis, 16 Juni 2022

Jurnal Refleksi ke-21

Jurnal Refleksi ke-21 (Senin 23 Juni- Jumat 27 Juni 2022)



Jurnal Refleksi Minggu ke-20

Jurnal Refleksi Minggu Ke-20

(9 Mei s.d 20 Mei 2021)

Senin, 9 Mei 2021, 

Pada Minggu ini saya mulai mengerjakan Modul 3.2 tentang Pemimpin Pembelajaran dalam Pengelolaan Sumber Daya. Seperti biasa pada awal modul diawali dengan kegiatan  alur Merrdeka dengan bagian Mulai  dari diri sendiri. Pada bagian ini, saya mencoba menjawab tujuh pertanyaan terkait pemimpin pembelajaran sebagai pengelola sumber daya. Ketujuh pertanyaan tersebut mencoba merefleksikan pengetahuan awal saya tentang materi pada modul. 3.2. 

Saya merefleksikan tentang sosok pemimpin pembelajaran yang ideal menurut pandangan saya dan belajar menjadi seorang pemimpin dari beberapa pimpinan yang pernah saya rasakan. Saya menuliskan bahwa Pemimpin yang ideal menurut saya adalah pemimpin yang memiliki visi yang jelas, kemudian program kerja yang jelas dan transparan sehingga semua guru dapat merasakan keterlibatan dalam pembangunan sekolah,program kerja yang didasarkan pada kekuatan sekolah tersebut, menempatkan orang sesuai dengan potensi yang tepat, sering memberikan pengharagaan sekecil apa pun meskipun hanya berupa kata-kata terimakasih atau berupa pengakuan akan kinerja guru, dan memperhatikan kesejahteraan bawahannya. Selalu mengevaluasi program kerja yang sudah dilakukan, terbuka pada masukan dan reflektif.

Ketika saya merefleksikan hal tersebut, rasanya masih relatif mudah jika berbicara teori. Saya memandang sosok pemimpin dari "luar" dan rasanya saya tahu hal yang seharusnya dilakukan oleh seorang pemimpin pembelajaran. Akan tetapi, jika saya membayangkan menjadi seorang sosok pemimpin, saya kira memimpin sebuah komunitas, sebuah sekolah lebih rumit dari hal yang saya bayangkan. Akan tetapi, Saya berharap setelah mengikuti modul selanjutnya, saya lebih memahami dan bisa lebih percaya diri di dalam melakukan peran sebagai pemimpin pembelajaran dalam mengelola sumber daya

Selasa-Kamis, 10-12 Mei 2022

Pada hari ini saya menjelajah eksplorasi konsep tentang pemimpin pembelajaran sebagai pengelola sumber daya. Hal-hal yang saya temukan dan saya pelajari pada bagian ini adalah:

1. Sekolah sebagai ekosistem yang di dalamnya memuat faktor biotik dan abiotik

2. Pengembangan komunitas berbasis  Aset

3. Mengenal 7 Kekutaan aset yang dimiliki sekolah

4. Mengenal beberapa contoh kasus dalam kegiatan di sekolah yang didasarkan pada kekuatan aset yang dimiliki sekolah

Pada bagian Eksplorasi Konsep Forum Diskusi saya tertarik dengan kasus yang diberikan karena kita dilatih untuk menjadi seorang kepala sekolah di dalam mengambil keputusan. Jawaban saya terhadap kasus tersebut dapat dilihat di dalam tautan berikut.

https://emadamayanti29.blogspot.com/2022/06/32a42-forum-diskusi-eksplorasi-konsep.html

Setelah mempelajari materi di dalam eksplorasi konsep ini, saya menjadi berlatih untuk melihat sebuah kekuatan aset yang dimiliki oleh sekolah. Sebelum mendapatkan materi ini, saya dan juga rekan-rekan di sekolah selalu membahas hal yang terjadi di sekolah dari sudut permasalahan atau kekurangan yang belum dicapai bahkan di dalam program penjamin mutu sekolah pun yang kita lihat dan kita bahasa adalah nilai paling kecil dari mutu sekolah atau hal yang belum bisa kami lakukan. Setelah memahami materi ini, saya pikir akan sangat masuk akal jika kita lebih fokus mengembangkan hal yang menjadi kekuatan di sekolah daripada mencoba menambal sulam kelemahan dan mencoba memenuhi target sementara yang lain yang sudah baik pun bisa saja malah terabaikan.

Saya rasa materi ini sangat bagus apalagi jika diterapkan oleh seorang pemimpin pembelajaran dalam mengelola aset sekolah. Dengan berbasis kekuatan aset, tentu idealnya kemajuan sekolah akan lebih fokus dan lebih berkembang.

Jumat dan Selasa, 13 Mei dan 17 Mei 2022

Pada hari ruang kolaborasi, Ibu saya masuk ke Rumah Sakit dan saya betul-betul tidak bisa fokus mengikuti ruang kolaborasi berdiskusi kelompok bersama Pak Adhyatnika Guesan Ulun dan Bu Nining Sariningsih tentang 7 Aset Kekuatan di Cililin-Cipongkor. Saya sempat bisa memberikan masukan tapi tetap tidak bisa fokus. Saya pun akhirnya membaca secara mandiri di rumah. Pada saat presentasi pun, Ibu saya masih di RS dan saat itu sedang repot-repotnya sehingga tidak bisa memberikan tanggapan secara maksimal. 

Rabu- Jumat ,18 Mei-20 Mei 2022

Karena saya kuang bisa maksimal saat mengikuti ruang kolaborasi, saya mempelajari sendiri materinya dan menyampaikan hasil refleksi saya terkait materi pemetaan aset dan menuangkan hasil pengetahuan saya di dalam kegiatan Demontsrasi Kontekstual. Sebelum saya membuat pemetaan 7 aset, saya terlebih dahulua mengamati, mewawancarai kepala sekolah, beberapa rekan guru, pihak kurikulum, kesiswaan, bendahara BOS, operator sekolah, siswa dan pengelola koperasi sekolah. Sayang, saya belum sempat mewawancarai masyarakat di lingkungan sekolah. Saya menyimpulkan bahwa dulu sebelum paham materi ini, saya selalu melihat keurangan yang ada di sekolah tempat saya bekerja. Pola itu sulit sekali diubah, akhirnya ketika saya wawncara tentang kekutan aset kepada rekan guru lain, rekan guru pun harus berpikir lama untuk menemukan aset dan bahkan tidak bisa menjawabnya. Saya pikir, materi ini bisa mengubah Mind set semua orang, agar selalu positif thinking dalam menghadapi berbagai situasi dan kondisi. Jika sudah terbiasa berpikir positif akan mudah menemukan kekuatan dari setiap aset yang dimilki sekolah tempat kita bekerja.

Kedepannya, saya ingin terus belajar berpikir berbasi kekuatan aset baik di dalam kehidupan saya pribadi atau pun di dlam pekerjaan saya. Saya pikir pola pikir semacam ini akan lebih membuat kita maju dan berkembang.


3.2.a.4.2. Forum Diskusi Eksplorasi Konsep - Pemimpin dalam Pembelajaran

 

3.2.a.4.2. Forum Diskusi Eksplorasi Konsep - Pemimpin dalam Pembelajaran


Studi Kasus 1

Ibu Lilin adalah salah satu guru di SMP favorit yang selalu diincar oleh para orang tua.  Sekolah tersebut juga selalu menduduki peringkat I rerata perolehan nilai UN. Murid-murid begitu kompetitif memperoleh nilai ulangan dan prestasi lainnya, dan dalam keseharian proses belajar mengajar, murid terlihat sangat patuh dan tertib. Bahkan, ada yang bergurau bahwa murid di sekolah favorit tersebut tetap antusias belajar meskipun jam kosong. 

Keadaan berubah semenjak regulasi PPDB Zonasi digulirkan.  Ibu Lilin mulai sering marah-marah di kelas karena karakter dan tingkat kepandaian murid-muridnya yang heterogen.  Sering terdengar, meja guru digebrak oleh Ibu Lilin karena kondisi kelas yang susah dikendalikan. Apalagi, jika murid-murid tidak kunjung paham terhadap materi pelajaran yang Ibu Lilin jelaskan.  Seringkali, begitu keluar dari kelas, raut muka Ibu Lilin merah padam dan kelelahan.  Suatu hari, ada laporan berupa foto dari layar telepon genggam yang menunjukkan tulisan tentang Ibu Lilin menjadi bulan-bulanan murid-murid di grup WhatsApp

Beberapa murid dipanggil oleh Guru BK.  Ibu Lilin juga berada di ruang konseling saat itu, beliau marah besar dan tidak terima penghinaan yang dilontarkan lewat pesan WA murid-muridnya. Bahkan, beliau memboikot, tidak akan mengajar jika murid-murid yang terlibat pembicaraan tersebut tidak dikeluarkan dari sekolah. Kasus tersebut terdengar pula oleh guru-guru sekolah non favorit. “Saya mah sudah biasa menghadapi murid nakal dan bebal.” Kata Bu Siti, yang mengajar di sekolah non favorit. 


Pertanyaan
Bagaimana Anda melihat kasus Ibu Lilin ini?
Hubungkan dengan segala aspek yang bisa didiskusikan dari materi modul ini, apa yang akan Anda lakukan apabila Anda sebagai Kepala Sekolah.

Jawaban Studi Kasus 1: Saya melihat kasus Bu Lilin ini merupakan kasus yang menggunakan pendekatan berbasis permasalahan. Bu lilin hanya fokus pada hal yang menjadi masalah dan kekurangan murid-muridnya karena terlalu membandingkan dengan tipe murid-murid pada masa sebelumnya ketika belum ada sistem zonasi. Oleh karena itu bu Lilin pun dalam menyelesaikan masalah masih dengan pola lama seperti menghadapi murid dengan karakterisistik yang seoerti dulu. Di samping itu bu Lilin tidak menerapkan growth mindset/ berpikir secara terbuka bahwa situasi berubah dan segala hal akan berubah dan harus disikapi dengan cara yang berbeda.

Jika saya menjadi kepala sekolah, saya akan memanggil bu Lilin dan meminta Bu Lilin menyampaikan hal yang mengganggunya dalam kegiatan belajar mengajar. Kemudian saya akan menyampaikan bahwa bu Lilin adalah guru potensial yang memiliki kelebihan diantaranya semangat dalam mengajar dan kondisi yang dihadapi bu Lilin sebenarnya merupakan sebuah tantangan bagi bu Lilin untuk lebih mengeksplorasi kemampuannya dalam menangani anak-anak yang heterogen. jika selama ini bu lilin berhasil menghadapi anak-anak homogen, kali ini bu Lilin memiliki tantangan baru untuk menemukan metode dan cara mengajar yang efektif di kelas Heterogen.

Saya pun akan mengadakan rapat dinas terkait perubahan zonasi saya akan melakukan diskusi bersama guru-guru dengan pendekatan pengembangan komunitas berbasis aset. Saya akan mencoba membawa guru-guru untuk mendata aset/ kekuatan yang dimiliki sekolah dalam situasi baru dan mencari cara mengembangkan kekuatan tersebut untuk kemajuan sekolah.  

Pak Pupur, guru yang dicintai para muridnya. Cara mengajarnya hebat, ramah, dan menyayangi murid layaknya anak sendiri.  Suatu ketika, Dinas Pendidikan daerah membuka lowongan pengawas sekolah. Kepala Sekolah merekomendasi Pak Pupur untuk mendaftar seleksi calon pengawas sekolah. Kepala sekolah memilih Pak Pupur untuk mengikuti seleksi karena selain berkualitas, dewan gurupun begitu antusias mendukung Pak Pupur  mengikuti seleksi calon pengawas sekolah. 

Secara portofolio, penghargaan kejuaraan perlombaan guru, karya alat peraga berbahan limbah yang Pak Pupur ikuti selalu bisa sampai mendapatkan penghargaan lomba tingkat nasional. Kecerdasannya pun juga luar biasa di mana nilai Uji Kompetensi Gurunya (UKG) bisa mencapai nilai 90, Namun, Pak Pupur justru merasa sedih direkomendasikan kepala sekolahnya mengikuti seleksi calon pengawas sekolah.


Pertanyaan
Bagaimana pendapat Anda mengenai sikap Pupur?
Apabila Anda sebagai Kepala Sekolah, apa yang bisa Anda lakukan?

Jawaban Studi Kasus 2: Menurut Saya sikap Pak Pupur ini belum bisa saya mengerti. Jadi harus dicari tahu terlebih dahulu alasan dibalik  kesedihan Pak Pupur ketika diajukan menjadi pengawas sekolah padahal beliau sangat memenuhi syarat untuk menjadi seorang pengawas sekolah. 

Jika saya menjadi kepala sekolah saya akan melakukan pendekatan kepada Pak Pupur alasan kesedihannya ketika diminta menjadi pengawas sekolah. Setelah tahu alasannya saya dapat memutuskan apa yang terbaik buat Pak Pupur. Jika alasan pak Pupur bukan hal yang esensi misalnya menyangkut nyawa seseorang atau mengganggu kehidupan pribadi pak Pur barangkali saya akan memaklumi kesedihannya. Akan tetapi, jika bukan, saya akan memberikan motivasi bahwa kekuatan yang ada di dalam diri pak Pupur sama manfaatnya dengan yang diberikan kepada murid ketika nanti menjadi pengawas. Saya akan mencoba mengajak pak Pur mengidentifikasi kekuatan yang dimilkinya, dan hal apa yang bisa dilakukannya ketika menjadi seorang pengawas untuk kemajuan sekolah. Misalnya kemmapuan Pak Pupur bisa ditranfer kepada guru-guru ;ain dari berbagi sekolah.

3.3.a.10.1. Forum Berbagi Aksi Nyata - Pengelolaan Program yang Berdampak pada Murid

 

3.3.a.10.1. Forum Berbagi Aksi Nyata - Pengelolaan Program yang Berdampak pada Murid

Gemar Sasalaman (Gerakan Mari Membaca Satu Hari Satu Halaman) 

di SMP Negeri 2 Cililin

Gemar Sasalaman (Gerakan Mari membaca Satu Halaman) merupakan slogan Gerakan Literasi Sekolah di SMP Negeri 2 Cililin. Program ini merupakan program kokurikuler yang sudah dibuat sejak tahun 2018. Program ini dibuat dengan harapan bahwa kegemaran membaca pada murid dan juga seluruh warga sekolah akan meningkat dan membaca pun menjadi sebuah budaya positif yang ada di sekolah. Harapannya sederhana, cukup hanya dengan membaca satu hari satu halaman. Sebuah upaya ‘memaksakan’ hal positif dimulai dengan hanya satu hari satu halaman.

Akan tetapi, budaya positif Gemar Sasalaman ini belum terwujud meskipun kegiatan GLS (Gerakan Literasi Sekolah) di SMP Negeri 2 Cililin sudah berkembang dibandingkan sejak awal mula didirikannya. Diantaranya sekolah kami sudah mendapatkan 3 penghargaan berturut-turut selam 2 tahun sebagai salah satu sekolah inspiratif karena mampu meloloskan sekitar 30 siswa mengikuti Tantangan Membaca Bandung Barat dan berhasil membuat 2 Antologi buku karya guru dan murid dan 1 penghargaan sebagai sekolah inovatif karena mampu mengikuti tantangan juga membuat konten kreator selama tiga bulan sebanyak 6 konten.

Saya juga melihat perkembangan murid dalam membaca buku. Pada awal mula saya mendirikan program ini, banyak murid masih asing dengan buku. Hanya ada 1 atau 2 murid yang memiliki kegemaran membaca dan mereka sekarang sudah mahasiswa dan akhirnya mengikuti jejak saya mengambil jurusan bahasa Indonesia. Saya masih ingat ketika saya membawa satu kantong buku-buku bacaan dari rumah untuk mereka baca. Hal itu masih terasa asing. Akan tetapi sekarang, banyak murid yang membawa buku bacaan kemana-mana. Mereka mengenal sejumlah pengarang muda Indonesia dan mereka pun tidak asing dengan buku. Meskipun, kegiatan membaca pun meningkat ketika program TMBB berjalan. Anak-anak dan juga guru masih melakukan aktivitas membaca karena tuntutan bukan kesadaran akan pentingnya membaca buku.

Semua orang tentu sudah sepakat bahwa membaca buku itu penting. Salah satu nilai pentingnya bahwa kemampuan literasi itu menjadi dasar bagi semua orang dalam memahami dan mengolah informasi secara tepat, juga dapat meningkatkan kemampuan bernalar kritis serta problem solving di dlama kehidupan. Tapi, terkadang bahan buku bacaan yang tidak ada atau tidak begitu variatif. Sedangkan membeli buku pun masih dianggap sebagai hal mewah yang belum menjadi prioritas. Hal tersebut menjadi salah satu tantangan terhambatnya program ini. Bahkan, pengadaan buku di perpustakaan sekolah pun masih terbatas pada buku-buku paket atau buku pesanan dari penerbit yang sudah terbiasa bekerjasama. Apalagi saat di masa pandemi. Program ini pun menjadi banyak terhambat. Akan tetapi, hal tersebut tidak menyurutkan semangat untuk terus mewujudkan program Gemar Sasalaman Ini. 

Saat pandemik hal yang saya lakukan adalah mengenalkan tentang pentingnya literasi membaca dan menulis dalam acara PPDB. Saya pun menyampaikan materi pada peserta didik baru melalui zoom meeting yang difasilitasi oleh panitia PPDB. Berikut PPT Materi yang saya sampaikan.

https://docs.google.com/presentation/d/10-XC3WdIPiZtMQa9WQ7MN-EbzsUHj6sW/edit?usp=sharing&ouid=101934161242809160505&rtpof=true&sd=true

Langkah kedua, saya meminta kepada kurikulum agar program membaca Gemar Sasalaman ini dimasukkan tiap hari pada jadwal sebelum jam pertama dimulai. Akan tetapi, kurikulum hanya mengizinkan dilaksanakannya hanya satu hari saja yaitu pada hari Kamis karena hari lainnya untuk program kegiatan lainnya. Saya pun membuat program Kamis Manis Membaca. Saya mengundang semua siswa dari berbagai tingkatan untuk masuk grup WA Literasi. Di grup saya umumkan bahwa siswa diahruskan membaca satu hari satu halaman (Minimal) dan dilaporkan setiap kamis. Lalu setiap kamis membagikan pengumuman tentang membaca. 

Berikut contoh pengumumam yang saya bagikan di grup WA. Dan contoh siswa membaca di rumah.


Setiap kamis juga saya meminta mereka mengisi laporan membaca menggunakan google formulir. Ini adalah contoh laporannya.


Saya juga meminta beberapa siswa (Sukarela) untuk menyampaikan hasil reviu dalam bentuk video dan mengupload di YT sekolah. Ini salah satu contoh video reviu buku yang disampaikan siswa.

https://youtu.be/tGrV-jtBr6M

Hasil dari laporan membaca kemudian  saya rekap dari laporan spreedsheet google classroom. Setiap siswa yang aktif mengikuti kegiatan membaca sebelum pembelajaran dimulai saya berikan sertifikat sebagai bukti penghargaan untuk mereka. Berikut contoh hasil rekap membaca di spreeadsheet dan contoh sertifikat siswa.


Di samping kegiatan rutin yang dilakukan untuk semua warga sekolah, saya juga bersama TIM Literasi membimbing beberapa siswa yang mengikuti Tantangan Membaca Bandung Barat. Program ini hanya khusus bagi 32 siswa dan 9 guru di sekolah saya. Adapun beberapa kegiatan yang dilakukan TMBB: 1. Membaca 3 buku setiap bulan, 2. Membuat reviu dan diupload ke Medsos Sekolah, 3. Menulis artikel/puisi/cerpen dan dibukukukan. 4. Mengupload konten kreatif di YT sekolah. 
Berikut Ini dokumentasi kegiatan Gemar Sasalaman melalui program TMBB
Laporan Reviu Buku di Medsos

Contoh membuat konten Kreatif di Youtobe
Setelah melewati masa 3 bulan, kami pun mendapatkan predikat sekolah Inovatif dan juga membuat satu antologi cerpen, "Menepis Resah dari Gerbang Sekolah"


Ketika berupaya mewujudkan program Gemar Sasalaman saya bersemangat. Akan tetapi, ketika program itu hanya dijalankan sendiri atau beberapa orang saja memang terasa kurang maksimal. Banyak hal yang sudah direancanakan menjadi keteteran. Akan tetapi, saya tetap merasa bahagia karena program bisa berjalan meskipun tujuan utama untuk membiasakan membaca sehari satu halaman belum tercapai secara maksimal.
Saya menemukan bahwa di dalam menggerakan sebuah program, sebagus apa pun jika kita hanya bekerja sendirian hasilnya tidak akan maksimal. Di dalam mengelola program yang berdampak pada murid, kata kuncinya adalah KOLABORASI. Oleh karena itu, bagi seorang pemimpin pembelajaran di dalam mengelola program yang berdampak pada murid hal yang paling utama yang bisa dilakukan adalah keterampilan untuk mengelola sebuah TIM, menggerakan sebuah TIM dan membangun kolaborasi yang solid. Itu hal yang tidak mudah dilakukan. Butuh pengalaman dan bahkan kadang mungkin bisa saja trial and errorItu juga yang saya alami. Saya pernah mencoba membangun kolaborasi dengan banyak pihak di dalam menggerakkan literasi. Akan tetapi, TIM pun bubar dan berjatuhan. Akhirnya, saya lakukan seorang diri dengan segenap kemampuan saya. Hasilnya tetap tidak maskimal dri 40 siswa yang saya bimbing, hanya 25 orang yang lolos tantangan membaca. 
Saya evaluasi lagi, ya ternyata saya memang tidak begitu pandai mengelola sebuah TIM. Kemudian setelah saya menggandeng pemegang kebijakan dan orang yang memilki otoritas pada bidangnya masing-masing baru semuanya berjalan dengan lebih lancar dan lebih baik. Di samping itu, seorang pemimpin pembelajaran sepertinya harus dapat mengenali potensi dari setiap anggota TIM dan menempatkan mereka sesuai dengan potensinya. Berikan kepercayaan pada orang tersebut untuk mengeluarkan semua ide, pemikiran, dan segala kemampuanya. Seorang pemimpin pembelajaran itu bukan seseorang yang serba pintar sendiri, bukan pula seorang yang paling berkuasa. Tapi seseorang yang mampu menggerakan orang lain sesuai potensinya untuk tujuan bersama. Saya rasa saya pun baru bisa memikirkannya. di dalam praktiknya tentu masih harus terus belajar dan belajar.
Kedepannya, semua program harus lebih banyak melibatkan kepemimpinan murid sehingga murid merasa lebih memiliki terhadap program yang akan dijalankan. Saya rasa semua program yang sudah dilakukan tersebut sudah bagus dan  bisa dilakukan kembali dengan pengelolaan yang lebih baik. Sama seperti seorang guru mengajar. Mengelola pembelajaran lebih sulit daripada menguasai materi ajar itu sendiri. Mengenai detil pengelolaannya perlu didiskusikan kembali bersama pemangku kebijakan,rekan guru, rekan tim lterasi, orang tua dan juga murid.  





Rabu, 01 Juni 2022

Jurnal Refleksi Minggu Ke-19

 Jurnal Refleksi Minggu Ke-19

(18 April 2022-26 April 2022) 

18 April 2022, Refleksi Terbimbing Asinkron

Pada tahap ini, saya diminta memilih 4 pertanyaan dari 8 pertanyaan tentang materi pengambilan keputusan. Jawaban dari pertanyaan tersebut merupakan hasil refleksi saya terhadap pemahaman materi. Saya menjawab pertanyaan no 1, 4, 5, dan 7. Pertanyaan pemandu dalam refleksi terbimbing adalah sebagai berikut.

  1. Bagaimana/sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Adakah hal-hal yang menurut Anda di luar dugaan?
  2. Tuliskan pengalaman Anda dalam menggunakan ketiga materi tersebut dalam proses Anda mengambil keputusan dalam situasi dilema etika yang Anda hadapi selama ini.  Anda dapat juga menulis tentang sebuah situasi dilema etika yang dihadapi oleh orang lain serta keputusan yang diambil. Berilah ulasan berdasarkan 3 materi yang telah Anda pelajari di modul ini.
  3. Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran dalam situasi moral dilema? Kalau pernah, apa bedanya dengan apa yang Anda pelajari di modul ini?
  4. Bagaimana dampak mempelajari materi ini buat Anda, perubahan  apa yang terjadi pada cara Anda dalam mengambil keputusan sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran modul ini?
  5. Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi Anda sebagai seorang individu dan Anda sebagai seorang pemimpin pembelajaran?
  6. Apa yang Anda bisa lakukan untuk membuat dampak/perbedaan di lingkungan Anda setelah Anda mempelajari modul ini?
  7. Selain konsep-konsep tersebut, adakah hal-hal lain yang menurut Anda penting untuk dipelajari dalam proses pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran?
  8. Adakah nilai-nilai kebajikan yang ditanamkan oleh orangtua anda atau bahkan kakek nenek buyut Anda yang menjadi karakter khas suku atau masyarakat dimana Anda tinggal? Bagaimana Anda sebagai seorang guru akan menggunakannya untuk membantu Anda dalam pengambilan keputusan?
Perasaan saya saat menjawab pertanyaan agak sedikit kesulitan. Meskipun, jawabannya merupakan hasil refleksi penerapan saya dalam mengambil keputusan. Akan tetapi, saya merasa kurang banyak pengalaman di dalam mengambil keputusan karena mungkin saya tidak pernah berada di posisi sebagai pemegang kebijakan. Atau saya sudah lupa dengan berbagai peristiwa di kelas yang saya ampu dan cara saya mengambil keputusan sudah tidak teringat lagi.

Pembelajaran yang saya dapatkan adalah bahwa setiap kita dihadapkan pada situasi dilema etika sepertinya keputusan yang diambil pun tidak begitu fatal jika memilih salah satu nilai meski keputusan yang diambil kurang tepat tapi pasti ada alasannya. Akan tetapi, hal yang paling memberatkan yaitu ketika dihadapkan pada praktik beragam bujukan moral yang seringkali sudah menjadi tradisi dan terasa benarnya apalagi jika dilakukan oleh orang banyak. Nah, keluar dari situasi ini tentu yang paling menyulitkan.

Kedepannya, saya merasa lebih percaya diri saja di dalam mengambil keputusan terkait dilema etika karena sudah melalui beberapa langkah cara pengambilan keputusan yang sudah saya pelajari.

19 April 2022, Demonstrasi Kontekstual

Pada saat kegiatan Demonstrasi kontekstual saya membuat sebuah video monolog menjawab pertanyaan di bawah ini:

Panduan Pertanyaan/Guiding Questions:

  • Bagaimana Anda nanti akan mentransfer dan menerapkan pengetahuan yang Anda dapatkan di program guru penggerak ini di sekolah/lingkungan asal Anda?
  • Apa langkah-langkah awal yang akan Anda lakukan untuk memulai mengambil keputusan berdasarkan pemimpin pembelajaran?
  • Mulai kapan Anda akan menerapkan langkah-langkah tersebut, hari ini, besok, minggu depan, hari apa? Catat rencana Anda, sehingga Anda tidak lupa.
  • Siapa yang akan menjadi pendamping Anda, dalam menjalankan pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran? Seseorang yang akan menjadi teman diskusi Anda untuk menentukan apakah langkah-langkah yang Anda ambil telah tepat dan efektif.
Saya tidak memperhatikan waktunya hingga video yang saya buat kelebihan waktu. Padahal sudah saya baca berulang-ulang perintahnya. Akan tetapi, tetap saya tidak fokus pada hal tersebut.

Berikut Cuplikan video monolog yang saya buat di Youtoube


pembelajaran dari kegiatan ini adalah saya belajar mengambil keputusan terkait permasalahan nyata yang saya hadapi dan hal tersebut cukup menyenangkan karena bisa lebih percaya diri did dalam mengambil keputusan.

Pelajaran yang saya ambil dari kegiatan ini sekaligus hal yang akan saya perbaiki kedepannya adalah, saya harus lebih teliti lagi dalam membaca petunjuk tugas dan akan memastikan ulang jika tugas memang sudah dikerjakan sesuai petunjuk.

22 April 2022 Elaborasi Pemahaman Sesi Instruktur

Pada tahap ini, tugasnya adalah mengajukan pertanyaan terkait materi pengambilan keputusan yang belum saya pahami. Saya mengajukan 5 pertanyaan dan berharap pertanyaan saya ini mendapatkan jawabannya dari Instruktur.

Kemudian saya mengikuti sesi elaborasi pemahaamn dengan instruktur 

Kegiatan Web Meeting dengan Instruktur

Nama Instruktur : Warih Wijayanti
Tanggal : 22 April 2022
Waktu : Sesi 2 (15.30-17.00 WIB)

Setelah saya mengikuti sesi bersama instruktur, saya lebih memahami tentang cara pengambilan keputusan jika kita dihadapakan pada situasi dilema etika. Ternyata, hal yang ingin saya tanyakan sudah diwakili oleh teman-teman saya dan kita memang memiliki permasalahan yang sama. Hal yang paling mengganjal dalam pikiran saya yaitu tentang banyaknya praktik bujukan moral yang dilakukan di lingkungan sekolah. hal tersebut ternyata dialami teman saya juga. Tindakan yang bisa saya lakukan adalah dengan mepertimbangkan nilai keyakinan saya. Jika bertentangan dengan nilai keyainanan saya, saya pun tidak akan mengikutinya tetapi jika sudah secara sistem kita harus mengikutinya, saya ikuti tetapi memakai strategi lain di dalam penerapannya. Itu yang diajarkan instruktur.

Saya menyukai sesi elaborasi dengan instruktur karena selalu mendapatkan hal baru ketika mengikutinya. Sayangnya kadang, akhir-akhir ini wifi di rumah kurang stabil jadi sering terlempar keluar saat mengikutinya. 

Pembelajaran yang saya dapatkan, ternyata menjadi seorang pemimpin pembelajaran itu tidak mudah. Dulu, saya pikir ketika kita ikuti aturan yang berlaku semuanya selesai. Akan tetapi, banyak hal yang perlu kita pertimbangkan. Jika kita terlalu kaku mengikuti aturan yang berlaku terkadang juga hasil putusan yang kita ambil tidak cukup bijak. Tapi, jika terlalu longgar dan abai dengan segala perautan juga akhirnya kita menjadi seorang pemimpin yang tidak memberikan contoh yang baik bagi sekitarnya. Ya, seperti pada pembelajaran terdahulu dalam materi pembelajaran berdiferensiasi. Di dalam memahami kesiapan belajar siswa diibaratkan seperti menekan tombol equalizer pada stereo atau pemutar CD. Untuk mendapatkan keputusan yang terbaik, perlu menggeser-geser "tombol equalizer" agar mendapatkan  hasil yang pas.begitu juga menjadi seorang pemimpin pembelajaran, harus seperti menggunakan tombol equalizer, mencari cara yang tepat dan bijak untuk kemaslahatan banyak pihak.

25 April 2022 Koneksi AntarMateri

Tahap koneksi materi merupakan tahap yang paling saya sukai. Pada bagian ini, saya dapat mengeksplorasi segala pengetahuan yang sudah saya dapatkan dalam bentuk artikel. Saya merasakan titik puncak pemahaman saya secara holistik ada pada tahap koneksi materi. Berikut ini tulisan saya di kompasiana sekaligus sebagi tugas pada tahap ini.

https://www.kompasiana.com/emadamayanti4252/6264cb07bb44864c767838d9/cara-guru-mengambil-keputusan-sebagai-pemimpin-pembelajaran?source_from=notification_activity

Pembelajaran yang saya dapatkan dari kegiatan ini, saya merasa sudah sangat memahami materi tetapi ketika posttest tetapi seringkali salah memilih. Jadi sepertinya, tidak boleh berhenti belajar dan terus berlatih menerapkan pengetahuan yang sudah didapatkan di sekolah

26 April 2022 Aksi Nyata

Aksi nyata yang saya lakukan dapat dilihat di link berikut ini

https://emadamayanti29.blogspot.com/2022/05/31a10-aksi-nyata-praktik-menjadi.html

Setelah melakukan aksi nyata saya rasanya lebih percaya diri dalam mengambil keputusan. Awalnya, jika dihadapkan pada sebuah permasalahan, saya serig merasa tidak yakin terhadap keputusan yang saya buat. Akan tetapi, setelah mendapatkan materi ini, kepercayaan diri saya tumbuh dan kedepannya, saya akan terus belajar mempraktikan materi dalam mengambil keputusan ini dnegan lebih smenagat dan melakukan refleksi setelahnya.

Jurnal Refleksi Ke-24

Jurnal Refleksi Ke-24 (13 Juni s.d 18 Juni 2022) Model 5: Connection, challenge, concept, change (4C) Pada Minggu ini saya melakukan Pendapi...